Dunia Islam

Rahasia Pemberian dan Penolakan dari Allah

Oleh Sudono Syueb (Dosen Fikom Unitomo Surabaya dan Alumni Pesantren YTP Kertosono)

Sering sekali terjadi apa yang kita minta dari Allah Ar-Rozaq berkaitan dengan rezeki yang bersifat materi itu dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Misalnya, bagi yang cowok, minta dapat jodoh wanita cantik, terkabul. Yang cewek. Minta jodoh laki laki macho, diijabah. Selesai kuliah ingin dapat pekerjaan dengan gaji lumayan, terwujud begitu gampang.

Perlu dipahami, kalau Allah azza wa jalla memberi kita kesenangan hidup berupa sandang, pangan dan papan, atau berupa harta, wanita dan tahta, maka ada sesuatu yang bersifat immateriil ditahan oleh Allah Al Hadi, seperti taufiq, hidayah, iman, hikmah, taqwa, religiusitas dan lain lain yang bersifat spiritual rohaniah.

Sebaliknya, seolah-olah Allah Ar Rohman tidak memberi kita kesenangan dunia, bahkan sering kekurangan harta benda, akan tetapi Allah Al ‘Alim memberi kita ilmu, iman dan taqwa.

Dalam hal ini Syekh Ibnu Atho’illah As-Sakandari telah memberi tahu pada kita melalui Al Hikamnya;

Terkadang Allah memberimu kekayaan/kesenangan dunia, tetapi Allah menahan tidak memberimu perkara yang hakikatnya baik padamu (taufiq dan hidayah-Nya). dan terkadang Alloh menahan (tidak memberi) kamu dari kesenangan dunia tetapi pada hakikatnya memberikan kepadamu taufiq dan hidayah-Nya“.

Jadi, apabila Allah tidak memberi apa yang menjadi syahwat keinginanmu dan apa yang enak menurut perasaan nafsumu, hakikatnya itu adalah pemberian yang agung dari Allah, dan kamu dilepaskan dari apa yang menjadi kepentingan nafsumu. Sebaliknya walaupun kelihatannya itu sebagai pemberian dari Allah (dikabulkannya do’amu) pada hakikatnya itu sebagai penolakan dari Allah.

Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi berkata: “Jika ditahan (tidak diberi) permintaanmu maka hakikatnya engkau telah diberi, dan jika permintaanmu segera diberikan maka hakikatnya, telah ditolak dari sesuatu yang lebih besar. Karena itu utamakan tidak dapat dari pada dapat, dan sebaiknya hamba tidak memilih sendiri, tapi menyerahkan sepenuhnya kepada Allah yang menjadikannya dan yang mencukupi segala kebutuhannya”.

Apalagi pada saat permintaan dunia belum diijabah, lebih dulu datang musibah. Padahal belum terkabulnya doa doa kita itu bisa jadi merupakan ujian dari Allah seperti firman Allah sebagai berikut ini:

Dan sesungguhnya akan Kami berikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah, ayat 155)

Siapa orang yang sabar dalam firman-Nya itu? Orang yang sabar adalah:

(Yaitu) mereka yang apabila ditimpa musibah lalu berkata sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya (Allah) jugalah (tempat) kami kembali.” (Surah Al-Baqarah, ayat 156)

Dari teks surat di atas mengingatkan kita bahwa manusia dilahirkan untuk beribadah kepada-Nya dan janganlah membuat hal yang dilarang oleh-Nya maka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal baginya. Allah swt menganjurkan kita untuk berdoa yang mana tertera dalam surat Alquran.

Sesungguhnya Allah swt akan selalu mengabulkan permintaan hamba-Nya yang berdo’a dengan sungguh-sungguh.

Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’amu.” (QS. Al-Mu’min 40:60)

Ketahuilah bahwa ada dua kemungkinan mengapa Allah mengkabulkan permintaan hambanya.

Pertama, karena Dia cinta dan sayang terhadap hamba tersebut. Dan kedua, karena Allah murka terhadap orang tersebut.

Sesungguhnya apabila Allah murka terhadap seseorang, ada kalanya Allah akan menambah rezeki seseorang, meningkatkan derajatnya dan mengkabulkan permintaanya. Orang tersebut lalu akan menjadi lebih lalai dari Allah, akan terus tenggelam dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Akhirnya Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan lalai. Sehingga dia mati dalam keadaan buruk su’ul khatimah. Inilah yang dikatakan ulama sebagai istidraj.

Firman Allah dalam surah Al-An’am, ayat 44:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

Kadang-kadang kita juga bertanya mengapa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah  sedangkan kita banyak mengerjakan ibadah dan taat kepadaNya?

Ada dua kemungkinan. Pertama, Allah suka mendengar permintaan dari hamba-hambanya. Apabila Allah suka pada seseorang hamba, maka hamba tersebut diletakkannya dibawah rahmat dan perlindungannya. Allah juga akan menyimpan doa-doa hamba tersebut untuk hamba itu di hari dimana tiada guna harta dan anak. Itulah hari kiamat. Apabila tiada sesuatu yang dapat menyelamatkan hamba tersebut dari api neraka, maka ketika itu Allah akan menunjukkan kepada hamba tersebut segala doa-doanya dan ketika itu doa-doa tersebut akan dapat menyelamatkannya dari api neraka.

Dalam riwayat Aisyah r.a. berkata:
“Tidak ada seorang muslim yang berdo’a kepada Allah meminta sesuatu kemudian tidak muncul, kecuali Allah menangguhkannya untuk kesempatan lain di dunia, atau Allah menangguhkannya hingga hari kiamat nanti, kecuali ia tergesa-gesa dan putus asa”. Lalu Urwah bertanya:”Wahai Ummul Mukminin, bagaimana ia tergesa-gesa dan putus asa?” Aisyah menjawab:” Misalnya ia berdoa, lalu berkata aku sudah berdoa tapi tidak diberi, atau aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan”

Begitulah, betapa cinta dan kasih sayang Allah terhadap kita. Bukan karena Allah tidak mau memberi permintaan kita, tetapi Allah akan menyimpankannya untuk kita di hari kiamat kelak. Itulah doa-doa orang-orang solihin, orang-orang yang taat kepada Allah swt.

Kedua, doa tersebut tidak dikabulkan oleh Allah karena suatu sebab yang ada dalam diri kita. Misalnya kita meminta sesuatu kepada Allah tetapi kita tidak patuh perintahNya. Kita ingin Allah memberi sesuatu kepada kita, tetapi sangat tidak seimbang dengan apa yang kita telah lakukan untuk Allah, untuk Islam, untuk Rasulullah
Rasulullah SAW?

Sanggupkan kita lakukan seperti Bilal? Yang menahan siksaan karena keimananya kepada Allah? Sanggupkah kita lakukan seperti Sayidina Abu Bakar As-Siddiq? Yang menafkahkan seluruh hartanya untuk Islam? Sanggupkah kita lakukan seperti Imam Nawawi? Yang mengorbankan siang dan malamnya, yang mengorbankan kelazatan hidup di dunia ini, untuk menegakkan ilmu agama Islam? Tidakkah kita malu, meminta dari Tuhan tetapi kita tidak patuh perintah-perintahNya?

Memintalah kepada Allah, berdoalah kepada Allah. Tetapi dalam waktu yang sama kita juga berusaha bersungguh-sungguh untuk memenuhi perintah-perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait