Dunia IslamFeatured

PII dari Gerakan Militer ke Gerakan Entrepreneur

Oleh: Masykur (Ketua PW PII Papua Barat Periode 2017-2019)

Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah sebuah organisasi pelajar yang fokus pembinaannya pada masyarakat pelajar. Di mana pelajar di sini sebagai objek dan pada sisi lain sebagai subjek. Sejak dibangkitkannya PII pada tahun 1947 di Yogyakarta tepat 2 tahun pasca kemerdekaan Indonesia, PII telah banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional yang sampai hari ini masih dapat kita jumpai. Para tokoh yang lahir melalui rahim PII, memiliki corak yang berbeda-beda, ada yang concern pada bidang pendidikan (akademisi), keagamaan, trainer hingga pengusaha.

PII memiliki tujuan yakni “Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia.” Tujuan tersebut adalah tujuan yang mulia, namun jika tak diindahkan tujuan tersebut hanyalah bayangan fatamorgana, hanya menjadi angan-angan semata.

Jika kita lihat, tujuan PII mempunyai concern gerakan yakni pada gerakan pendidikan dan kebudayaan, dengan melihat kedua hal tersebut sesuai dengan pandangan alam Islam (Islamic World View), yakni pendidikan yang dibangun berdasarkan nilai-nilai tauhid (Ketuhanan). Atas dasar tersebut terciptalah masyarakat Islam yang mempunyai nilai-nilai tauhid yang kuat.

Dalam sejarahnya, PII terlibat dalam memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam serangan penjajahan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia pada Agresi Militer Belanda II. PII membentuk barisan tentara pelajar untuk andil berperang mempertahankan NKRI. Saat ini tentara pelajar kita kenal di PII sebagai Badan Otonom Brigade PII.

Sejarah ini mampu memberikan gambaran bahwa PII mampu menggerakan pelajar-pelajar Islam se-Indonesia turut serta dalam perjuangan mempertahankan NKRI. Pada saat itu pula banyak kader-kader PII yang gugur dalam medan juang. Perjuangan tersebut tentu tak bisa dianggap sebelah mata, PII memiliki peran yang sangat penting dalam memperjuangkan NKRI. Atas dasar itulah sang Jendral memberikan pujian yang luar biasa pada PII.

“Saya ucapkan banyak-banyak terimakasih untuk anak-anak ku PII, telah banyak pengorbanan yang telah kalian berikan, negara kita adalah negara baru didalamnya penuh onak dan duri…”

Pujian sekaligus fatwa tersebut, memberikan pesan bahwa PII harus terus berjuang mengawal kemerdekaan Indonesia. PII akan terus membina agar menjadi negara yang Jaya Indonesia. Hal ini sebagai wujud komitmen PII pada bangsa dan negara sebagaimana tertuang dalam salah satu Tri Komitmen PII yakni komitmen keindonesiaan.

Sebagai organisasi yang memiliki komitmen pada bangsa dan negara, tentu menjadi tugas PII dalam mengawal pembangunan dan perkembangan negara terutama dalam membangun manusia-manusia unggul untuk negara yang maju dengan memperhatikan perkembangan zaman baik dalam negeri maupun isu-isu Internasional.

Melihat perkembangan zaman saat ini, gerakan militer bukan lagi menjadi satu-satunya gerakan untuk memperkuat suatu negara ataupun untuk menyerang negara lain. Banyak gerakan yang dapat kita lakukan selain gerakan militer untuk memperkuat negara, salah satunya dengan gerakan pembangunan ekonomi. Perkembangan zaman yang semakin canggih dan cepat ini, tentu persoalan yang dihadapi suatu bangsa akan semakin kompleks, maka gerakan militer bukanlah menjadi satu-satunya gerakan untuk mempertahankan ketahanan suatu negara. Salah satu hal terpenting dalam pembangunan dan penguatan suatu negara adalah dalam aspek ekonomi.

Kita perlu bercermin pada sejarah nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wa sallam dalam membangun negara. Usai beliau membangun masjid dan menyiapkan pasukan perang (militer), hal yang menjadi perhatian Rasul juga adalah dalam aspek ekonomi yakni dengan mendirikan pasar di Madinah.

Pasar menjadi pusat perekonomian atau sebagai pusat bisnis masyarakat Madinah maupun bangsa Arab pada saat itu. Pasar dibangun bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidupa masyarakat, pasar juga didirikan sebagai penguat ekonomi untuk membantu menopang kekuatan dakwah Islam. Di mana para saudagar-saudagar kaya yang dimiliki umat Islam seperti Abu Bakar as-sidiq, Abdurrahman bin Auf, usman bin affan dan tentu masih banyak lagi. Mereka para sahabat adalah orang-orang kaya yang memiliki kekuatan ekonomi yang mumpuni sebagai penopang dana untuk penyebaran dan kekuatan dakwah Islam. Hal inipun yang dapat dibangun dan dikembangkan oleh PII sebagai organisasi dakwah pelajar, untuk menciptakan Entrepreneur muda yang menjadi basis penggeraknya adalah Pelajar.

Di era disrupsi saat ini, dengan perkembangan teknologi internet yang begitu pesat, komunikasi tak terbatas jarak dan waktu, semakin memudahakan manusia untuk menawarkan ataupun memperkenalkan suatu produk pada banyak orang dan tentunya lebih mengasyikan.

Perkembangan entrepreneur di Indonesia cukup meningkat. Rasio wirausaha di Indonesia sudah meningkat menjadi 7% dari total penduduk Indonesia (beritasatu.com), sementara menurut catatan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) jumlah pengusaha Indonesia meningkat dari yang sebelumnya hanya sebesar 1,67 5 menjadi 3,10% dari total jumlah penduduk Indonesia, sedangkan menurut para ahli apabila ingin suatu negara maju haruslah memiliki jumlah Entrepreneur minimal 4% dari jumlah penduduk yang ada. Dari persentasi entrepreneur Indonesia yang perlu didorong dan dikembangkan adalah para entrepreneur muda.

Perkembangan entrepreneur muda di Indonesia mulai terlihat di berbagai macam bidang, terutama dalam bidang fashion. Dengan kemampuan dan kreativitas anak-anak muda Indonesia dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, semakin memudahkan dan menarik anak-anak muda masa kini untuk menjadi seorang entrepreneur. Bila memanfaatkan jaringan media sosial (medsos) yang akrab dengan anak-anak muda masa kini, semakin memudahkan anak-anak muda masa kini untuk menjadi entrepreneur muda.

Perkembangan zaman saat ini tak menuntut kemungkinan bagi PII untuk mengembangkan gerakan entrepreneur muda bagi para pelajar-pekajar yang menjadi objek dakwah PII itu sendiri. Gerakan-gerakan tersebut dapat dikembangkan dalam kursus ataupun training yang dikembangkan sebagai wahana perekrutan kaderisasi PII. Hal ini adalah upaya yang memungkinkan untuk mengembangkan gerakan PII di era disrupsi saat ini, di mana pertumbuhan usia-usia produktif makin meningkat sedangkan ketersediaan lapangan kerja yang semakin kecil. Gerakan entrepreneur ini juga sebagai gerakan untuk membantu penguatan ekonomi negara agar menjadi negara maju. Wallahu’alam. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait