Berita

Tiga Partai Siap Bentuk Koalisi Poros Tengah, Cawapres Sudah Ada, Capresnya Belum

Cak Imin atau AHY bisa jadi Cawapres, Bagaimana dengan Bang Zul?

Kanigoro.com – Pemilihan presiden terakhir melalui MPR RI di tahun 1999, barangkali tidak akan pernah dilupakan para politisi partai Islam atau berbasis masa Islam. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang meraih suara terbanyak (33,74%) gagal memenangkan pemilihan presiden. Dalam pemilihan head to head Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri dikalahkan Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdurrahman Wahid. Padahal dalam pemilu PKB ‘hanya’ meraih 12,61% suara dan menduduki urutan ke-3 setelah PDI-P dan Partai Golkar. Penyebabnya tak lain adalah koalisi partai-partai medioker yang digagas Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) M. Amien Rais lalu disebut poros tengah.

Menjelang Pemilu 2019, pemilu pertama yang menggabungkan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, sebagian publik mungkin sudah dibuat gerah dengan kemungkinan pertarungan ulangan Pilpres 2014 yang mempertemukan Jokowi dan Prabowo. Lebih gerah lagi ketika ada upaya menyatukan Jokowi dan Prabowo menjadi pasangan capres-cawapres, meski konsekuensinya hanya bertarung dengan kotak kosong, alias menjadi calon tunggal.

Angin segar sedikit berhembus Kamis (8/3) lalu ketika sejumlah politisi Partai Demokrat, PKB, dan PAN  menggelar pertemuan membahas sejumlah hal terkait Pemilu 2019, termasuk kemungkinan membentuk poros ketiga atau poros tengah.

Dua poros sebelumnya, yang satu mendukung kembali Joko Widodo sebagai calon presiden pada pilpres 2019 poros lainnya akan mengusung Prabowo Subianto.

“Kita membahas gagasan poros tengah itu, poros ketiga,” jelas Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan.

Berdasarkan hitung-hitungan kursi DPR RI, ketiga partai yang bertemu ini sudah memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan capres-cawapres sendiri. Partai Demokrat memiliki 61 kursi, PAN 48 kursi dan PKB 47 kursi, total 156 atau 27,9% kursi DPR RI. Pendukung Jokowi Partai NasDem (36 kursi atau 6,4% kursi DPR), PDI-P (109;19,4%), Partai Golkar (91 kursi;16,2%), PPP (39; 7%) dan Partai Hanura (16; 2,9%). Total partai pendukung Jokowi menguasai 291 atau 51,9% kursi DPR. Beberapa partai baru juga ikut mendukung Jokowi seperti Perindo dan PSI. Sementara pendukung Prabowo meski hanya dua partai juga sudah memenuhi persyaratan, karena Partai Gerindra memiliki 73 kursi DPR RI atau 13% dan PKS mempunyai 40 atau 7,1% kursi. Jadi total pendukung Prabowo memiliki 113 atau 20,1% kursi DPR RI.

Lalu siapa yang hendak diusung menjadi capresnya? Pertemuan ketiga partai itu belum membicarakannya, tetapi lebih kepada mengintensifkan komunikasi antara tiga partai. Pembicaraan berikut masih sangat terbuka dilakukan untuk menggodok kemungkinan terbentuknya poros ketiga ini.

Menurut pengamat pemilihan umum (pemilu), Girindra Sandino, wacana pembentukan poros ketiga pada pilpres 2019 yang diinisiasi Partai Demokrat sangat mungkin bisa terjadi. Syaratnya, Demokrat, PAN, dan PKB berkomitmen mewujudkan rencana itu.

Pembentukan poros baru ini wajar terjadi meski diakuinya akan sulit terwujud. “Namun demikian, politik itu dinamis,” kata Sandino di Jakarta, Jumat (9/3), sebagaimana dikutip Antara.

Sandino yang juga Wakil Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia ini, menyebut parpol-parpol yang ingin membangun poros ketiga pasti sudah membaca peta politik dan dinamika perilaku pemilih Indonesia. Pemilih selalu merasa euforia terhadap hal-hal baru yang mengedepankan harapan baru.

“Ini sebuah alternatif, pemusnah kejenuhan politik. PKB dan PAN sudah menuju ke arah situ. Saya kira sudah betul arah politik PKB dan PAN membangun poros ketiga alternatif politik untuk rakyat,” ujarnya.

Akan tetapi, sebelum terbentuk saja, banyak isu penting yang belum dijawab kelompok poros ketiga ini. Misalnya, siapa yang bakal menjadi capres/cawapres poros ini? Dari tokoh-tokoh yang diusung ketiga partai ini, belum memiliki tingkat keterpilihan tinggi sebagai capres.

“Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) belum memenuhi kriteria sebagai capres, lebih baik sebagai cawapres,” kata Sandino.

Jika PKB menyodorkan Cak Imin (Muhaimin Iskandar) dan Demokrat menawarkan AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), bagaimana dengan PAN? Sebelumnya sudah cukup santer diberitakan PAN hendak mendorong Bang Zul (Zulkifli Hasan) maju dalam pilpres. Bahkan pendiri PAN, M. Amien Rais juga ikut mendukung pencapresan Bang Zul.

Kalau ketiga partai yang hendak membentuk poros ketiga ini sama-sama kukuh dengan figurnya, tentu koalisi akan berantakan. Agar tetap solid, dua dari tiga nama itulah yang mesti diusung dan dipastikan posisinya. Inilah PR utama pembentukan poros ketiga.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: