Dunia Islam

“Dicari Imam Gaya Lama di Tahun Baru 1440”

Oleh H. Muhammad Syubli LN (Wakil Ketua PW KB PII Sumsel)

Tahun baru Islam 1440 H sudah kita jalani lebih dari setengah bulan. Tepatnya hari Selasa 11 September 2018 kita umat Islam telah menyambut datangnya 1 Muharrom 1440 H. Seiring mulai berdatangan jamaah haji kloter demi Kloter, tak lupa ucapan Selamat Datang di tanah air buat jama’ah haji seluruh Indonesia.

Seperti biasa datangnya tahun baru Islam hanya disambut oleh segolongan umat Islam saja. Umat agama lain tentu tidak berkepentingan menyambut/memeriahkan tahun baru Islam, kecuali yang hanya ingin menarik keuntu-ngan dari umat Islam, misalnya dengan bisnis atau berdagang. Berbeda sekali dengan tahun baru Masehi/Miladiah 1 Januari, semua lapisan masyarakat tanpa kecuali pasti menyambut atau memeriahkannya dengan aneka cara, lihatlah TV swasta nasional, segala bentuk kegiatan, lomba dilaksanakan, berbagai ajang dipertontonkan semua ucapan berisi pujian disanjungkan dan sebagainya.

Bagi kita umat Islam, momentum tahun baru Islam mestinya dijadikan ajang evaluasi diri, antara hari kemarin, hari ini dan hari esok. Sebagaimana firman Allah; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan ber-taqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al Hasyr ; 18)

Ayat ini mengingatkan kita selain harus beriman dan bertaqwa kepada Allah, juga harus memperhatikan apa yang telah kita perbuat hari kemarin, hari ini dan untuk hari esok, khususnya hari akhirat nanti. Jika yang kita perbuat hari kemarin lebih buruk dari hari ini, itu artinya ada peningkatan, karena hari ini lebih baik dari dari hari kemarin. Tetapi sebaliknya jika yang diperbuat hari ini lebih buruk dari hari kemarin, itu artinya mengalami penurunan bahkan bisa jadi orang yang rugi. Seharusnya kita berbuat hari ini lebih dari kemarin, dan akan lebih baik lagi di hari esok.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, apa hubungannya dengan judul di atas? Kok, mencari imam bergaya lama? Pembaca pasti tahu bahwa kata imam secara umum adalah “pemimpin”. Baik pemimpin formal mulai dari Raja, Presiden sampai ketua RT, para ketua organisasi formal, atau non formal sampai kepala rumah tangga. Sedangkan pengertian imam secara khusus adalah imam sholat. Pembacapun pasti mengetahui tugas dan status imam sholat.

Imam secara umum jumlahnya terbatas, sedangkan Imam sholat jumlah tak terhitung dan pasti orang yang mengerti agama secara umum. Inilah yang akan kita bicarakan, bukan pengertian imam secara umum.Tiap 5 waktu sholat pasti ada imam, di seluruh dunia. Baik sholat fardhu, maupun sunnah (seperti sholat Tarawih) berlangsung terus sampai akhir dunia. Kalau imam secara umum pertanggungjawabannya kepada manusia. Tapi imam sholat pertanggungjawabannya kepada Allah Swt yang Maha Agung.

Imam yang merangkap imam sholat sekaligus juga kepala negara hanya Rasululloh Saw dan khulafaaur rosyidin (para sahabat dekat nabi) serta sahabat “tabi’in pilihan”. Mereka semua itu menjadi imam mengikuti cara rasul menjadi imam sholat, sebagaimana sabda beliau: “Sholluu kama ro’aitumuuni usholli” (sholatlah kamu sebagai mana kamu lihat aku sholat). Tentu saja cara yang diajarkan nabi itu benar, diikuti oleh para sahabat juga benar.

Dalam perkembangan zaman timbul perbedaan yang tidak prinsip dan munculnya mazhab-mazhab, hal itu tidak akan kita bicarakan di sini, yang jelas mereka itu melakukan sholat sesuai dengan ajaran Rosululloh Saw, inilah yang dimaksudkan “gaya lama”, atau cara-cara yang dilakukan oleh nabi dan diajarkan kepada umatnya sampai kepada kita sekarang ini, melalui para syekh, ‘ulama, kiai, ustadz dan para guru agama, muballigh serta da’i di seluruh dunia, sebab mereka adalah “warosatul anbiya” (pewaris para nabi), salah satunya cara para imam sekarang ini.

Setidaknya kita bisa saksikan para imam di masjid-masjid Arab Saudi (Makkah, Madinah dan sekitarnya). Setiap tahun jutaan umat manusia tunaikan ibadah haji, tapi sedikit yang bisa mengambil pelajaran dari para imam di masjid-masjid kedua kota suci itu. Sedikit sekali yang menerapkan apa yang dilihat di masjid kota “Haramain” itu, salah satunya adalah “tuma’ninah” waktu sholat, yang sering dianggap remeh. Ini bisa kita lihat waktu sholat Jum’at, apalagi sholat tarawih. Para imam di negeri kita kurang memperhatikan dan menerapkan perihal “tuma’ninah” itu.

Begitu pentingnya tuma’ninah, nabi pernah menyuruh sahabat untuk mengulang sholatnya karena tidak “tuma’ninah” sampai tiga kali. Para imam yang mengerti tata cara dan kaifiyat sholat mestinya menerapkan hal ini, tidak asal cepat saja. Sebaiknya Alfatihah dibaca satu-satu ayat, bukan 7 ayat satu nafas. Imam harus mengerti ma’mum-nya, para ma’mum ingin juga membaca yang wajib dan sunnah dalam sholat. Seperti doa iftitah, alfatihah, ruku’ yang tuma’ninah, sujud yang thuma’ninah, apalagi duduk antara dua sujud, pada saat itu ada 8 macam doa yang harus kita ucapkan. Begitu seterusnya yang harus dipahami oleh para imam di negeri ini. Dan ini cara atau gaya lama.

Salah satu syarat sah sholat adalah thuma’ninah. Tak bisa ditawar! Jangan karena ingin mengejar jumlah rakaat, mengabaikan thuma’ninah. Jangan demi mendapat pujian atasan, kita abaikan syarat sah sholat. Jadi sia-sia saja ‘kan sholatnya jika tidak thuma’ninah? Karena thuma’ninah. hukumnya wajib maka kita tidak boleh ber-makmum dengan orang yang sholatnya terlalu cepat dan tidak thuma’ninah. Bermakmum di belakang orang yang sholatnya cepat dan tidak thuma’ninah, bisa menyebabkan sholat kita batal dan wajib diulangi.

Rasululloh Saw pernah bersabda bahwa, “pencuri yang paling jelek adalah orang yang mencuri dalam sholatnya”. Setelah ditanya maksudnya, beliau menjawab: “Merekalah orang yang tidak sempurna ruku’ dan sujud-nya”(HR.Ibn Abi Syaibah,Thabrani,Hakim,dishohihkan Ad-Dzahabi). Yang ingin kita tekankan di sini bagi para imam di negeri ini, mari kita menerapkan thuma’ninah. kapan dan dimanapun kita menjadi imam, agar kita dicintai ma’mum. Agar sholat kita baik dan benar serta bermanfaat, mendapat ridho dari Allah Swt.

Kita ambill satu contoh saja, sesudah imam membaca “Ghoiril maghdhuubi alaihim waladdholliin” Maka imam mestinya diam dulu sebelum membaca ayat, hal ini berdasar hadits sahih riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad berasal dari Samurah bin Jundab pernah berkata :”Aku ingat dari Rosululloh dua kali diam, pertama setelah takbirotul ihrom, kedua sesudah membaca “Ghoiril maghdhuubi alaihim waladdholliin”. (Kitab Zadul Ma’ad).

Dari hadits ini dapat dipahami oleh kita dan para imam dimanapun berada, bahwa memberi kesempatan kepada ma’mum harus dilakukan, baik sholat “sir” ataupun sholat “Jahr”. Sholat 5 waktu yang wajib, maupun sholat sunnah seperti Tarawih dan lain-lain. Lamanya diam yang kedua ini seukuran membaca Alfatihah. Karena begitu-lah “cara lama” yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat sampai kepada kita para pengikut beliau.

Sebetulnya rasululloh Saw tiga kali diam dalam setiap sholat, pertama sesudah takbirotul ihrom, kedua sesudah membaca Alfatihah sebagaimana hadits di atas, dan yang ketiga tidak begitu lama seukuran kita baca “Subhanalloh” atau sekedar menarik nafas. Hal ini diterapkan oleh Rosul ketika bangun dari ruku” (I’tidal), pada waktu duduk antara dua sujud. Begitulah sifat sholat Rasulullah Saw sholat yang patut kita teladani. Semoga semua amal ibadah kita mendapat ridho dari Alloh di tahun baru Islam 1440 H ini. Aamiin.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait