Dunia Islam

Menjadi Manusia Rabbani Pasca Ramadhan

Oleh Sudono Syueb (Dosen Fikom Unitomo Surabaya dan Alumni Pesantren YTP Kertosono)

Sebentar lagi bulan Ramadhan yang penuh barokah, ampunan dan rahmat Allah, serta adanya pelipat gandaan pahala ini akan berakhir. Ramadhan akan meninggalkan kita selama 11 bulan ke depan.

Malam-malam yang kita akan lalui nanti dan seterusnya tak lagi seperti dalam Ramadhan, yang syahdu di bawah lantunan kalam ilahi dari para imam-imam tarawih di masjid masjid dan musholla-musholla yang dipakai sholat jahr berjamaah dan tadarrus al Qur’an bersama. Penghujung malam yang kita akan lalui nanti dan seterusnya pun tak seperti Ramadhan lagi, yang larut dalam tahajud panjang, bersimpuh di haribaan Allah, lalu merengkuh keberkahan sahur, sembari dzikir dan istighfar di sela-sela sisa waktunya.

Saat Subuh tiba, shaf-shaf di masjid terlihat lebih padat dibandingkan waktu subuh di luar Ramadhan. Selepas shalat, sebagian makmum lebih memilih duduk berdzikir menanti syuruq, mereka berlomba-lomba meraup pahala haji dan umrah, yang disempurnakan dengan mengerjakan shalat sunah dua rakaat.

Shalat kita pun tak seperti dulu, yang lebih semangat memburu lima waktu jamaah di masjid. Mengejar untuk mengkhatamkan Al Quran berulang kali, berlama-lama di masjid untuk satu, dua atau bahkan tiga juz Al Quran setiap hari.

Sore kita nanti dan seterusnya, tak lagi disibukkan dengan dzikir petang dan doa. Dulu kita larut dalam detik mustajab di menjelang masuknya waktu Maghrib. Menikmati dua ganjaran kebahagiaan; bahagia karena berbuka, dan bahagia karena puasa kita menjadi wasilah bermuwajahah dengan Allah Swt. Tapi itu dulu, lantas bagaimana dengan hari ini, pasca Ramadhan? Bukankah Rabb yang menjanjikan ganjaran berlipat selama Ramadhan, Ia juga Tuhan yang sama ketika di luar Ramadan? (Muhammad Syarief dalam dakwatuna.com)

Ada kata-kata menarik yang menyadarkan kita akan hal ini, kata Muhammad Syarif, “Kun rabbâniyyan, wa lâ takun ramadhâniyyan” Jangan menjadi manusia Ramadan, yang kuat ibadahnya karena berada di bulan Ramadan saja, karena setelah bulan itu berlalu, ia tak akan mengalami perubahan hidup untuk menjadi lebih bertaqwa. Namun jadilah manusia pasca Ramadhan yang memiliki nilai kepribadian diri, penghambaan kepada Allah yang tak kenal henti, menjadi manusia bertaqwa tanpa batas, sesuai target yang diharapkan dari penggemblengan yang dilakukan selama sebulan. Dengan syaratnya, ia harus menjadi hamba Allah yang bobot ibadahnya terus meningkat, sekali pun ia telah berada di luar bulan Ramadhan.

Para sahabat, lanjut Syarif, menyiapkan diri mereka selama enam bulan untuk menyambut kehadiran tamu agung bernama Ramadhan. Pastinya mereka mati-matian untuk beribadah full time selama sebulan penuh itu. Layaknya bertemu dengan seorang yang dirindu, kita ingin berlama-lama bersama dengannya, menjamu, memberinya pelayanan sebaik mungkin. Dan tentunya kita akan merasakan kesedihan yang teramat dalam ketika harus berpisah dengannya.

Hal yang sama dirasakan oleh sahabat nabi di penghujung Ramadhan, mereka tak gembira dengan baju baru, kue-kue dan makanan ala lebaran seperti umumnya kita. Tapi mereka justru bersedih, karena tamu agung itu sudah harus pergi meninggalkan mereka.

Mâ ba’da Ramadhân, inilah masa-masa yang paling mencemaskan bagi para sahabat nabi. Mereka takut akan amalan yang tertolak; puasa, qiyam yang panjang, tilawah yang berulang kali khatam, infak harta, pengorbanan jiwa raga dari satu medan perang ke perang lainnya, serta segudang amalan ibadah lainnya yang mereka lakukan selama Ramadan, semuanya itu telah menjadi sebuah kekhawatiran terbesar bagi diri mereka. Mereka lebih banyak berkontemplasi, dan bermuhasabah dalam sebuah tanda tanya, “Apakah amal ibadahku di bulan Ramadan kemarin diterima oleh Allah Swt.?”

Para sahabat merawat Ramadhan dalam hati mereka dengan rasa khauf dan raja’. Sekuat tenaga berusaha istiqamah dalam amalan ibadah mereka. Lengah sedikit, akan memberikan indikasi amal ibadah mereka selama Ramadan telah sia-sia. Karena di antara ciri dari diterimanya amal ibadah seseorang dalam bulan Ramadan adalah; keringanannya dalam mengerjakan kebaikan dan ibadah, serta jauhnya mereka dari melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt.

Enam bulan pasca Ramadan mereka masih bersedih memikirkan kepergian Ramadhan. Mereka memohon dengan sungguh-sungguh agar amalan ibadah selama sebulan penuh itu diterima oleh Allah Swt. Sedangkan di paruh tahun sisanya, mereka kembali bergembira, bersiap diri menyambut kehadiran Ramadan, sang tamu agung yang selalu mereka rindu.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close