Dunia Islam

Pengantin Baru Sambut Ramadhan

Oleh Muhammad Syubli. LN (Wakil Ketua PW KB PII SUMSEL/ Tinggal diPalembang)

Beberapa hari lagi kita akan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan, surat yang berbicara tentang puasa secara lengkap hanyalah surat  Al-Baqoroh 183-187. Tentu kita semua tahu bahkan hafal. Sekedar mengingatkan kita semua, akan kita bahas ayat tentang puasa ini, karena kita akan melaksanakan puasa Ramadan 1439 H. Mari kita baca ;

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(183) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) mem-bayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan {Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari}, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (184)

Ayat ini (QS.2:184) turun berkenaan dengan“maula” (Budak yang sudah dimerdekakan) Qais bin Assa-ib yang memaksakan diri berpuasa, padahal ia sudah tua sekali. Dengan turunnya ayat ini (QS.2:184), ia berbuka dan membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin, selama ia tidak berpuasa itu. (HR.Ibnu Sa’d di kitab at-Thabaqat sumber dari Mujahid).

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (185)

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi semua perintah-Ku  dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (186)

{Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad SAW yang bertanya: “Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?” Nabi Saw terdiam, hingga turunlah ayat ini (QS. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Menurut riwayat lain, ayat ini (QS. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa sahabat yang bertanya kepada Nabi Saw: “Dimanakah Tuhan kita?” (HR ‘Abdurrazzaq dari Hasan, ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal)

Menurut riwayat lain, ayat ini (QS.2:186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah Saw. “Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah Swt, telah berfirman “Ud ‘uuni astajib lakum” (artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya) (QS.40.60). Berkata salah seorang di antara mereka: “Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?”  Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (QS.2:186) (HR. oleh Ibnu ‘Asakir bersumber dari Ali.)  

Menurut riwayat lain, setelah turun ayat “Waqoola rabbukum ud’uni astajib lakum” yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (QS.40:60), para sahabat tidak mengetahui bila saat yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (QS.2:186) (HR.Ibnu Jarir dari ‘Atho’ bin Abi Rabah}

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf (I’tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat ibadah kepada Allah) dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.  (187)

Dari ayat ini kita ketahui bahwa bercampur suami isteri di bulan Ramadhan boleh, tentu saja pada malam hari, dan waktunya pun sebelum makan sahur. Tetapi bila terjadi juga sebelum Imsak. Kalau sudah lewat dari waktu itu dikhawatirkan akan membatalkan puasa, apalagi “dikerjakan” sesudah Imsak atau ketika sudah masuk waktu subuh. Inilah sebabnya orang-orang tua kita dahulu tidak mau menikahkan anak- anaknya pada bulan Rajab atau Sya’ban. Mereka khawatir hal-hal yang tak diingini terjadi.  

Ini peringatan untuk para pasangan muda atau penganten baru, yang menikah beberapa hari sebelum Ramadan terutama. Bila ini terjadi sengaja atau tidak sengaja, maka kaffarat-nya puasa dua bulan berturut-turut. Ketentuan ini hanya berlaku bagi orang muslim tentunya, karena syariat puasa hanya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah. Mari kita sambut bulan suci Ramadan 1439 H ini dengan hati yang ikhlas agar kita betul-betul jadi insan yang bertaqwa sebagaimana dikehendaki Allah “…agar kamu bertakwa” ujung ayat 183 surat yang kita bahas ini.

Palembang, awal Mei  2018.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya