Dunia Islam

Mengenang Setahun Wafatnya Almarhum Abi Muhamad Taufik Ridlo

Taufik Ridlo, mantan Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (Sekjen PKS) meninggal dunia setahun lalu, pada Senin (6/2/2017) dini hari di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ia wafat pada usia 52 tahun karena sakit Sirosis hati. Berikut tulisan kenangan putra almarhum, Hudzaifah Muhibbullah tentang catatan kenangan ayahnya yang menarik berikut ini:

Sedikit mengenang kisah yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Tepat setahun yang lalu, Ayah saya tercinta meninggal dunia, meninggalkan banyak sekali keindahan dalam hidup. Ayah saya mengidap sakit serius, tapi di hari-hari dia mengidap penyakitnya itu beliau tetap mempunyai energi untuk berpetualang menebar kebaikan. Sebelum puncak sakitnya, beliau sempat menemani sahabatnya Anis Matta memenuhi undangan di Turki. Selepas dari Turki beliau terbang ke Eropa untuk menjenguk dua anaknya yang kebetulan sedang studi di Eropa dan juga mengisi beberapa acara termasuk Khutbah Jum’at di Berlin. Di Eropa lah puncak kesakitan beliau, tepatnya di kota Warsawa Polandia. Setelah sempat di rawat di Warsawa akhirnya beliau pulang ke Indonesia dan langsung masuk Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan.

Beliau divonis mengidap sirosis hati, dan satu-satunya jalan untuk sembuh adalah dengan transplantasi hati. Secara medik, transplantasi hati terbaik adalah dari orang-orang terdekat pasien. Bisa anaknya atau adiknya. Oleh karena itu saya bersedia mendonorkan hati saya untuk ayah saya. saya pikir ini adalah hal yang normal, saya yakin seluruh anak menginginkan Ayahnya tetap hidup bagaimanapun caranya. Jika seseorang dihadapkan pada pilihan seperti saya, saya yakin banyak yang memilih hal yang sama. Bukan hanya saya yang bersedia, tetapi paman bungsu saya pun secara golongan darah cocok dan bersedia untuk mendonorkan hatinya juga untuk ayah saya. Justru paman bungsu saya ini lah yang patut di acungi jempol. Dia bersedia membantu kakaknya, padahal dia mempunyai istri dan anak, waktu itu saya belum mempunyai istri.

Ternyata jadwal transplantasi dipercepat dari yang seharusnya. Di akhir bulan Januari 2017 saya dikabari bahwa ayah saya akan dioperasi tanggal 5 Februari, karena keadaan beliau memang harus cepat-cepat untuk dioperasi. Masalah teknis dan pendanaan, semua ternyata ditanggung oleh sahabat-sahabatnya, mereka saling tolong menolong. Persahabatan inilah yang membuat saya sangat terharu. Semua detail proses operasi ini sudah diurus oleh mereka. Akhirnya saya membeli tiket tanggal 25 dan bernagkat langsung tanggal 26 ke Jakarta dari Berlin. Di jalan tentu saja hati ini berdegup kencang, berharap yang terbaik bagi Ayah saya.

Malam hari saya tiba di Indonesia, saya langsung menuju RSCM. Satu keharuan segera menyergap saya. Ketika itu Ustaz Anis Matta sedang berada di dalam kamar untuk mendoakan kesembuhan beliau, ternyata hampir setiap hari beliau datang ke rumah sakit untuk itu. Untuk mendoakan dengan sepenuh hati sahabatnya. Kisah yang mengharukan lagi selain sahabat-sahabatnya yang luar biasa, yang mengurusi berbagai macam hal keperluan bahkan sampai saat ini urusan Almarhum pun masih diurusi oleh mereka, sangat luar biasa sekali, adalah adik-adik kandung Almarhum yang sungguh sangat luar biasa. Menjaga almarhum ketika sakitnya, mengurusi berbagai macam keperluan dan lain sebagainya. Ini harus lah menjadi contoh untuk kita, tentang persahabatan yang sangat erat, juga tentang keluarga yang harmonis.

Yang sangat-sangat menarik dari kisah proses kepergian almarhum ini adalah kisah dimana salah satu koleganya dari Mesir, seorang Syaikh yang bersahaja datang sengaja menjenguk almarhum dari Mesir. Sengaja menjenguk almarhum karena sesuatu yang dahsyat, yaitu karena mimpi yang menghujam sampai ke hati, dikarenakan mimpi tersebut sang syaikh itu datang jauh dari mesir ke Indonesia hanya untuk menjenguk Almarhum. beliau berkisah: dalam mimpi itu tersebutlah empat nama, diri sang Syaikh itu sendiri, Syaikh Mahdi Akif, Ustaz Anis Matta dan Almarhum Abi Taufik Ridlo. Mimpinya sungguh unik dan menghujam. beliau lalu menceritakan mimpi tersebut, dan setelah itu beliau bercerita bahwa dia mendatangi orang yang ahli dalam men ta’wil mimpi di mesir untuk menta’wilkan mimpinya. Ta’wilnya dahsyat.

Menurut ahli ta’wil mimpi itu, Arti dari mimpi tersebut adalah sangat baik. Lalu orang-orang yang berada di dalam mimpi tersebut berada di dalam “Jalan Kebenaran”. Tapi akan ada dua orang dalam waktu dekat meninggal dunia. Saat ini telah terjawab, siapa yang telah meninggal dunia. Almarhum Abi terlebih dahulu meninggalkan dunia ini lalu di susul oleh Syaikh Mahdi Akif yang juga telah meninggalkan kita dengan banyak sekali peninggalan agung yang beliau tinggalkan. Dan ini bagi saya pribadi adalah sangat berharga dan bernilai, bagaimana mimpi seorang syaikh memimpikan Almarhum dan ta’wilnya adalah orang yang berada dalam mimpi tersebut berada di jalan yang benar. Ini menjadi pegangan saya pribadi dalam memutuskan pilihan, apalagi setelah melihat dengan mata kepala saya sendiri, dan benar-benar yakin mereka berada di dalam jalan kebenaran. inshaAllah.

Lalu kisah-kisah berikutnya saya lalui dengan gemetar. gemetar karena apa? karena memang sangat takut kehilangan Ayah saya. Ustaz Anis banyak memberi nasihat, terutama agar keluarga tenang. Dan pada hari operasi, Allah memberi ketenangan yang sungguh luar biasa kepada saya. Justru saya panik ketika siuman dari bius, saya melihat ke arah jam dan berpikir bahwa waktu operasinya kenapa sangat singkat? disinilah puncak kepanikan saya hingga akhirnya pada pagi buta, Almarhum di panggil oleh Allah.

Haru sekali mendengar kisah detik-detik terakhir kepergian Almarhum. para sahabatnya duduk harap-harap cemas, keluarga juga menunggu dengan jiwa gemetar. Dan ketika Almarhum pergi, para sahabatnya sigap menyiapkan segalanya. Saya yakin inilah buah ukhuwah yang sesungguhnya. Bagaimana para sahabatnya telah mencintai Almarhum seperti mencintai diri sendiri. Bahkan hingga saat ini pun kata-kata ustaz Anis Matta sangat-sangat membekas di alam jiwa saya, beliau mengatakan “jangan sampai kita bersahabat di dunia lalu bermusuhan di akhirat, kita harus pula bersahabat di dunia dan di akhirat dalam surganya” Kata-kata ini di lontarkan ketika beliau dan sahabat-sahabatnya menyelesaikan urusan-urusan almarhum, bagi saya anaknya ini sangat membekas, tidak tahu bagaimana lagi cara untuk berterima kasih.

Ini begitu menarik bagi saya, persahabatan ini sungguh luar biasa. Apalagi persahabatan dengan sahabat-sahabat terdekatnya, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Ami Haris, Ami Yani lalu Ustadz Anis. dengan Ami Haris dan Ami Yani persahabatan itu telah terjalin selama lebih dari dua puluh tahun. kemana-mana mereka bertiga selalu bersama, benar-benar membekas. Lalu persahabatan dengan Ustaz Anis, ini pun sulit di logikakan. Baru kenal dekat sebentar, ketika Almarhum menjabat Sekjend dan ustaz Anis Presiden partai, tapi kesan yang ditinggalkan begitu dalam. Almarhum tidak pernah cerita semenggebu-gebu itu ketika menceritakan orang lain kecuali menceritakan Anis Matta. seperti ada sesuatu yang sangat dahsyat yang ditinggalkan Anis Matta dalam diri Ayah saya. Dan setelah saya melihat dan merasakan secara langsung, benarlah. Anis Matta ini memang sesuatu, bahkan sampai Syaikh mesir memimpikannya bersama mahdi akif. Hal terkait persahabatan ini yang memang sungguh jarang di temui, bagaimana sahabat itu adalah sesuatu yang amat sangat berharga. semoga kita dapat memiliki sahabat-sahabat yang baik.

Terakhir terkait perjuangan. Ayah saya ini adalah seorang pejuang yang benar-benar ihlas. saya merasakannya dan banyak mendengar dari banyak orang terkait keihlasannya. dalam perjuangan, keihlasan itu sangat-sangat penting. Ini juga yang disampaikan AM dalam pidato kenangan kepada almarhum di bandung tahun lalu. Semangat Almarhum tentang perjuangan ini harus tersalurkan kepada kita, berjuang hingga akhir. Dan saya sangat bangga dengan almarhum, ada peninggalan monumentalnya yang akan selalu orang kenang. Peninggalan Syair-syair perjuangan yang sampai saat ini terus mengalun dan menemani nafas-nafas perjuangan para pejuang. Saya sangat terharu sekali ketika Ust Anis Matta akan menyampaikan orasi terkait arah baru Indonesia, yang mana orasi dan narasi tersebut adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya dengar dari beliau, ketika Anis Matta memasuki ruangan ballroom hotel untuk menyampaikan narasinya yang sangat menggugah di hadapan banyak sekali pejuang, suara Almarhum mengiringi dengan indahnya. Suara yang mungkin membuat banyak dari kita mungkin sangat merindukan kehadirannya. “Prahara Menjadi Anugrah” membahana di ruangan Ballroom. “Kobarkan semangat di dalam jiwa, Enyahkan duka nestapa di dada, lantunkan munajat pada yang kuasa, teguhkan pilihanmu dijalanNya”. Hal ini benar-benar membuat saya sangat terharu, seperti Almarhum mengiringi Anis Matta, seperti yang sudah-sudah. Dan saya berkata di dalam hati.

“Almarhum Taufik Ridlo akan selalu ada di hati para pejuang. Suara tegasnya akan selalu menemani langkah para pejuang dan menyemangati para pejuang. TERUSLAH BERJUANG!!!”

6 Februari 2017 – 6 Februari 2018
Dalam kenangan, Ayahanda tercinta Muhamad Taufik Ridlo

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up