Dunia Islam

Menyikapi Hukum Keterlimpahan (The Law of Abundance)

Oleh: Amam Fakhrur
Alumni Pesantren YTP, Kertosono, Jawa Timur

Kita menyaksikan padi yang ditanam para petani dapat tumbuh dan menghasilkan benih puluhan kali lebih banyak dari yang petani tanam. Hewan yang dipelihara para peternak atau hewan liar dapat berkembang biak dalam kurun waktu yang realtif cepat. Sumber daya alam air, gas, batubara, perak, emas, dan lain sebagainya tersedia melimpah di bumi. Benda planet matahari tiada berhenti bersinar memberikan energi dan kehidupan penghuni bumi. Segala yang ada di darat, di laut dan di udara tersedia untuk kesejahteraan dan kemakmuran manusia. Gunung tinggi menjulang yang keberadaanya menjaga stabilitas rotasi bumi, saat meletuspun yang di satu sisi membahayakan kehidupan manusia, tetapi pasca meletus menghasilkan tanah yang subur dan pasir-pasir bermutu untuk manusia.

Ketika krisis moneter yang pernah terjadi dan nilai tukar mata uang rupiah melemah dibanding dengan mata uang dollar, menjadikan nilai ekspor Indonesia menjadi meningkat. Keluarga saya, di perkampungan daerah Lamongan, yang membuka usaha penyedia arus listrik bertenaga diesel dan perakit accu, dan pada tahun 1980 an mulai lesu dengan ketersediaan listrik oleh negara yang lebih modern, toh muncul peluang-peluang usaha baru di sektor yang lain, sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat ketika itu. Para pembaca juga pasti merasa, di saat bisnis di sektor tertentu lesu, akan terbuka lebar sektor bisnis yang lain, karena pebisnis yang bermodal tentu akan mengalihkan permodalannya untuk usaha dan bisnis di sektor lain, yang tentu saja melahirkan peluang baru. Saya mempercayai di ruang-ruang kehidupan kita tersedia peluang untuk menghasilkan dan bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Memang di alam semesta tidak hanya ada hukum gravitasi, hukum tarik menarik, hukum sebab akibat dan hukum-hukum lainnya, tetapi di alam semesta ini terdapat hukum keterlimpahan (The law of abundance) . Pada alam dan seluruh ruang-ruang kehidupan manusia, terdapat kekayaan yang melimpah, bahkan ketersediaannya lebih banyak yang kita butuhkan.

Sebenarnya hukum keterlimpahan di Islam juga sudah dinyatakan dengan tegas, karena tak sedikit Tuhan telah menggambarkan melalui wahyu-Nya akan kebenaran hukum itu . Allah menciptakan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap bagi manusia, Allah menurunkan air hujan, yang dengan hujan menghasilkan buah-buahan sebagai rizqi bagi manusia (Q.S Al-Baqarah: 22). Allah telah menempatkan manusia di muka bumi dan Dia menyediakan bagi manusia di muka bumi sumber kehidupan (Q.S. Al-A’raf: 10). Allah telah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan dan Dia mengeluarkan yang mati dari yang hidup (Q.S.Al An’am: 97). Dan banyak lagi ayat Alquran yang menggambarkan, dimana Allah telah menciptakan alam semesta yang menjadi dasar keterlimpahan manusia.

Saya kira benar, pandangan yang menyatakan bahwa anugerah yang melimpah di alam semesta ini sebenarnya Tuhan hanya menyediakan bagi ciptaan-Nya dengan hukum-hukum alamnya, Ia tidak melayani secara langsung terhadap kebutuhan-kebutuhan ciptaan-Nya, tetapi dengan sistem yang tertata dengan baik, segala ciptaan-Nya dengan mandiri dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Hukum alam sebagai sistem yang tertata dengan baik, ini bisa juga disebut sebagai takdir (ukuran-ukuran) yang pasti.

Lantas bagaimanakah manusia menyikapi ketersediaan alam semesta yang melimpah agar manusia dapat hidup sejahtera? Tuhan telah menciptakan manusia dengan segala potensi tertingginya. Manusia beranugerah fisik, akal dan hati nurani. Potensi yang dimiliki manusia hendaknyalah dipergunakan secara maksimal untuk berkonspirasi dengan alam semesta menuju hidup sejahtera. Tuhan tidak akan secara tiba-tiba menghadirkan logistik, sarana transportasi, hiburan, dan keterlimpahan lainnya, tanpa manusia berusaha mendekatkan dan mendayagunakan kekayaan yang telah tersedia di alam semesta. Adapun setelah manusia berusaha menggapainya, dan mendapatkan hasil akhir, maka itulah yang namanya takdir (ketetapan), sebagai hasil akhir dari ikhtiar. Dalam konteks takdir sebagai hasil akhir dari ikhtiar manusia, adalah sangat tergantung potensi diri dan sejauh mana ikhtiar yang telah dilakukannya. Manusia tidaklah dapat mengetahui ia akan bertakdir ( berketetapan) sesuatu sebelum ada kejadian sebagai hasil akhir yang telah ia ikhtiarkan menjadi kenyataan. Takdir (ketetapan) sebagai hasil akhir dari suatu usaha, inilah yang harus diterima apa adanya dan proporsional (syukur).

Dalam berusaha dan ikhtiar untuk merengkuh ketersediaan alam semesta yang melimpah, Islam memberikan rambu-rambu agar manusia tidak menghalalkan segala cara. Mengeksplorasi sumber daya alam dengan tidak menjaga keseimbangan alam, prilaku koruptif, manipulatif hanyalah akan membuat bencana dan ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia.

Bersikap pasif, berdiam diri dalam memenuhi kebutuhan hidup, sejatinya adalah refleksi dari pengingkaran hukum keterlimpahan (The law of abundance) sebagai anugerah dari-Nya. Sebaliknya, berusaha secara maksimal untuk mendapatkan keterlimpahan itu dengan cara yang halal, kemudian bersyukur dan menerima takdir (ketetapan), sebagai hasil akhir adalah refleksi keimanan kepada-Nya. (Sudono Syueb/ed)

Wallahu a’lam

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya