Dunia IslamFeatured

Lari dari Corona Menuju Allah

Oleh Aswar Hasan

Virus Corona atau Covid-19 telah mewabah menelan korban yang semakin bertambah. Bahkan, saat tulisan ini dibuat sudah ada 9 (sembilan) negara yang melakukan lockdown belum termasuk Indonesia.

Tetapi di tengah situasi yang galau tersebut, Gubernur DKI Anies Baswedan mengambil kebijakan Social Distancing Measure, kebijakan itu diambil Anies ketika Presiden Jokowi menegaskan tidak memberlakukan lockdown secara nasional ataupun di daerah. Anies benar, tindakan penyelamatan harus segera secepatnya diambil. Akhirnya, Presiden Jokowi mendukung kebijakan Sosial Distancing Measure.

Masalahnya kini bagaimana kita sebagai umat beragama menyikapinya, tentu mengikuti aturan atau anjuran pemerintah yang didukung oleh pandangan keagamaan sebagaimana persetujuan institusi keagamaan yang memiliki legitimasi dan kredibilitas dalam mengeluarkan ketentuan sesuai anjuran agama.

Ada yang mengatakan, bahwa virus itu adalah juga makhluk Allah yang bertasbih kepada Allah dan bahkan, Ustadz Abdul Somad mengatakannya sebagai tentara Allah dengan dalil yang menguatkannya, tapi itu bukan berarti kita harus bersahabat dengan virus itu sebagai sesama hamba Allah. Dan tetap pergi kemana saja, kongkow di keramaian.

Menanggapi pemahaman bahwa virus itu hamba Allah atau tentara Allah yang tidak perlu dijauhi, seorang lantas membuat meme; bahwa singa pemangsa itu adalah hamba Allah, kita sebagai manusia adalah juga hamba Allah, maka maukah manusia dan singa pemangsa itu disatukandangkan? Jawabnya tentu tidak, karena kemungkinan besar singa lapar itu, akan menerkam si manusia. Logika meme tersebut sangat rasional dan masuk akal. Dan, tidak terbantahkan. Olehnya itu jangan cari penyakit atau cari mati. Lebih baik lari manjauhinya, bahwa kita akan mati dimanapun dan kapanpun, iya, tapi jangan cari mati kalau toh bisa menghindarinya. Kita seharusnya lari dari takdir buruk menuju takdir baik, begitu kata Khalifah Umar Bin Khattab Khalifah yang tidak diragukan lagi keimannya yang langkah geraknya saja, membuat syeitan lari pontang-panting.

Dalam menyikapi Covid-19 tersebut, alangkah bijaknya kalau kita menyimak hadits berikut: “Larilah dari penderita lepra/kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (H.R. Al-Bukhari). Hadits tersebut mengabarkan bahwa Rasulullah memerintahkan supaya kita menjauhi dan lari dari orang yang terkena penyakit yang kemungkinannya bisa menular (“dipahami menular, jika bersentuhan langsung”) seperti kita lari dari bahaya singa. Ini adalah rasa takut yang positif dan bermanfaat, terpuji, karena untuk menjaga diri, yang kemudian menjadi prinsip isolasi, lockdown, atau karantina di dunia kedokteran.

Bahwa yang terkena virus adalah telah menjadi takdir dari Allah, ya. Lantas bagaimana kita bisa lari dari takdir tersebut lalu menuju ke takdir Allah yang lain? Para ulama menasehatkan untuk mengamalkan 3 (amalan) yaitu; pertama melakukan amal kebaikan karena amal kebaikan bisa mengubah takdir buruk menjadi takdir yang lebih baik. “Beramallah kamu sekalian, karena beramal akan mengubah sesuatu yang buruk yang telah ditentukan-Nya padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, banyak bersedekah “Sesungguhnya sedekah itu dapat memadamkan kemarahan Allah dan menolak ketentuan yang buruk.” (HR. Tirmidzi). Termasuk dalam hal ini adalah bersedekah masker atau hand sanitizer yang saat ini sungguh sangat dibutuhkan. Menimbunnya adalah termasuk perbuatan zalim yang tidak terpuji.

Ketiga, banyak berdoa “Tiada yang bisa menolak takdir Allah, kecuali doa.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Ibnu Majah). Salah satu doa yang mashur bisa menolak bala, adalah doa yang diajarkan oleh sahabat Nabi, Usman Bin Affan, RA. Beliau berkata, Rasulullah besabda; tidaklah seorang hamba yang setiap pagi dan sore hari membaca: ” Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syaiun fil Ardhi wa la fissama’i wahua ssamiulalim (Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada mudharat sedikitpun baik di bumi dan di langit dan Ia Maha mendengar lagi Maha mengetahui) dibaca 3 (tiga) kali. Hadits tersebut, diriwayatkan oleh Abu Daud dan At Thurmidzi. Insya Allah semoga doa tersebut menghindarkan kita dari wabah Covid-19.

Keempat, ikuti anjuran dan ketentuan pemerintah yang sesuai dengan ijtihad ulama khususnya dari MUI diantanya, laksanakan dengan patuh social distancing measure, rajin cuci tangan, jaga kondisi tubuh dengan asupan gizi dan olah raga dan istirahat yang cukup. Itulah upaya kita untuk lari dari Corona, untuk lari menuju Allah.

Jadi, setelah kita lari dari Corona, saatnya kita berlari menuju Allah. Dengan cara mengamalkan keempat hal tersebut di atas. Jika kita sudah berupaya melaksanakan syariat dunia dan syariat langit, maka hanya kepada Allah SWT sajalah akhirnya kita berserah diri. Semoga akhirnya takdir baiklah yang kita dapatkan Wallahu A’lam Bishawwabe.

Tags
Selanjutnya