Dunia Islam

Alquran dan Kemuliaan Lailatul Qadar

Oleh Muhammad Ain, S.Pd.I, M.Pd.I (Alumni Pesantren YTP Kertosono)

Malam 23 Ramadhan tahun ini terasa sangat istimewa bagi sebagian besar kaum muslimin yang merindukan kemuliaan lailatul qadar. Banyak yang meyakini bahwa di malam inilah Lailatul Qadar turun karena bertemunya dua malam kemuliaan yakni malam Jumat dan malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bahkan ada beberapa masjid yang sejak siang sudah memberikan pengumuman dan himbauan kepada jamaahnya untuk berbondong bondong memenuhi masjid di malam 23 ini untuk beri’tikaf.

Sabagian masjid ada yang menghadirkan imam imam khusus/pilihan untuk memimpin qiyamul lail agar jamaah merasa nyaman dengan lantunan ayat ayat yang dibacanya. Demikianlah semarak dan semangat sebagian besar kaum muslimin dalam berburu kemuliaan lailatul qadar khususnya pada malam 23 yang bertepatan dengan malam Jumat. Sudah sewajarnya jika umat Islam berpacu memburu kemuliaan malam ini mengingat apa yang akan Allah berikan pada hambaNYA yang beribadah di malam tersebut jauh lebih baik dibanding ibadah selama seribu.

Terlepas dari kemuliaan malam lailatul qodar ini, ada satu hal yang sering dilupakan atau setidaknya kurang direnungkan dan ditadabburi oleh sebagian besar ummat Islam yakni mengapa malam lailatul qadar bisa begitu istimewah. Ada apa di malam itu?

Dalam surat Alqodar Allah telah menjelaskan bahwa mulianya malam lailatul qadar yang kemuliaannya melebihi malam seribu bulan ini tiada lain karena pada malam inilah Allah menurunkan Alquran. Jika momentum turunnya saja ditetapkan menjadi malam yang istimewa maka bisa dipastikan bahwa yang turun di malam itu adalah sesuatu yang super istimewa melebihi istimewanya momentum itu sendiri. Artinya, Alquran bukanlah sebuah kitab biasa sebagaimana kitab-kitab yang pernah ada, melainkan sebuah kitab yang super istimewa yang tak mungkin ditandingi oleh kitab apapun jua.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah pernah bersabda: “Tidak seorang nabi pun kecuali ia diberi beberapa mukjizat yang tak bisa diserupai oleh apapun sehingga manusia mengimaninya – atau dengan redaksi ‘sehingga manusia dijadikan beriman’-, namun yang diberikan kepadaku hanyalah berupa wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi manusia yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” (HR. Bukhori, no hadits 6732).

Pada hadits ini dapat kita ketahui bahwa Alquran bukanlah sekedar kitab panduan hidup semata, melainkan sebuah mukjizat yang bahkan nilai kemukjizatannya melebihi mukjizat-mukjizat lain yang pernah Allah berikan kepada para rasul sebelumnya.

Setidaknya ada tiga keistimewaan Alquran dari segi kemukjizatan dibandingkan dengan yang lain.
Pertama, Alquran adalah mukjizat yang tidak hanya melekat pada diri Rasulullah saja namun ia juga bisa diwariskan kepada seluruh umat beliau. Berbeda dengan mukjizat-mukjizat lainnya yang semua melekat pada diri rasul yang menerima. Misal, Nabi Ibrahim yang tak terbakar oleh api, nabi Isa yang mampu menghidupkan orang mati, ataupun Nabi Sholeh yang mempu mengeluarkan onta dari batu, semuanya ini hanya ada pada diri rasul penerimanya dan tak bisa diwariskan atau sekedar dipinjamkan kepada siapapun.

Kedua, Alquran adalah mukjizat yang tidak ada batas masa berlakunya sebagaimana mukjizat-mukjizat lainnya yang berakhir seiring dengan berakhirnya masa kerasulan sang nabi. Kemukjizatan Alquran akan senantiasa nampak dan berfunsi selama ia diperlakukan dengan benar sebagaimana apa yang Allah tetapkan. Sampai kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun.

Ketiga, Alquran adalah mukjizat yang menjadi penutup dan penyempurna risalah-risalah sebelumnya yang dijamin kebenarannya, keasliannya, dan keterjagaannya oleh Allah SWT. Maka betapa beruntungnya kita yang ditakdirkan Allah menjadi umat nabi Muhammad SAW dengan warisan mukjizat Alquran yang sejak lama sudah ada di rumah kita masing masing. Dengan Alquran ini maka mestinya tak ada masalah atau kendala dalam hidup kita. Sebesar apapun masalah yang menghalangi kita akan mudah terselesaikan karena ada mukjizat bersama kita. Sebesar apapun tantangan yang menyerang kita akan mudah menaklukkan dan menundukkannya karena ada mukjizat menyertai kita.

Hanya saja, mukjizat besar ini seringkali terabaikan bahkan terkucilkan di antara barang-barang lain yang ada di rumah kita, sehingga kemukjizatannya pun menjadi tak berfungsi. Umat islam yang seharusnya menjadi “khoiru ummah” yang “ukhrijat linnaas” justru nasibnya sangat tragis dan memprihatinkan padahal bersamanya ada mukjizat alQuran.

Lalu bagaimana cara kita menghadirkan kembali kemukjizatan Alquran? Itulah PR besar umat Islam yang harus segera dicari implementasinya sehingga bisa menjadi sebaik baik umat sebagaiman dikatakan dalam Alquran (Sudono Syueb/ed)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait