Dunia IslamFeatured

Ustadz Rif’an Hariri: Qona’ah Sebagai Sistem Pengendalian Diri

Qona’ah ialah sikap rela menerima atau merasa cukup dengan apa yang didapat serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kekurangan yang berlebih-lebihan. Qona’ah muncul dalam kehidupan seseorang berupa sikap rela menerima keputusan Allah Swt. yang berlaku bagi dirinya. Sikap ini muncul bukan dari sikap pasif menunggu tanpa berbuat yang terbaik.” demikian kata ustadz Rif’an Hariri dalam kultumnya ba’da shalat Subuh di masjid Baitul Mahmud, Grya Bhayangkara, Masangan Kulon, Sukodono, Ahad (19/5).

Selanjutnya ustadz Rif’an Hariri menyampaikan, “Sikap ini muncul dari keyakinan yang kuat kepada Allah Swt. setelah berusaha sebaik mungkin. Orang yang memiliki sikap qona’ah sadar bahwa untuk mencapai suatu keinginan, harus dilakukan dengan usaha.”

Beliau melanjutkan, “Usaha yang dilakukan bukan sekedar berusaha tanpa perencanaan dan kesungguhan. Ketika hasil dari usaha tersebut belum sesuai dengan keinginan, orang yang qona’ah menerimanya dengan ikhlas, ridho, dan lapang dada. Misalnya, ketika sudah berusaha ternak ayam dengan sungguh-sungguh dan berdoa serta ber-tawakal kepada Allah Swt. Akan tetapi, hasil ternak kita tidak sesuai dengan keinginan. Kita harus menerimanya dengan ikhlas dan ridha.”

“Ketika kita sukses, kita tidak tamak, tidak rakus serta tidak sombong. Maka qona’ah itu adalah sebuah sistem pengendalian diri. Gagal tidak putus asa, sukses tidak tamak dan rakus.” imbuhnya.

Ustadz Rif’an Hariri juga memberikan kiat qona’ah, antara lain:

  • Merasa yakin bahwa rezeki itu telah dijanjikan oleh Allah, sebagaimana firman- Nya, dalam Surat Hud Ayat 6,

۞ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Di dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an oleh Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I menjelaskan:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak dan bernyawa, yang melata, merayap atau berjalan di muka bumi ini melainkan semuanya telah dijamin Allah rezekinya. Semua makhluk itu diberi naluri dan kemampuan untuk mencari rezeki sesuai dengan fitrah kejadiannya. Dia mengetahui tempat kediamanya ketika hidup di dunia dan mengetahui pula tempat penyimpanannya setelah mati. Semua itu sudah tertulis dan diatur serapi-rapinya dalam kitab yang nyata, yaitu lauh mahfudh.”

“Perihal perencanaan dan pelaksanaan dari seluruh ciptaan Allah swt. secara menyeluruh dan sempurna. Dan di antara kekuasaan Allah swt. lainnya adalah bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya dalam enam masa melalui proses penciptaan yang rapi dan teratur. Dan sebelum itu Dia menciptakan ‘arsy sebagai tempat bersemayam-Nya di atas air. Demikian itulah, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya, bekerja dengan jujur, ikhlas dan beraktivitas untuk kemaslahatan umat.”

“Mereka yang berbuat kebajikan akan mendapat imbalan pahala, sedang mereka yang berbuat kejahatan akan mendapatkan siksa. Jika engkau wahai nabi Muhammad, berkata kepada penduduk Makkah, ‘Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti setelah mati untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kalian ketika di dunia.’ Niscaya orang kafir itu akan berkata, ‘Apa yang kamu katakan ini hanyalah sihir yang nyata untuk menipu dan menakut-nakuti agar kami mudah percaya.’ “

  • Memandang harta bukan pada fisiknya tapi pada manfaatnya. Maka itu kita tidak boleh hanya fokus kuantitas harta tapi harus perhatikan juga manfaat dan keberkahannya. Kalau tidak berkah dan mengabaikan perintah Allah swt., kapan pun harta kita bisa dimusnahkan oleh Allah swt. Seperti kebunnya seorang petani yang dihancurkan Allah swt. Sebagamana firman-Nya dalam QS Al Waqiah ayat 63 – 67 berikut ini:

 أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ

(63) Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam?

 أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ

(64) Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?

لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ

(65) Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang.

 إِنَّا لَمُغْرَمُونَ

(66) Sambil berkata “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian,”

 بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

(67) Bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.”

Demikianlah ustadz Rif’an Hariri menyampaikan kultumnya. Wallahu A’lam Bishawab. (SS/Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close