Dunia Islam

Ketum KB PII Jatim: Untuk Mencapai Kemajuan, Umat Islam Harus Membangun Trust

Sidoarjo, Kanigoro.com – Negara Indonesia ini merdeka karena perjuangan umat Islam dan para ulama yang mayoritas, termasuk Pancasila itu juga hadiah dari umat Islam.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Zainudin Maliki, MSi, Ketua Umum PW KB PII Jatim pada acara Silaturrahim dan Halal Bi Halal PD KB PII Kabupaten Sidoarjo, di Kafe Ale, Pondok Jati Sidoarjo. Ahad, (16/7).

Akan tetapi Zaenudin mempertanyakan mengapa sekarang umat Islam dibilang anti NKRI, anti Pancasila, intolerans, radikal dan anti pluralitas.

Zainuddin mengatakan kondisi
ini karena umat Islam tidak jadi penentu di Indonesia, sebaliknya malah ditentukan oleh penguasa minoritas yang Plutokrat, yaitu penguasa yang didukung dana besar-besaran oleh para pengusaha kaya yg mengusai 80 persen kekayaan Indonesia.

Menurut Zainuddin jumlah mereka tak lebih dari 5 persen penduduk Indonesia, mereka ini termasuk pengusaha yang Advance Capitalism, atau kapitalisme tingkat lanjut.

Yaitu kapitalisme dengan modal IT, informasi dan militer. “Kalo bisnis mereka terancam, mereka menggunakan militer yang mereka miliki atau sewa militer”.

Menghadapi penguasa yang plutokrat semacam itu, lanjut Zainuddin, maka perjuangan kader-kader PII harus ditingkatkan di segala bidang, terutama dibidang pendidikan.

“Menghasilkan sarjana yang otentik, yang sangat menguasai disiplin ilmunya, bukan sarjana yang seolah-olah. Seolah-olah sarjana tapi tidak bisa apa-apa” ungkap Zainuddin.

Di bidang politik, lanjut Zainuddin para kader PII harus bisa masuk pada pos-pos penting pemerintahan untuk menggeser mereka dan ikut memperjuangkan Negara Jaya dan juga Islam Jaya.

Di samping itu, perjuangan di level ide juga tidak kalah pentingnya, terutama dalam wilayah Political leverage, pengungkit gerakan politik. “Kita bisa mewarnai gerakan politik regional, nasional dan global. Termasuk mau dibawa ke mana Jawa Timur dan Sidoarjo”, ungkapnya.

Di Sidoarjo sudah tidak ada ruang kosong, sudah penuh dengan bangunan dan pabrik. Milik siapa? tanya Prof. Zainuddin. Ternyata bukan milik kader PII atau kebanyakan umat Islam, tapi milik Foreign and Orange (Asing dan Aseng). Tanah-tanah pun dikuasai orang orang tersebut.

Zainuddin mengatakan momentum Silaturrahim dan Halal Bi Halal ini merupakan momen untuk memaafkan kesalahan orang lain.

“Namun faktanya kita susah memaafkan orang. Kita lebih senang konflik daripada saling memaafkan. Ini disebabkan di antara kita sudah tidak ada lagi saling kepercayaan (trust)”, ungkapnya.

Zainuddin mengingatkan, riset Fukuyama menemukan bahwa negara maju itu memiliki trust yang sangat tinggi. “Indonesia ini gak jadi negara maju karena masyarakatnya tidak saling percaya”, ungkap mantan rektor UMS Surabaya dan Ketua Dewan Pendidikan Jatim ini.

Untuk itu umat Islam Indonesia harus memiliki kepercayaan yang tinggi dan bersatu supaya disegani negara lain.

“Kalau trust Islam Indonesia tinggi maka InsyaaAllah political leveragenya juga tinggi”, pungkasnya.

(dd/laporan: Sudono Syueb)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up