Berita

Video Penemuan Kuburan Massal Rohingya Di Rakhine Berhasil Diselundupkan Keluar

Kanigoro.com – Sebuah video yang menggambarkan kuburan massal Rohingya di Rakhine berhasil diselundupkan keluar oleh seorang aktivis Burma Human Right Network.

“Aktivis lokal yang mengambil video ini menempuh risiko besar demi memberi tahu dunia tentang apa yang terjadi di tempat tinggalnya,” kata Kyaw Win, Direktur Burma Human Rights Network.

Rakhine, negara bagian berpenduduk mayoritas Muslim di Myanmar yang selama ini menjadi tempat tinggal Rohingya, memang daerah tertutup. Orang asing tak diperbolehkan masuk ke sana.

[youtube]FH7vabAweDo[/youtube]

[read more=”Selengkapnya]

“Dengar, mereka menembakkan senapan. Lihat, mereka melempar api ke rumah-rumah itu dan sekarang semua terbakar. Hampir semua orang terbunuh di Desa Chut Pyin. Mereka (tentara) datang 20 menit lalu dan tak membiarkan siapapun lolos.”

Ucapan yang membuka video di atas disampaikan oleh seorang warga desa tetangga kepada aktivis lokal di Rathedaung, kota kecil di negara bagian Rakhine, Myanmar. Video berisi percakapan dalam bahasa setempat itu diterjemahkan oleh Burma Human Rights Network ke dalam bahasa Inggris.

Terlihat pada bagian awal video, di kejauhan, asap hitam membubung tinggi ke langit, dengan kobaran api kuning merah mengamuk memenuhi darat. Pemandangan itu tampak mencolok, kontras dengan kesan sejuk biru pegunungan yang menjadi latar, dan padi hijau segar menghampar di sekeliling desa itu.

Hari itu Selasa (29/8), empat hari sejak militer Myanmar memulai operasi perburuan militan Rohingya–yang ikut menewaskan banyak penduduk sipil tak berdosa.

“Mereka mengepung desa dari segala sisi dan menembakkan senjata,” ujar seorang warga, berbicara kepada aktivis lokal yang bertaruh nyawa dengan merekam situasi di desa-desa Rohingya di Rakhine yang tengah diserbu tentara.

Ia mengatakan, di wilayah sekitar tempat tinggalnya, semua desa dibakar. “Kini mereka baru menyalakan api di Desa Zay Di Pyin. Saya tidak tahu apa yang mereka perbuat pada Muslim di dalam desa itu.”

Muslim Rohingya yang bisa kabur ketika desa-desa mereka dibakar, berlari ke segala penjuru, bersembunyi di hutan dan pegunungan.

Setelah kobar api surut dan hari berganti, warga dan aktivis yang merekam video kemudian memasuki Desa Chut Pyin, Rathedaung. Di dalam desa itu, rumah-rumah penduduk tak lagi ada. Hanya ada pepohonan–dan kuburan massal.
“Ini tempat di mana mayat-mayat peduduk Chut Pyin dikubur. Di titik ini, ada sekitar 10-20 jasad, dengan 2-3 mayat dalam satu lubang yang sama. Sementara sudut ini lubang kuburan yang masih baru, berisi 10-20 orang,” ujar warga tersebut.

Ia–yang tinggal di desa tetangga, Ah Htet Nan Yar–mengatakan tak tahu persis berapa orang yang sudah terbunuh di desa itu. Jasad-jasad, setelah dievakuasi secara acak sore dan malam harinya, dikuburkan segera, secepat mungkin.
Yang keterlaluan, kata dia, ketika ada penduduk hendak mengambil mayat kerabat dan kenalannya, tentara menembaki mereka. Militer tak mau mayat-mayat yang berserak di desa, dibawa untuk dikuburkan di luar desa.

“Pagi ini ketika orang-orang datang lagi ke sini untuk mengambil jasad-jasad korban, mereka mendapati semua mayat dibakar dengan bensin.”

Masyarakat diminta tak datang ke desa itu lagi untuk mencari mayat, karena semua jasad telah dibersihkan. Sisa jasad dibakar tak bersisa.

Padahal, ujarnya, orang-orang itu tak bersalah. Mereka tidak melakukan kejahatan, tidak menyerang siapapun, tidak berkelahi dengan siapapun.

Sejauh ini, ujarnya sambil terus berjalan cepat sambil berbicara kepada perekam video, ia telah melihat 35 orang terluka tembak di Desa Chut Pyin.

“Pengungsi tersebar di berbagai tempat. Amat sulit untuk mengetahui angka pastinya. Angka kematian pun bisa terus meningkat.”

“Sejauh ini tercatat 135 nama yang masuk dalam daftar korban tewas di desa ini. Mayat para korban dikubur kemarin dan hari ini.”

Bagaimana dengan korban luka? Mereka–sedihnya–tak mendapat pengobatan karena ketiadaan fasilitas.

Memasuki desanya sendiri di Ah Htet Nan Yar, sebagian warga tampak mengobati kerabat mereka yang terluka tembak.
“Sejumlah kelompok bersenjata datang serentak ke desa ini. Juga orang muda menyandang senjata di tangan. Senjata itu berasal dari pemerintah. Mereka memang datang dengan tentara, menyerang penduduk bersama,” kata seorang warga.

Di lokasi lain, berkumpul lelaki pengungsi dari Desa Kyee Kan Pyin, utara kota Maungdaw. Mereka bercerita tentang detik-detik tentara menyerbu desa mereka.
“Kami sedang sembahyang Jumat, tiba-tiba penyerang bersenjata tajam seperti pedang, tombak, dan senapan, berdatangan. Mereka tiba bersama tentara dan polisi, dan langsung membakari rumah-rumah,” ujar seorang di antara mereka.

“Para penyerang membakar rumah-rumah kami dengan menembakkan roket api. Seisi desa habis terbakar.”
Kelompok penyerang gabungan sipil-militer itu juga melepas rentetan tembakan ke udara, membuat warga berlarian ke arah tambak udang di timur desa yang sedang pasang. Tak pelak, beberapa penduduk yang hendak menyelamatkan diri justru tewas tenggelam ketika mencoba menyeberangi tambak itu, melawan air pasang.

Sementara warga yang tak berhasil meloloskan diri dan terjebak di dalam desa, terbakar hidup-hidup bersama kobar api yang melahap rumah mereka.

Genosida. Itulah yang diyakini para pegiat kemanusiaan sedang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap Rohingya–yang tak diakui sebagai warga negara mereka. Sebuah kejahatan kemanusiaan yang didiamkan oleh peraih Nobel Aung San Suu Kyi yang kini secara de facto menjadi penguasa Myanmar.

[/read]

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up