Berita

Tahu Tidak? Tarif Tol Indonesia Ternyata Termahal se Asia Tenggara

Kanigoro.com – Pemerhati Infrastruktur dan Kebijakan Publik Suhendra Ratu Prawiranegara kembali menyoroti masalah jalan tol. Menurutnya, capaian pembangunan infrastruktur jalan tol di Indonesia yang diklaim oleh pemerintah, memang secara bijak harus diapresiasi. Seperti diketahui pada akhir tahun 2018 lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan dan meresmikan beberapa ruas jalan tol Trans Jawa. 

Namun Suhendra menambahkan, bahwa dari capaian tersebut tidak serta merta memberikan efek positif atas sektor-sektor lainnya. Dia pun menyoroti beberapa hal terkait pembangunan jalan tol.

“Pembangunan jalan tol Trans Jawa ini sudah barang tentu mengakuisisi lahan-lahan produktif pertanian dan perkebunan. Baik itu lahan milik perorangan masyarakat atau milik korporasi (perusahaan). Bahkan ada juga lahan produktif milik BUMN. Jika yang terkena adalah lahan produktif pertanian (sawah) tentu akan berdampak pada produksi padi setempat,” ujarnya.

Dikemukakan Suhendra, bahwa dampak negatif pembangunan tol Trans Jawa yang mulai dirasakan adalah secara perlahan-lahan UMKM di wilayah pantura Jawa mengalami mati suri. Salah satunya Kota Pekalongan yang sebelumnya diketahui sebagai sentra batik nasional.

“Para pengusaha batik di Pekalongan sudah banyak mengeluh, dikarenakan omset yang menurun semenjak tol Trans Jawa beroperasi tersambung. Saya mempunyai video, testimoni dari pedagang batik di Pekalongan. Hal semacam ini merupakan koreksi dan kritik atas kebijakan pemerintah dalam mengunggulkan infrastruktur khususnya jalan tol,” tambah Suhendra.

Mantan Saf Khusus Menteri PU (2005-2009) dan Staf Khusus Menteri PUPR (2014-2018) juga menyoroti mahalnya tarif tol Trans Jawa yang sudah dirasakan para pengusaha logistik (angkutan barang). Dikatakan Suhendra berdasarkan informasi yang diperolehnya, angkutan truk (pembawa logistik) telah berpindah kembali menggunakan jalan nasional/pantura dikarenakan tarif tol yang mahal. 

“Biaya atau tarif tol bisa mencapai 1,5 s.d 2 juta rupiah. Ini tentu akan membuat para pengusaha logistik menjerit. Informasinya juga mereka sudah melakukan protes kepada pemerintah. Pemerintah melalui kementerian yang berwenang sudah merespon keluhan ini, untuk merevisi besaran tarif. Kesimpulannya pemerintah sepertinya mengakui, bahwa tarif tol trans Jawa memang kemahalan.”

Untuk diketahui publik, bahwa ternyata tarif tol di Indonesia memang “termahal” jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.

“Sebagai perbandingannya adalah berikut ini. Rata-rata tarif tol di Indonesia per kilometernya berkisar antara Rp1.300 s.d Rp1.500. Sementara di negara-negara anggota ASEAN, seperti Singapura Rp778 per kilometer, Malaysia Rp492 per km, dan Thailand dalam kisaran Rp440 per kilometernya. Bahkan dibanding dengan Vietnam dan Filipina pun tarif tol di Indonesia masih lebih tinggi (mahal). Vietnam dalam kisaran Rp1200 per kilometer, sedangkan Filipina Rp1050 per kilometer,” ungkap Suhendra.

Dengan merujuk fakta dan angka tersebut, Suhendra menyebut tak aneh jika para pengguna jalan tol di Indonesia memprotes tarif tol yang mahal tersebut.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up