Dunia IslamFeatured

Menko PMK Muhadjir Effendy: Kursus Pra Nikah Cegah Bayi Stunting

Kanigoro.com – “Saya sangat berterima kasih pada PII karena sejak SLTP saya jadi anggota PII, aktif ikuti kegiatan PII dan tinggal di Asrama PII di Madiun secara gratis. Dari itu PII sangat berperan pada mindset saya hingga bisa mencapai derajat pendidikan tertinggi sebagai guru besar dan dipercaya pemerintah sebagai menteri dua kali,” kata Muhadjir Effendy, Menko PMK, pada peserta Muktamar ke-6 Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Jumat, (15/11), malam di Grand Keisha Hotel Yogyakarta.

Muhadjir mengatakan, alumni PII yang terwadahi dalam Ormas KBPII itu sangat merakyat, tidak elitis dan sangat besar. Sebab latar belakang pendidikan alumni PII beragam, mulai lulusan SD sampai Perguruan tinggi seluruh lndonesia.

“Andaikan KBPII jadi Parpol tentu akan jadi besar. Sayang KBPII tidak pernah jadi partai. Tapi, KBPII  memang lebih baik jadi Ormas saja, agar kader kader PII bisa masuk di mana mana seperti saya ini.” Tambah Muhadjir sembari diiringi tawa.

Muhadjir juga menceritikan dirinya yang akhir-akhir ini dibully soal sertifikasi  sebelum menikah.

“Padahal saya tidak pernah mengatakan itu, yang saya katakan adalah perlunya kursus pra nikah, untuk mengetahui hak dan kewajiban suami istri, memahami kesehatan reproduksi dan gizi serta kesehatan lingkungan. Setelah selesai, mereka dapat sertifikat kursus itu yang bisa digunakan untuk menikah.” jelas Muhadjir.

“Kenapa kursus pra nikah itu penting? Agar setelah menikah nanti melahirkan bayi yang sehat dan tidak melahirkan anak anak yang “stunting”. Sebab bayi yang alami stunting ini akan jadi generasi yang tidak normal baik fisik maupun otaknya, fisik pendek dan IQ rendah, sehingga produktifitasnya rendah dan jadi beban keluarga dan negara,” terang Muhadjir.

Stunting merupakan kondisi seorang anak yang tidak mendapatkan asupan gizi yang baik atau masalah kekurangan gizi kronik pada masa awal pertumbuhannya. Umumnya, anak stunting memang berperawakan lebih pendek dari tinggi badan normal untuk anak seusianya.

“Penyebab anak stunting biasanya diawali dengan kadar gizi yang buruk pada ibu saat hamil. Ibu yang memiliki anemia dan berat badan rendah saat hamil juga berisiko melahirkan anak stunting. Selain itu, asupan gizi dan sanitasi yang buruk saat bayi hingga periode emasnya berakhir juga turut memicu terjadinya stunting.” Imbuh Muhadjir.

Muhadjir juga menunjukkan bahwa Stunting sangat mengancam masa depan anak. Data Global Nutrition Report 2016 bahkan mencatat bahwa jumlah balita stunting mencapai 36,4 persen dari jumlah seluruh balita di Indonesia.
Stunting identik dengan otak yang kurang berkembang, buruknya kemampuan mental dan kapasitas belajar anak, kekerdilan, serta berisiko penyakit kronik hingga kematian dini.

“Dalam konteks stunting ini, ada peluang besar bagi KBPII terutama KBPII Wati untuk mendirikan lembaga lembaga pendidikan pra nikah untuk membakali pemuda pemudi sadar kesehata lingkungan, kesehatan dan nutrisi.” pungkas Muhadjir. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait