Dunia IslamFeatured

Akal Baligh, Keluarga dan Jalan Agama

Oleh : Ahmad Ali Abdillah (Jaringan Aktivis Filsafat Islam Jogja)

Konteks Keislaman “Akal yang baligh semestinya melihat agama (Al Qur’an dan Sunnah) sebagai pakaiannya baik secara teoritis (ilmu) dan praktis (amal).

Namun manusia tak cukup hanya sadar/tau akan keperluan akalnya ( keberpikiran dan tindakannya) selaras dengan agama.

Sebagaimana disebutkan oleh para Sufi khususnya Jalaluddin Maulana Rumi. Beliau berkata kurang lebih seperti ini “bahwa kaki kaum berakal itu seperti kursi yang kakinya rapuh”.

Hal itu untuk menegaskan fungsi HATI untuk bisa menerima agama secara ikhlas dan totalitas ketaatan. Sebab melalui totalita ketaatan secara sadar dan ikhlas maka sifat sifat ilahi ( adil, bijaksana, pengasih, penyayang) akan hadir dalam hati sang hamba yang tercermin melalui setiap perkataan dan perbuatannya.

Untuk sampai pada keadaan itu ,kita butuh melembutkan (feminitas tertinggi) diri kita melalui pengkondisian ilmiah. Salah satu medan pengkondisian ilmiah adalah keluarga. Keluarga sebagai sarana tarbiyah (pendidikan jiwa), tanpa menutup ruang lainnya. Sebab dalam rumah tangga benar benar teruji sikap lembut (kasih sayang, sabar, saling memahami, saling pengertian).

Keluarga juga menjadi ruang untuk bebas dari kepura-puraan. Karena intensitas pertemuan lebih tinggi (24 jam), gerak-gerik dan ucapan mudah terpahami ,luar dalam menjadi nampak. Jika di masa single, masih memikirkan diri sendiri, maka dengan berkeluarga semestinya bisa mengikis egoisme individu. Kkarena sudah bicara kepentingan bersama, tuntutan menjaga hubungan, saling menjaga, saling menghargai dan menghormati hak bersama.

Sebagaimana dalam Tafsir Suroh Al ‘raf, ini bukan persoalan adam atau hawa, tetapi ikatan/hubungan keduanya. Yang mendasar adalah ikatannya, apakah ikatan atau hubungan itu adalah ikatan/hubungan kasih sayang, pengertian, perhatian, kesejukan, dukungan, kelembutan atau sebaliknya, benci, amarah, kekerasan ( ucapan dan sikap), ketidakpedulian, dan ketidaksaling pengertian?

Bagaimana mungkin di ruang publik atau depan umum (masyarakat) kita nampak sebagai sosok orang yang baik, pengasih, penyayang, bijak, adil sementara untuk anak, istri dan orang tua kita belum menunaikan haknya, berbuat adil, baik, penyayang, pengasih?

Mungkin inilah satu alasan dari sekian banyak alasan kenapa nabi mensunnahkan pernikahan kepada ummatnya. Yaitu sebagai media pendidikan diri khususnya melembutkan hati/jiwa sebagai pra kondisi mengamalkan agama secara utuh (kaffah), sebab tidak mungkin kita menghadap ilahi dengan membawa daya tolak (resistensi/perlawanan). Yaitu melembutkan kekasaran atau karatan karatan di hati kita.

Adapun resistensi atau daya tolak kelak adalah konsekuensi kita memakai/mengamalkan agama. Melalui pakaian agama ( Al Qur’an dan Sunnah) maka dengan sendirinya terfilter antara yang hak dengan batil( kebenaran epistemologi dan ontologi) juga terfilter antara tindakan yang mesti dengan tidak mesti (ideologi). Mungkin dalam keadaan inilah pantas kita bicara nilai.

Konsekuensi saya mengafirmasi nilai agama, kebaikan, keadilan, kebenaran, dengan sendirinya ternafikan/tertolak keburukan/kedzoliman/kebatilan.

Jadi , kebencian tidak mesti dilawan cukup sebar dan perkuat cinta, kedzoliman pun tidak mesti di lawan cukup tegakkan keadilan.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up