Dunia Islam

Menegaskan Gerakan Literasi Masjid

Pengurus Besar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PB KB PII) menyelenggarakan Pelatihan Literasi dan Kebangkitan Masjid pada Kamis (14/02/2018). Menurut Nasrullah Larada selaku Ketua Umum KB PII menjelaskan bahwa “Inti Gerakan Literasi Masjid adalah kebangkitan bersama. Dari ghirah fardi (individual) menjadi ghirah jama’i (kolektif)”.

Gerakan Literasi Masjid menjadi model baru gerakan kebangkitan umat Islam, mengembalikan fungsi masjid pada tujuan awal ketika Rasulullah mendirikan masjid. Selain sebagai tempat ibadah shalat, juga menjadi ruang belajar, menuntut ilmu, bergotong royong menyelesaikan masalah sosial-ekonomi dan menjadi tempat mengabdikan diri bagi jama’ah masjid untuk masyarakat dengan menyumbangkan karya yang bermanfaat.

Dalam acara Pelatihan Literasi dan Kebangkitan Masjid mengundang beberapa pembicara, Dr. Muhammad Nasih, hafidz dan pendiri MONASH Institute, Ustadz Jazir ASP, Ketua Ta’mir Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Aldo Zirsov, praktisi perpustakaan, dan Ustadz Ahmad Yani, Kabid Dakwah KB PII.
Menurut Ustadz Jazir, “pendirian menara masjid pada zaman Rasulullah digunakan selain untuk adzan juga untuk melihat jama’ah masjid, apakah masih ada yang bangun ketika malam hari, bukan untuk gagah-gagahan masjid biar kelihatan paling megah dan mewah”. “Jika masih ada jama’ah masjid yang kelaparan ta’mir masjid akan masuk neraka” begitu Ustadz Jazir menegaskan.

Banyak sekali ta’mir masjid melupakan fungsi sebenarnya dari masjid. Sekarang ini hanya difungsikan sebagai tempat ibadah mahdhoh saja, dan kadang ada pengajian hari besar Islam. Tetapi memfungsikan masjid menjadi bagian dari membangun peradaban Islam sudah dilupakan. Fungsi masjid sebagai upaya membina jama’ah dalam bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan sudah tidak ada. Pada zaman Rasulullah, banyak penduduk miskin di Madinah disantuni lewat masjid, bahkan yang tidak punya rumah seperti Abu Hurairah tinggal di Masjid Nabawi.

Pada masa Nabi Muhammad Saw, masjid selalu digunakan sebagai basis menyusun kekuatan spiritual, ekonomi, politik, sosial, budaya dan militer. Ketika Nabi hendak memutuskan segala sesuatu berkaitan dengan masalah keumatan atau agama, selalu diselenggarakan di masjid. Hal ini menyebabkan gerakan transformatif Islam sudah dibuktikan oleh sejarah, baik sebagai kekuatan sosial, politik maupun budaya. Kreativitas sejarah yang mula-mula muncul sebagai kekuatan spiritual (iman) telah mampu memobilisasikan umat Islam dalam perjalanan sejarah yang panjang. Dimulai dari periode Nabi, Khulafaur Rasyidin, zaman kekhalifahan, kerajaan-kerajaan selalu dikukuhkan dalam bentuk masjid yang megah. Simbol imperium kerajaan Islam yang sampai sekarang masih tersisa masjid, dimanapun, termasuk di Indonesia sebagai karya arsitektur sangat indah.

Dalam sejarah masa Khalifah Umar Ibn Khatab, sebelum jalan keliling kampung-kampung, selalu naik ke menara Masjid Nabawi pada malam hari untuk melihat kaum Muslimin Madinah. Fungsi menara masjid, selain sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan, juga sebagai tempat pemantauan rumah-rumah. Jika masih ada yang dapurnya menyala, Beliau akan mendatangi.

Salah satu kisah yang paling menggetarkan adalah ketika Umar melihat ada salah satu rumah yang masih menyala dapurnya pada malam hari. Beliau bergegas mendatangi rumah tersebut dan menjumpai seorang janda sedang menanak batu dan didekatnya ada dua anak kecil tertidur dengan bekas lelehan air mata dipipinya. Akhirnya Umar bergegas mengambilkan sekarung gandum dan lansung diantarkan ke rumah janda tersebut.

Literasi Masjid di Indonesia
Literasi masjid, dimaknasi sebagai “melek masjid”, bahwa institusi dasar umat Islam adalah masjid. Mengembalikan fungsi masjid sebagai basis peradaban umat Islam harus segera dimulai. Untuk itu, membutuhkan kerja besar semua jama’ah masjid dan khususnya ta’mir masjid. Gagasan inilah yang mendasari pelaksanaan Pelatihan Literasi dan Kebangkitan Masjid. Masjid harus menjadi basis intelektual, basis sosial-ekonomi dan kebudayaan umat Islam.

Dalam sejarah Aceh, munculnya desa-desa terdiri dari kampung-kampung yang berpusat pada sebuah masjid, sebagai tempat bersembahyang Jum’at. Desa yang terdiri dari kampung-kampung yang berpusat pada masjid dinamakan mukim. Konsep mukim sampai sekarang masih dipakai dan kampung-kampung masjid masih banyak ditemukan. Masjid di Aceh kemudian menjadi tempat pergumulan intelektual seperti yang terjadi pada abad ke-17 ketika terjadi perdebatan antara Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasai yang mengajarkan dan menulis syair-syair tasawuf aliran Wujudiyyah. Karya besar tersebut mendapat tentangan besar dari seorang pemikir yang tidak kalah wibawanya Syaikh Nuruddin Ar Raniri yang berasal dari India seperti juga temannya dari India Syaikh Ahmad Sirhindi yang mengajarkan aliran Syuhudiyyah.

Di Indonesia, fenomena persebaran dan dakwah Islam bisa dilihat dalam jejak masjid tua yang masih berdiri tegak sampai sekarang. Seperti contoh Masjid Sunan Ngampel, Masjid Sunan Kudus, Masjid Demak, Masjid Banten, Masjid Cirebon dan lain-lain. Kesultanan Yogyakarta juga mendirikan benyak masjid sebagai pathok nagoro. Berangkat dari arti kata pathok nagoro, maka masjid tersebut juga berfungsi sebagai tanda kekuasaan raja. Kawasan tempat masjid itu berdiri pada awalnya merupakan daerah mutihan yang bersifat perdikan (penduduk bebas dari pajak, namun harus melakukan pekerjaan tertentu). Selain itu, pengelolaan masjid juga diserahkan kepada suatu kelompok tertentu yang termasuk dalam abdi dalem pamethakan.

Simbol masjid dikukuhkan selain sebagai basis dakwah juga basis perlawanan terhadap penetrasi imperialisme Belanda yang hendak menjajah Indonesia. Seperti pengamatan Snouck Hurgronje setelah Perang Jawa muncul banyak masjid dan kemudian pondok pesantren di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hasil analisanya menemukan bahwa pasukan santri Pangeran Diponegoro yang menyebar ke pedalaman Jawa, serentak mendirikan masjid sebagai basis perlawan baru pada Belanda.

Setelah Belanda berhasil menguasai seluruh Indonesia, atas usul Snocuk Hurgronje, perlahan kebijakan Belanda menghilangkan peran budaya, sosial dan politik masjid tinggal hanya peran spiritual (iman). Sampai sekarang fenomena masjid selain hanya mengurusi ibadah sudah sangat jarang ditemui. Masjid hanya jadi simbol ibadah, sedangkan masjid sebagai basis pasar, sekolah, aktivitas sosial dihilangkan. Islam jadi terkesan tidak punya hubungan apapun dengan mode of production tertentu dalam masyarakat Islam di Indonesia.

Inilah yang menjadi kritik kalangan Marxis yang meragukan agama memiliki peran signifikan dalam perkembangan sejarah. Islam sebagai agama yang memiliki banyak penganut juga dihadapkan dalam berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, pertentangan antar kelas, kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan disparsitas pendapatan. Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah selama ini Islam sudah memberikan sumbangan terhadap proses kehidupan ekonomi masyarakat. Apakah ini berarti bahwa telah lebih banyak dikuasai oleh pasar dari pada masjid? Demam pasar, menjadi fenomena modern, ketika orang merasa sangat bangga menenteng jajanan keluar dari mol daripada menenteng sajadah, Qur’an keluar dari masjid.

Hal ini bisa diamati dimana ada pasar, selalu dipadati pengunjung. Sangat berbeda dengan masjid yang hanya menyelenggarakan pengajian dan takjil-makan besar buka puasa Ramadhan, tanpa ada hiruk pikuk yang berarti. Apakah memang Islam tidak punya pilihan aktualitas selain hanya pengajian di masjid? Sementara para pemikir Islam masa kini cenderung mengembangkan penafsiran yang otentik pada pemilahan basis kapitalisme dan sosialisme. Islam menjadi kutub lain dari polemik ekonomi antara sosialisme dan kapitalisme. Tapi, kemampuan Islam mengembangkan basis sosial-ekonomi yang menjadi kekuatan dakwah masih sangat jarang dikembangkan. Mengembangkan basis ekonomi umat Islam dalam model yang sistemik antara simbol spiritual (masjid) dan dakwah harus diupayakan dalam bentuk kongkrit.(Sunano/foto:Soesilo)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

One Comment