Dunia IslamFeatured

Raja Ampat Bukan Sekadar Tempat Wisata

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alamnya, dari sabang sampai merauke berjajaran pulau-pulau. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pemerintah Umum, Indonesia tercatat memiliki 17.504 pulau dan 16.056 pulau yang ada telah memiliki nama baku di PBB. Jumlah yang banyak bukan, dari berbagai pulau yang ada itu menyimpan panorama keindahan yang dimilikinya. Sebut saja raja ampat. Siapakah yang tak mengenal raja ampat, jangankan masyarakat Indonesia, seluruh dunia pun telah mengetahui keindahan alam dari pulau yang terletak di Timur Indonesia ini.

Terlintas dalam pikiran kita, sebuah tempat yang memberikan suguhan indah berupa pemandangan laut yang membiru, terumbu karang yang tersusun rapi, ikan-ikan hiyu yang berenang dengan tenangnya, hutan yang menghijau dengan kicauan burung yang indah dan langit yang cerah membiru serta senja sore hari yang eksotis. Semua keindahan itu bukanlah hayalan dialam mimpi, semua itu nyata dan benar-benar ada, di Raja Ampatlah tempatnya.

Raja ampat sendiri merupakan sebuah nama kabupaten yang terletak di provinsi Papua Barat. Saat ini kepemimpinan kabupaten ini dipimpin oleh Bpk. H. Abdul Faris Umlati periode 2016 – 2020. Sebelumnya, kabupaten ini masih dibawa pemerintahan kota sorong, berbagai macam urusan administrasi pada saat itu tentu masih bergantung pada pemerintah kota sorong. Kemudian berdasarkan UU Nomor 26 tahun 2002/LN Nomor 129 Tahun 2002 dan pada tanggal 12 April 2003, Raja Ampat resmi menjadi kabupaten sendiri dengan Waisai sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Raja Ampat.

Untuk mencapai pulau ini, terlebih dahulu kita harus menginjakkan kaki kita ke kota sorong, naik kapal atau pun pesawat. Setelah sampai di sorong, kemudian berlayar menggunakan kapal yang tiap hari berlayar dua kali dalam sehari dari sorong ke raja ampat dengan waktu tempuh 2 – 3 jam perjalanan.

Raja ampat ini terdiri dari berbagai macam pulau-pulau dan empat pulau besar. Empat pulau besar tersebut adalah pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Dari pulau-pulau tersebutlah penyebaran penduduk raja ampat tersebar ke pulau-pulau kecil sekitar raja ampat yang rata-rata penduduknya sebagai nelayan. Sebagian besar wilayah di rata ampat terdiri dari perairan. Wilayah perairan adalah wilayah yang memiliki daya Tarik tersendiri bagi raja ampat, dan perairan raja ampat merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik diseluruh dunia. Penilaian tersebut berdasarkan penelitian flora dan fauna dan kelestarian alam yang di laut.
Badan konservasi internasional pernah menyebutkan bahwa perairan raja ampat memiliki sekitar 75% spesies laut seluruh dunia, memiliki 540 jenis karang, 1.511 spesies ikan dan ribuan biota laut lainnya. Maka tak heran raja ampat yang memiliki luas sekitar 4,6 juta hektar ini menjadi syurga bawah laut di sluruh dunia. Tidak hanya keindahan bawah laut nya, raja ampat juga memiliki banyak hal menarik di permukaan lautnya yang menggiurkan pandangan mata. Banyak sekali pantai-pantai yang indah tersebar disluruh kepulauan raja ampat ini. Selain itu, terdapat pulau-pulau yang membentuk deretan tebing yang elok dipandang. Beberapa tempat seperti Piaynemo, Teluk Kabui, dan Wayag telah terkenal hingga keseluruh dunia lebih dahulu mengenal sebelum dikenal di dalam negeri.

Pemandangan alam yang indah, kekayaan alam bawah laut dan pantai-pantai yang eksotis kelas dunia, hal ini lah yang menjadi daya Tarik Raja Ampat di mata dunia. Tak heran jika Raja Ampat menjadi tempat wisata dunia. Namun, ada hal yang hamper terlupakan di Raja Ampat, yakni sejarah kerajaan Islam. Peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan Islam pada masa itu sebagai bukti bahwa pulau ini pernah menjadi negeri muslim.

Jika kita menelusuri beberapa tempat di Raja Ampat, selain menjadi tempat wisata tempat-tempat tersebut juga menyuguhi penampilan bahwa jejak-jejak Islam pada saat itu benar-benar nyata, sejarah tersebut tak lepas dari sejarah masuknya islam ke tanah papua. Syiar islam di bumi papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah papua barat, mulau dari Raja Ampat hingga ke Fakfak (Hidayatullah.com). ada beberapa versi yang menceritakan masuknya islam di papua. Banyak sumber sejarah menyebutkan, masuknya islam di Papua berdasarkan sumber-sumber lisan dari masyarakat setempat. Versi papua, misalnya berdasarkan legenda masyarakat setempat, khususnya di Fakfak. Versi ini menyebutkan Islam bukanlah dibawa dari luar seperti Tidore atau pedagang Muslim, tetapi pulau papua sudah Islam sejak pulau Papua diciptakan oleh Allah. Versi ini tentu saja sulit untuk diterima, namun secara tersirat versi ini menandakan Islam di Papua telah menjadi kepercayaan yang menyatu dengan masyarakat setempat.

Versi lain yang dapat kita jadikan referensi adalah versih aceh. Versi ini berdasarkan sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang menyebutkan Syeikh Abdurrauf dari kesultanan Samudera Pasai mengirim tuan Syeikh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) tahun 1224 M. Namun versi ini juga perlu dipertimbangkan kembali, mengingat batu nisa Sultan pertama pasai, Malik As Shaleh di Pasai berangkat tahun 1297 M. artinya, abad ke 13 adalah masa awal-awal Kesultanan Pasai dan pada saat itu masih terkonsetrasi di Sumatra, karena pada saat itu wilayah Sumatra belum sepenuhnya memluk Islam.

Menurut tradisi lisan lainnya di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal aceh pada tahun 1360 – 1374 di Rumbati. Namun informasi lain menyebutkan AbdulGhafar dating ke Rumbati pada tahun 1502 M. Dimungkinkan Abdul Ghafar dating sekitar abad ke 16 an, bersamaan dengan masa keemasan kesultanan Ternate dan Tidore sebagai bandar jalur sutra dan meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi hingga papua.

Versi lain Islam masuk di Papua yaitu versi Arab. Versi ini menyebutkan bahwa Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syeikh Jubah Biru) dari Yaman sekitar abad 16. Hal ini sesuai dengan adanya Masjid Tunasgain yang dibangun sekitar tahun 1587, informasi lain menebutkan Syeikh Jubah Biru dating pada tahun 1420 M. Pendapat lain yang nampaknya lebih kuat, masuk nya islam di papua adalah melalui kesultanan Bacan (Maluku). Dimaulu sendiri terdapat empat Kesultanan yaitu Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). Syiar Islam oleh kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Raja Ampat dari kesultanan Bacan dapat dilihat dari nama-nama gelar kepulauan tersebut; satu, Kaicil Patra War bergelar Kumalo Gurabesi (Kapita Gurabesi) di pulau Waigeo. Dua, Kaicil Patra War bergelar Kapas Lolo di pulau Slawati. Tiga, Kaicil Patra Mustari bergelar Komalo Nagi di Misool. Empat, Kaicil Boki Lima Tera bergelar Komalo Boki Sailia di Puplau Seram. Istilah Kaici adalah gelar anak laki-laki Sultan Maluku. Yang menarik, nama pulau Salawati menurut masyarakat setempat diambil dari kata Shalawat.

Beberapa nama tempat di Raja Ampat yang merupakan pemberian dari Sultan Bacan, seperti Pulau Saonek Mounde (buang sauh di deoan), Teminanbuan (tebing dana air terbuang), War Samdin (air sembahyang), War Zum-zum ( penguasa atas sumur) dan masih banyak lagi. Nama-nama tersebut merupakan bukti tempat-temapat dan peninggalan Raja Bacan yang menjadi Raja-raja Islam dikepulauan Raja Ampat. Kesultanan Bacan diperkirakan menyebarkan Islam pada pertengahan abad ke 15 sampai abad ke 16 terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di kepualauan Raja Ampat, setelah para pemimpin Papua di Kepulauan tersebut mengunjungi Kesultanan Bacan tahun 1596.

Beberapa bukti peninggalan raja-raja islam seperti Masjid Hidayatullah di Saonek, masjid ini terletak di Jl, Hi Rafana yang memiliki luas tanah 12.588 meter per segi. Masjid ini dapat menampung 200 an jamaah. Madjid Hidayatullah Saonek dibangun kisaran tahun 1505 ketika itu Islam disebarkan oleh imam besar Habib Rafana yang kini diabadikan sebagai nama jalan menuju masjid tersebut. Selain masjid, terdapat 2 makam yang terbuat dari tembok setinggi 50 cm berbentuk persegi. Makam yang lain berukuran panjang 610 cm, lebar 340 cm, makam-makam yang lain berupa tumpukan batu yang disusun persegi panjang, namun belum ditemukan data sejarah secara pasti, karena nisan yang terbuat dari kayu yang telah rusak. Berdasarkan penduduk setempat, bahwa semua guru-guru agama yang dimakamkan berasal dari Tidore dan Ternate. Selain itu, terdapat juga makam suami istri yang diyakini sebagai tokoh yang menyebarkan ajaran Islam. Keunikan lainnya dari mulut gua tersebut bagian atasnya terdapat lafaz Allah berwarna putih yang tercetak alami di bebatuan yang terdapat di pulau Misool. Hal ini menunjukkan bahwa keindahan raja ampat bukan saja menyuguhkan keindahan alamnya, lebih dari pada itu, terdapat bukti-bukti peninggalan sejarah kerjaan Islam yang sampai saat ini masih dapat kita saksikan. Disini terdapat nilai-nilai perjuangan yang tunjukkan oleh para pendakwah Islam, yang tak kenal lelah danpantang menyerah dalam menyebarkan dakwah Islam sampai ke pelosok pulau, yang jika kita menugnjunginya perlu tenaga dan biaya yang ekstra.

Raja Ampat bukan saja sekedar tempat untuk berwisata yang sering dikunjungi oleh turis-turis asing. lebih dari itu kita dapat mengarungi sejarah perjuangan pembawa ajaran Islam yang penuh pengorbanan. Menjadi tugas generasi selanjutnya adalah mempertahankan nilai-nilai ajaran Islam dari pengaruh Hegemoni Barat dan perkembangan Zaman. Apalagi raja Ampat sebagai tempat wisata dunia, tentu rentan dengan pengaruh oleh budaya barat yang dibawa oleh para turis-turis asing. Semoga Raja Ampat bisa menjadi negeri yang dikuasai oleh umat Islam, terlindungi dari orang-orang yang merusak tatanan nilai yang telah dibangun sejak dahulu. Wallahu’alam.

Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0
mgid.com, 469747, DIRECT, d4c29acad76ce94f