Dunia IslamFeatured

LAZIS Caturbakti, Regana KBPII & LBH Catur Bakti Jadi “Icon” PB KBPII 2019 -2023

Kanigoro.com – Pengurus Besar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PB KBPII) Periode 2019 – 2023 mengadakan pelantikan kepengurusan yang diadakan di Gedung Krida Bakti Jakarta, Sabtu (22/2).

Hadir tamu undangan dari berbagai utusan wilayah dan daerah se-Indonesia menyemarakkan kegiatan ini. Pelantikan ini merupakan buah hasil dari Dewan Formatur yang terpilih melalui Muktamar Ke-6 Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) pada 15-17 November 2019 di Grand Keisha Hotel, Sleman, Yogyakarta.

“Ada tiga hal yang dimunculkan dalam menjawab tantangan di periode ini. Pertama, mengoptiamliasis program sosial kemanusiaan dengan mengupgrade Regana sebagai lembaga khusus dalam bidang kemanusiaan dan tanggap bencana. Kedua, mengoptimalkan fungsi LBH Catur Bakti sebagai lembaga penegak keadilan dan advokasi. Ketiga, melahirkan lembaga Zakat, Infak dan Sadaqah Catur Bakti (LAZIS Catur Bakti) sebagai sumber energi gerakan. Tiga isu bidang tersebut menjadi orientasi pengurus periode 2019 – 2023 untuk dapat disupport secara baik dan optimal oleh seluruh jajaran, Pengurus Wilayah dan Daerah se-Indonesia” ujar Ketua Umum PB KBPII Nasrullah Larada dalam sambutannya.

Pelantikan PB KBPII Periode 2019-2023.

Hal tersebut diharapkan dapat menjawab arahan Ketua Dewan Pertimbangan PB KBPII, Sutrisno Bachir yang menyatakan bahwa KBPII harus mengubah cara padang (mindset) dalam membangun gerakan umat.

“Kita harus menulis takdir kita sendiri dalam membangun peradaban atau keinginan untuk maju dan perkembang, bukan merancang kegagalan” ungkapnya.

Karena dengan begitu setiap apa yang dilakukan bisa jadi rujukan kembali dalam setiap pembangunan bangsa.

Adapun Regana KBPII dan LBH Catur Bakti sudah diketahui eksistensinya dalam periode lalu. Pada periode ini akan melegalkan LAZIS Catur Bakti sebagai sumber ekonomi gerakan umat.

Sebagaimana diketahui gerakan Zakat, Infaq dan Sedekah sejak berdirinya PII (4 Mei 1947) di Yogyakarta oleh Yoesdi Gazali secara lahiriah dan meteri sudah terbiasa menjadikan Zakat, Infaq dan Sedekah menjadi sumber gerakan untuk melakukan proses kaderisasi serta pembangunan gerakan. Hanya saja belum dikelola secara terakumulasi dan profesional karena masih bersifat lokal dimasing-masing wailayah dan daerah.

“Geliat zakat yang ada di BAZNAS dan LAZ swasta lainnya serta dengan adanya fasilitasi pemerintah dalam Undang-undang 23 Tahun 2011 dan PP 14 Tahun 2014 sudah saatnya KB PII memiliki badan sendiri yang mandiri dan mapan serta dikelola secara profesioanl” ujar Gusri Efendi sebagai wakil bidang pengelolaan ZISWAF PB KBPII.

Dalam sambutannya, Gusri Efendi menegaskan dalam 6 (enam) bulan kedepan akan menargetkan segera melegalkan lahirnya LAZIS Catur Bakti sesuai dengan mekanisme yang ada.

“Semuanya akan rasional jika didukung oleh berbagai pengurus, wilayah dan daerah se-Indonesia karena basis PII dimana-mana sudah lama ada dan lahir serta mengabdi ditengah-tengah masyarakat Indonesia.” pungkas Gusri. (Tan Gindo/Fn)

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait