Dunia IslamFeatured

Jangan Pernah Berhenti Berfikir: Cogito Ergo Sum

Rangkuman

  • Buya Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup menulis, “Agama Islam amat menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah agama ilmu dan akal.”

Oleh: Sudono Syueb (Alumni Pinpes YTP, Kertosono)

Rene Descartes, seorang matematikawan yang sangat rasionalis, menyatakan, Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir Maka Aku Ada). Pernyataan telah menyadarkan pada manusia bahwa eksistensi manusia itu berbeda dengan entitas lainnya. Perbedaan itu terletak pada aktivitas berpikir. Dengan berpikir, manusia tahu eksistensinya dalam dunia ini. Dengan mencoba bertanya: Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Mau kemana aku hidup?
Kalau manusia tidak berfikir, mereka tidak bisa buat pertanyaan seoerti itu, apa lagi menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut. Sekali manusia berhenti berpikir maka ada beberapa kemungkin.

1. Bisa jadi mereka tidur.

Karena tidur itu mereka berhenti berpikir sesaat. Siapa pun orangnya pasti pernah mengalami berhenti berpikir dalam kondisi ini, secara rutin, kecuali mereka yang mengalami penyakit imsonia, tidak bisa tidur sesaat atau selamanya.

2. 0rang yang sedang mengalami gangguan jiwa (ODGJ).

Orang ODGJ sudah tentu tidak bisa berfikir normal. Kalau sudah normal/sembuh, orang jenis ini akan bisa berpikir kembali.

3. Orang mati.

Orang mati sudah tentu akan berhenti berpikir secara permanen.

Maka itu, selagi kita masih hidup jangan berhenti berpikir. Jangan pernah berhenti berpikir jika kita peduli dengan masa depan kita, keluarga dan masyarakat kita, pikirkanlah hal yang baik untuk menjalankan hari-hari anda supaya di masa yang akan datang, kita, keluarga dan bangsa kita akan mendapatkan hasil yang baik.

Jika kita selalu berpikir postif kita akan mudah menjalani hari-hari kita ini, di saat kerjapun kita akan lebih santai/enjoy karena kita selalu berpikir positif.

Hal ini sangat mudah di lakukan, semua orang bisa melakukan nya aslkan memiliki niat untuk berpikir positif

Berpikir itu merupakan amalan utama yang tidak boleh diabaikan dalam lslam

Islam sendiri melihat bahwa amalan berpikir sebagai perkara yang sangat diunggulkan dalam kehidupan sehari hari.

Di dalam Al-Qur’an sendiri perintah berpikir ini berulang kali ditegaskan agar terus diamalkan, dan diulang-ulang dalam banyak ayat.

Seperti ayat; فَٱعۡتَبِرُواْيَـٰٓأُوْلِىٱلۡأَبۡصَـٰرِ yang artinya, “Maka berpikirlah, wahai orang-orang yang berakal budi” (QS. Al-Hasyr [59]: 2).

أَوَلَمۡيَنظُرُواْفِىمَلَكُوتِٱلسَّمَـٰوَٲتِوَٱلۡأَرۡضِوَمَاخَلَقَٱللَّهُ

“Apakah mereka tidak memperhatikan segala kerajaan di langit dan bumi dan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah” (QS. Al-A’raf [7]: 185).

Menurut Ibn Rush, filosof Muslim di Cordoba, dalam bukunya “Fashl al-Maqal Bayna al-Hikmah wa Asy-Syariah” menerangkan bahwa kedua ayat itu menujukkan betapa berpikir adalah perintah. Dimana dalam hal ini bukan saja logika akal semata yang harus dijalankan, tetapi juga syariat secara beriringan, sehingga perintah berpikir ini dapat menyempurnakan kekuatan dzikir dalam kehidupan sehari-hari.

Muhammad Natsir dalam Capita Selecta menuliskan, “Bertebaran di dalam Al-Qur’an pertanyaan-pertanyaan yang memikat perhatian, menyuruh orang mempergunakan pikiran dan mendorong manusia supaya mempergunakan akalnya dengan sebaik-baiknya;

“Kenapa mereka tidak berfikir?”

“Kenapa mereka tiada mengetahui?”

“Kenapa mereka tiada mempergunakan akal,” dan demikikanlah seterusnya…….!”

Dengan berpikir, manusia akan terbebas dari bergantung kepada selain Allah. Oleh karena itu, Ibn Al-Jauzi dalam Shaidul Khatir mendorong umat Islam untuk hanya memohon kepada Allah, pencipta segala macam sebab. “Kembalilah pada asal mula yang pertama. Mintalah dari Dzat yang menciptakan sebab. Duhai… betapa beruntung dirimu bila engkau (berpikir dan) bisa mengetahuinya! Karena mengetahui hal itu berarti (mengerti) kerajaan dunia dan akhirat.”

Dengan diturunkannya agama Islam, akal manusia akan selamat dan menyelamatkan. Sebab, hanya dengan mengamalkan ajaran Islam semata, akal akan bisa berfungsi sebagaimana mestinya, membawa manusia pada kebaikan.

Suatu saat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berpesan kepada Khalid bin Walid kala pertamakali menyatakan keislamannya. “Sungguh, aku memandang bahwa kamu memang memiliki akal, yang kuharap ia tidak menuntunmu kecuali pada kebaikan.”

Oleh karena itu, Islam tidak mengenal namanya dikotomi, pemisahan dan disintegrasi antara ilmu agama dan non-agama, atau antara agama dan sains, sebab sumber dan akar dari kedua ilmu tersebut satu, yakni Allah Ta’ala. Dengan kata lain, jika ada pemikir yang pikirannya melenceng dari kebenaran Islam, bisa dipastikan ia telah mengalpakan syariah Islam.

Dalam hal ini, Ikhwan Al-Shafa’ menjelaskan bahwa ilmu filsafat (berpikir) dan syariah merupakan dua aspek Ketuhanan yang secara fundamental (ushul) berkesusaian dalam tujuan dan hanya berbeda dalam hal cabang (furu’), karena tujuan tertinggi dari filsafat (berpikir) adalah Tuhan.

Buya Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup menulis, “Agama Islam amat menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah agama ilmu dan akal.”

Di sini kita bisa lihat, mengapa dahulu para ulama dalam Islam juga seorang saintis. Ibn Sina misalnya, tidak saja hafal Al-Qur’an dan pakar dalam tafsir tetapi juga seorang ahli dalam filsafat dan kedokteran.

Muhammad Natsir dalam karyanya Capita Selecta menyampaikan, apabila Ibn Sina bertemu dengan satu masalah yang sulit, sangat susah dipikirkan, ia terus pergi berwudhu’ dan pergi ke masjid, sholat dan berdoa, mudah-mudahan Allah memberinya hidayah.

“Sesudah itu terus menelaah dan bepikir kembali, karena ia tetap insaf akan kelemahannya sebagai manusia dan memerlukan petunjuk dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” urai Natsir.

Disusun dari berbagai sumber.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up