Dunia Islam

GPII dan Politik, Catatan Jelang Pemilu 2019

Oleh: Gunarko (Wasekjen PP GPII)

Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) memiliki sejarah panjang. Sejalan dengan situasi dan kondisi politik Indonesia yang dinamis. Pasang surut hubungan antar anak-anak muda Islam ini dengan pemerintah sejak orde lama, orde baru hingga era demokrasi mengajarkan begitu banyak hikmah dan pemahaman yang juga terus berkembang.

Dimana GPII berperan penuh dalam membentuk pemuda-pemuda milenial zaman now agar tetap menjadi pemuda milenial yang Islami yang bisa mewarnai bangsa dan dunia.

Apa yang bisa GPII perbuat ?

Seperti kata Soe Hok Gie “Pemuda kita itu umumnya hanya mempunyai kecakapan untuk menjadi serdadu, yaitu berbaris menerima perintah menyerang, menyerbu, dan berjibaku dan tidak pernah diajar memimpin”.

Ironis kalo kita kaji kalimat itu, Saatnya kita berhenti menjadi obyek yang selalu dipolitisir. Saatnya kita menjadi subyek. Menjadi barisan yang sadar untuk melakukan kontrol, pengawasan, dan koreksi-koreksi terhadap pemerintah. Kita harus punya sikap untuk mengatakan tidak dari apa yang diarahkan kepada kita.

Jika melihat fenomena peran pemuda dalam politik sebenarnya itu sudah menjadi keharusan. Melihat sejarah indonesia sebelum dan sesudah zaman kemerdekaan semua gerakan yang dibuat para pahlawan dimotori oleh para pemuda, sebut saja Dr Soetomo, HOS Tjokroaminoto dan Ir. Soekarno, mereka adalah pemuda di zamannya yang mampu memberikan perubahan yang cukup signifikan dalam melawan kolonialisme penjajah saat itu.

Kemudian jika bergeser ke era setelahnya nama-nama seperti Akbar Tanjung dan Hariman Siregar menjadi tokoh gerakan mahasiswa yang melawan orde baru saat itu. Selanjutnya perjuangan dilanjutkan oleh tokoh-tokoh nasional saat ini seperti Fahri Hamzah dan yang lainnya dalam peristiwa reformasi 98. Semua gerakan yang mengawali perubahan indonesia diawali oleh para pemuda.

Kita mungkin pernah mendengar tentang teori kekacauan (chaos theory)? Itu semacam teori sains untuk memprediksi cuaca, lautan dan sebagainya. Dalam teori kekacauan disebutkan bahwa perubahan suatu kondisi awal dapat membuat dampak yang besar terhadap perubahan iklim ataupun cuaca. Bahkan disebutkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu saja dapat membuat sebuah angin topan.

Chaos Theory pertama kali dikemukakan oleh Edward Norton Lorenz, seorang Profesor di MIT dalam bidang Meteorologi. Dia menemukan teori ini pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi.

Seperti halnya cuaca, hati manusiapun dapat berubah jika terjadi perubahan sekecil apapun. Manusia yang sangat tangguh dapat langsung berubah 180 derajat menjadi manusia lemah hanya karena satu perubahan kecil, begitu juga sebaliknya.

Repolitisasi Islam usai kekuasaan Presiden Sukarno tumbang, mengalami tantangan dari pemerintah Orde Baru. Sedapat mungkin, pemerintah Orde Baru memberangus simbol-simbol yang terkait dengan Islam. Salah satunya dengan membonsai peran partai-partai politik Islam sehingga terkontrol secara efektif.

Abdul Qadir Djaelani, mantan aktivis Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), pernah mengatakan pemerintahan Orde Baru meragukan itikad baik tokoh-tokoh Islam jika diberi keleluasaan politik.

GPII zaman Now

Kader GPII merupakan kader-kader potensial untuk memimpin negara di masa mendatang. GPII sebagai organisasi harus mampu berperan lebih dalam kehidupan sosial politik keumatan dan kebangsaan yang terus berkembang, namun demikian GPII tidak berafiliasi kepada partai politik atau mendukung capres A atau capres B. GPII netral dan tidak berpihak, sebagai organisasi GPII juga tidak membatasi kepada kader untuk berpolitik.

Terlebih lagi ketika Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) Masri Ikoni mengatakan akan mendukung semua kadernya yang maju dalam Pileg 2019. GPII harus melahirkan kader yang selalu siap berkompetisi di segala lini. Tugas utama kader GPII adalah membela dan menyuarakan nilai-nilai Islam. Untuk itu apabila nanti kader GPII masuk dalam pusaran kekuasaan baik eksekutif dan legislatif untuk tetap membawa semangat keislaman. Pernyataan Itu disampaikan di hadapan para kader GPII dalam pelantikan pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Jakarta Raya

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait