Dunia Islam

Bahaya Riba

Edisi 1

Oleh Muhammad Shodiq

Menurut Al Khatib Al –Shirbini seorang ulama dari Mazhab Syafi’yah, secara makna bahasa “riba” berasal dari kata rabat artinya bertambah atau meningkat atau tumbuh sebagaimana firman Allah SWT dalam Alqurán Surah Al-Hajj (22) ayat 5: Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah (rabat). Dalam hal ini pertumbuhan dari dasar tanah itu disebut dengan Riba. Riba juga berarti (árba) yaitu pertambahan dalam hal angka, jumlah, volume , dsb. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Alqurán Surah An-Nahl (16) ayat 92: “adanya satu golongan yang lebih banyak dari golong yang lain”. Menurut Imam Hambali, secara makna hukum, riba hanya terkait dengan peningkatan item-item tertentu saja. Menurut Ibn Abidin seorang ulama dari Madzhab Hanafi dalam kitab Hashiyat Radd Al-Muhtar disebutkan bahwa Riba adalah adanya peningkatan dalam terjadinya pertukaran barang tanpa adanya kompensasi (íwad) atas terjadinya peningkatan tersebut.

Riba adalah perbuatan yang dilarang dalam Alqurán sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 275-279: Orang-orang yang makan riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka bagi apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Larangan riba ini terjadi pada tahun ke delapan dan Sembilan setelah nabi hijrah ke Madinah. Beberapa hadits nabi terkait larangan riba antara lain: Jabir radhiyyallahuánhu berkata,”Rasulullah saw melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya dan dua orang saksinya. Beliau bersabda, Meraka itu sama (HR. Muslim)
Hadits lain antara lain: Dari Abdullah bin Masúd radiyallahu ánhu bahwa Nabi saw bersabda, “Riba itu mempunyai 73 pintu, yang paling ringan ialah seperti seorang laki-laki menikahi ibunya dan yang paling berat ialah merusak kehormatan seorang Muslim (HR Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Menurut mayoritas ulama fikih, ada 2 jenis riba yakni riba al-fadhl dan riba al-nasiáh. Riba al-nasiáh atau disebut juga dengan riba jahiliyah adalah penangguhan atau penerimaan jenis barang ribawi yang pertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian. Sedangkan Riba Fadhl adalah pertukaran antar barang sejenis dengan kadar takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.

Perihal ketentuan barang ribawi, para ulama fikih sepakat terhadap tujuh jenis barang ribawi yakni emas, perak, gandum, sya’ir, kurma, kismis dan garam. Hadits yang menjadi acuan adalah: dari Ubadah ash-shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda, (diperbolehkan menjual) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam sama sebanding, sejenis dan ada serah terima, namun jika terdapat perbedaan, juallah sekehendakmu selama ada serah terima” (HR Muslim)

Mazhab Zahiri sepakat bahwa barang ribawi hanya terbatas tujuh item tersebut. Imam Syafi’I dan Imam Ahmad menyebutkan bahwa barang ribawi adalah dua jenis uang yakni emas dan perak serta segala jenis bahan yang dikonsumsi manusia baik berupa makanan maupun obat-obatan. Imam Malik membatasi pada jenis makanan yang sifatnya bisa disimpan. Menurut Ibn Qayyim definisi Imam Malik yang lebih tepat. Menurut Imam abu Hanifah, Barang ribawi adalah barang yang dapat diukur berdasarkan ukuran/takaran serta volume.

Manfaat pelarangan riba adalah antara lain menghindari traksaksi yang sifatnya eksploitatif serta transaksi yang tidak jelas (gharar). Bentuk-bentuk riba dalam transaksi bisnis antara lain riba perbankan dan produk keuangan konvensional. Para ulama kontemporer telah memberikan solusi dalam bentuk-bentuk fatwa-fatwa seperti fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) sebagai panduan dalam menjalankan akad dan transaksi yang sesuai dengan syariah dalam berbagai aktivitas umat pada umumnya serta institusi perbankan dan keuangan syariah pada khususnya. Wallahu’Alam bis shawab.

Muhammad Shodiq: Penulis buku “Islamic Banking & Finance in Indonesia: A Critical Analysis”

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya