Dunia Islam

Kepala Sekolah SDN Donggala Kodi Sulteng Terkesan dengan Program Relawan PII

Kanigoro.com – Kepala Sekolah dan masyarakat penyintas bencana alam di Donggala mengucapkan terima kasih atas peran relawan Pelajar Islam Indonesia (PII).

“Saya terharu dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Pelajar Islam Indonesia dalam mengobati trauma anak-anak kami sehingga kami terbantu dan anak-anak termotivasi untuk datang ke sekolah,” kata kepala sekolah SDN Donggala Kodi, seperti dikutip laman supel.id.

Hal senada disampaikan Putri, siswi SDN Donggala Kodi, Sulawesi Tengah. “Saya sangat senang bersama kakak-kakak PII disini,” ujar Putri.

Relawan PII menggelar kegiatan Alterschool ini di SDN Donggala Kodi dan Inpres Donggala Kodi pada tanggal 17-18 Oktober 2018 lalu.

Kegiatan Alterschool merupakan kegiatan sekolah alternatif dengan mengajak siswa siswi penyintas bencana menjalani aktivitas normal melalui permainan, bernyanyi dan kegiatan belajar mengajar.

Menurut Ketua Umum PB PII Husin Tasrik Makrup, kegiatan Alterschool dilakukan PB PII dengan mendirikan sekolah darurat (Shelter School) di berbagai tempat dan Happy Centre untuk memberikan trauma healing kepada pelajar.

Menurut Husin, pola kegiatan diawali dengan berdoa dan klasikal. Siswa-siswi dibagi menjadi beberapa kelompok dengan dipandu oleh masing-masing Relawan PII dalam melakukan kegiatan membaca, menulis dan berkreasi.

Husin menyatakan bahwa pelajar di kawasan bencana Sulteng sangat antusias mengikuti setiap sesi kegiatan. Karena pendekatan kegiatan belajar disesuaikan dengan kondisi anak-anak yang trauma akibat bencana alam.

“Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan Altershool PII di SDN Donggala Kodi ini umumnya adalah korban likuifaksi, dimana mereka mengalami secara langsung proses penggulungan dan pembelahan tanah pada saat gempa di Donggala. Sebagian anak-anak tersebut merupakan penduduk di daerah Kabonena yang bersebelahan langsung dengan lokasi likuifaksi terparah yaitu Balaroa”, ujar Husin.

Salah satu relawan Alterschool dari Sulawesi Tengah, Vivi, memaparkan, anak-anak di kawasan tersebut mengalami trauma yang lebih tinggi karena mereka melihat langsung bangunan dan orang-orang terdekat yang tertelan tanah.

“Mereka memiliki trauma yang lebih dalam, sehingga kita harus lebih bersemangat menyembuhkan trauma mereka agar cepat kembali ke sekolah dan belajar dengan ceria,” ucapnya.

Kegiatan alterschool dilaksanakan sesuai instruksi pemerintah untuk memastikan kegiatan belajar-mengajar segera dimulai di lokasi gempa tsunami Palu, Donggala dan Sigi.

Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy menegaskan pemerintah berupaya untuk segera menormalisasi proses belajar mengajar dan mempercepat pendirian sekolah darurat.

Mendikbud juga mengimbau agar seluruh masyarakat bergotong-royong membangun sekolah darurat serta mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar pasca gempa.(supel.id)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait