Dunia Islam

Kaderisasi PII Berbasis Masjid di Era New Normal

Oleh: Yusuf Salam
Ketua Departemen Hubungan dan Kerjasama Antar Lembaga PB PII 2017-2020

Kaderisasi adalah aktivitas transformasi nilai yang telah melalui proses pengolahan, perencanaan dan memiliki orientasi tertentu, dilakukan seseorang atau kelompok kepada seseorang atau kelompok lainnya. Biasanya dalam setiap organisasi pada setiap aktivitasnya mengandung proses kaderisasi, termasuk dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).

Kaderisasi di PII bisa diklasifikasikan dalam tiga tahap, yaitu :

Pertama, proses rekrutmen dengan dilaksanakannya pra pelatihan kepemimpinan, dan dilanjutkan dalam pelatihan kepemimpinan berjenjang.

Kedua, proses berstruktur dengan dibentuknya sebuah kelompok organisasi, yang setiap anggotanya diwajibkan bertanggung jawab menyelesaikan dinamika aturan dan kebijakan organisasi yang telah ditetapkan.

Ketiga, proses pembinaan dengan dilaksanakannya pengasahan pengetahuan dan ketrampilan melalui pelatihan atau kajian dengan bentuk yang lebih variatif.

Hampir empat bulan dunia telah dihadapkan dengan fenomena wabah Covid-19, yang menyebabkan seluruh aktivitas sosial hampir redup. Dunia menghadapi krisis dalam berbagai aspek sosial, seorang akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali menyatakan, bahwa hampir 80% bangsa-bangsa tidak siap menghadapi fenomena ini.

Setelah sekian bulan dunia melalui masa Lockdown atau/dan Pembatasan Sosisal Bersekala Besar (PSBB) hingga sampai pada saat ini dunia, termasuk Indonesia mulai kembali pulih, aktivitas sosial mulai kembali berjalan dengan ketentetuan-ketentuan khusus yang kita kenal dengan istilah new normal (adaptasi kebiasaan baru).

Fenomena tersebut tentu berpengaruh juga terhadap proses kaderiasasi PII, sebab kaderisasi adalah persoalan yang sangat krusial dan substantif, maka perlu merespon secara serius. Alternatifnya, PII perlu melakukan penyesuaian metode kaderisasi, terutama mulai pada tahap rekrutmen.

Dalam momentum libur Ramadhan hampir separuh kepengurusan wilayah PII tidak melaksanakan proses rekrutmen atau pelatihan kepemimpinan. Padahal kader PII berasal dari basis massa yang cair, tidak seperti organisasi-organisasi pelajar lainnya yaitu IPNU/IPPNU/IPM/IPP yang memiliki sumber basis yang baku dari sekolah/pesantren. Keadaan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi PII.

Penyesuaian yang dimaksud dalam proses rekrutmen yang sekiranya cocok untuk dilakukan sesuai dengan aturan dan kebijakan pemerintah dalam new normal yaitu kembali menggalakkan “kaderisasi berbasis masjid”. Kenapa disebut kembali menggalakan? Sebab metode ini sebetulnya bukan sesuatu yang baru, namun sesuatu yang kembali diusulkan agar menjadi sebuah himbauan khusus kepada seluruh pengurus PII di semua tingkatan di seluruh Nusantara.

Berikut adalah rasionalisasi kaderasi berbasis majid sebagai langkah yang cukup tepat:

  1. Di sekolah, aktivitas proses belajar mengajar tatap muka telah ditiadakan sementara (cukup lama) dan dialihkan pada proses belajar daring, sehingga PII tidak mungkin melaksanakan rekrutmen berbasis sekolah.
  2. Keleluasaan waktu dan masalah belajar di rumah. Selama proses belajar dengan metode daring maka waktu yang dimiliki pelajar lebih banyak. Tidak sedikit yang memiliki kebingungan beraktivitas. Telah ditemui banyak studi kasus yang dialami pelajar dan orang tua dalam menghadapi sulitnya proses belajar daring di rumah. Hal demikian seharusnya menjadi lahan tanggungjawab para Mualim, dan khususnya Instuktur PII.
  3. Kategorisasi berdasarkan lokasi. Keberadaan masjid dengan SDM remaja dan pelajar bisa dipastikan ada di hampir seluruh desa/kampung. Jika PII melaksanakan training dengan sumber calon peserta di lingkungan sekitar tidak akan menjadi masalah atau tidak menjadi pelanggaran dalam aturan new normal. Hal ini juga akan meminimalisir kemungkinan teburuk penyebaran virus dengan menghentikan transfer instuktur antar kota/provinsi.
  4. Optimalisasi peran instruktur lokal. Sebaran kader instruktur PII hampir ada di setiap kota/kabupaten sehingga sudah tidak menjadi kekhawatiran bagaimana dan siapa yang akan mengelola training. Bisa disesuaikan berdasarkan domisili kota/kabupaten yang tertera pada KTP seorang instruktur tersebut.

Langkah PII untuk memulai melakukan penyesuaian kaderisasi pada tahap awal new normal menjadi hal yang sangat penting. Tantangan ini bisa menjadi peluang besar bagi PII untuk menjadi lebih inklusif. Yakni melakukan aksi perbaikan dan pengembangan pendidikan, serta kebudayaan di akar rumput. Tentu dengan melaksanakan turunan konsep kadiresiasi yang disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi, serta kebijakan pemerintah lokal setempat.

PII perlu terus bergerak melakukan aktivitas kaderisasi, apapun tantangan yang dihadapinya. Track record membuktikan bahwa PII cukup berkompeten dalam melahirkan output SDM berkarakter, melakukan transformasi nilai, mengisi kekosongan nilai seseorang, melahirkan manusia yang lebih manusia dan melahirkan manusia-manusia baru.

Jakarta, 26 Juni 2020

Tags
Selanjutnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: