Dunia Islam

Perayaan Idul Fitri dan Warisan Persia Kuno

Hari Raya Idul Fitri pertama kali disyari’atkan pada tahun pertama Hijriyah, namun pelaksanaannya pada tahun kedua Hijriyah.

Pada masa Rasulullah SAW, di sebuah kota yang terletak di Madinah, ada dua hari yang dirayakan oleh kaum Yasyrik. Setiap dua hari itu, mereka berpesta pora, bersenang-senang, dan berfoya-foya. Kedua hari itu dinamakan hari An-Nairuz dan hari Al-Mahrajan.Konon, kedua hari itu sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Sehingga menjadi tradisi yang melekat pada orang Madinah kaum Yasyrik.

Kabar tersebut sampai kepada Rasulullah SAW. Sehingga Beliau SAW ingin mengetahuinya. Kemudian orang-orang Madinah pun mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, pada hari ini kami sedang merayakan pesta untuk kesenangan dan kepuasan. Kami akan menjadikan hari ini menjadi sebuah tradisi, karena hari ini sudah ada sejak zaman kaum Jahiliyah”.

Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW kaget dan tersentak hatinya. Kemudian Rasulullah berkata kepada kaum Yasyrik tersebut, “Kalian harus tahu bahwa sesungguhnya Allah SWT menggantikan kedua hari tersebut dengan hari yang lebih baik daripada sekedar berpesta-pesta dan berfoya-foya. Hal itu hanya akan menjadikan kalian umat bodoh yang menggunakan waktu dan harta kalian dengan sia-sia. Sesungguhnya Allah SWT telah mengganti kedua hari tersebut dengan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri, yang penuh dengan makna dan hikmah-hikmahnya.”

Dalam Kita Fiqih Madzahib Al Arbaah, disebutkan mengenai peristiwa tersebut.

Diriwayatian dari Anas RA, beliau berkata; “Ketika Rasulullah SAW datang ke madinan dan pendudukan Madinah memiliki dua hari raya yang di daamnya mereka berpestappesta dan bermain-main di hari itu pada masa Jahiliyah. Lalu Beliau SAW bersabda, ‘Apakah dua hari itu? Mereka menjawab, ‘pada hari itu kami berpesta-pesta dan bermain-main dan ini sudah ada sejak zaman Jahiliyah dulu. Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘sesungguhnya Allah SWT telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yag lebih baik, yaitu Hari Raya Iedul Adha dan hari Raya Iesul Fitri.” (HR Abu Daud)

Warisan Persia Kuno

Memang, sebelum Rasulullah SAW diutus, kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga bernyanyi dan menyantap hidangan lezat, serta minuman memabukkan.

Ensiklopedia Islam menulis, bahwa Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno. Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.’’

Setiap kaum memang memiliki hari raya masing-masing. Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, mengutip sebuah hadits dari Abdullah bin Amar, ‘’Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ’’Puasanya Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha’.’’ (HR Ibnu Majah).

Jika merujuk pada hadits di atas, maka umat Nabi Nuh AS pun memiliki hari raya. Sayangnya, kata Ibnu Katsir, hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah itu sanadnya dhaif (lemah).

Rasulullah SAW membenarkan bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Abu Bakar pernah memarahi dua wanita Anshar memukul rebana sambil bernyanyi-nyanyi. ‘’Pantaskah ada seruling setan di rumah, ya Rasulullah SAW?’’ cetus Abu Bakar.

‘’Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar. Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita,’’ sabda Rasulullah SAW.

[nextpage title=”Pertama Dirayakan”] Hari Raya Idul Fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam, selepas Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijiriyah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.

Pada tahun itu, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Menurut sebuah riwayat, Nabi SAW dan para sahabat menunaikan shalat Ied pertama dengan kondisi luka-luka yang masih belum pulih, akibat Perang Badar.

Rasulullah SAW pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Iedul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Nabi SAW bersandar kepada Bilal RA dan menyampaikan khutbahnya.

Menurut Hafizh Ibnu Katsir, pada Hari Raya Iedul Fitri yang pertama, Rasulullah SAW pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan shalat Ied di atas lapang itu. Sejak itulah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunaikan shalat Ied di lapangan terbuka.

Sebelum melaksanakan Hari Raya Iedul Fitri, umat Islam diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Kemudian, tepat pada 1 Syawal, kaum Muslim disunahkan melaksanakan shalat Ied, baik di lapangan terbuka maupun di masjid. Shalat dilaksanakan sebanyak dua rakaat, kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

Hingga kini, Idul Fitri telah dilakukan kaum Muslimin sebanyak lebih dari 1.437 kali. Di setiap wilayah atau daerah.

Umat Islam memiliki tradisi masing-masing untuk merayakan dan mengisi hari raya itu. Bahkan, di setiap daerah dan negara, umat Islam memiliki istilah sendiri untuk menyebut Iedul Fitri.

Sejatinya, menurut Prof HM Baharun, hakikat Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas nafsu di medan jihad Ramadhan. Setelah berhasill menundukkan nafsu, kaum Muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan dapat “kembali ke fitrah” (Idul Fitri), yakni kembali ke asal kejadian.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up