Berita

Suhendra: Jalan Tol itu Milik Negara, Bukan Milik Pribadi, Kelompok atau Korporasi

Kanigoro.com – Pernyataan Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, dalam acara silaturahmi Jokowi dengan Paguyuban Pengusaha Jawa Tengah yang digelar di Semarang Town Square pada Sabtu (2/2) lalu, terus menuai kritikan. Dalam acara tersebut Hendrar mengatakan banyak pihak membully Presiden Joko Widodo terkait jalan tol. Merespon hal itu, Hendrar meminta agar pihak-pihak yang tidak mendukung Joko Widodo agar tidak menggunakan jalan tol.

Spontan pernyataan Hendrar menuai kritik dan tanggapan begitu diberitakan berbagai media. Kritik juga datang dari Suhendra Ratu Prawiranegara, pengamat infrastruktur yang pernah menjadi Staf Khusus Menteri PU (2005-2009) dan Staf Khusus Menteri PUPR (2014-2018).

“Logika berpikir Walikota Semarang ini, menurut hemat saya agak aneh dan di luar nalar akal sehat. Mengapa demikian? Pertama saya sampaikan, jalan tol tersebut berdasar UU Jalan Nomor 38 tahun 2004 adalah milik negara. Karena jalan tol adalah bagian dari jalan nasional. Jadi tidak ada seorang pun di republik ini yang dapat mengklaim bahwa jalan tol adalah milik pribadi, atau korporasi tertentu,” jelas Suhendra.

Dikatakan lebih lanjut oleh Suhendra, bahwa korporasi (Badan Usaha Jalan Tol/BUJT) hanya mengelola konsesi dalam mencari pengembalian biaya investasi dan keuntungan. Sehingga menurut Suhendra, Presiden sekalipun bukan pemilik atas jalan tol yang ada di Indonesia.

“Termasuk Presiden Joko Widodo, bukan pemilik sejengkal pun jalan tol di Indonesia. Ini hal substansial yang harus dipahami oleh Walikota Semarang, saudara Hendrar Prihadi, agar jangan sembarang bicara,” tegasnya.

Merujuk pada jalan tol Trans Jawa yang telah beroperasi sekarang, disebut Suhendra harus diapresiasi atas capaian ini. Namun prestasi ini tidak serta merta menjadikan gelap mata dan melupakan rangkaian sejarah dan peristiwa dalam perencanaan, proses pembebasan lahan, proses konstruksi, skema pembiayaan, hingga beroperasinya ruas-ruas jalan tol tersebut.

“Membangun jalan tol di Indonesia tidak serta merta jadi (terlaksana) dalam kurun waktu 1-3 tahun, jika terdapat proses pembebasan lahan. Ini kesimpulan saya, tesis saya. Hal ini dapat dilihat dari data statistik dan empirik di lapangan,” tambahnya.

Dijelaskan Suhendra, bahwa fakta-fakta tentang pembangunan infrastruktur jalan tol harus dijelaskan gamblang oleh pemangku kepentingan, agar publik mengetahui. Hal ini menurutnya cukup penting dilakukan.

“Publik harus tahu bahwa Tol Trans Jawa sudah ada perencanaan dan cetak birunya sejak era Soeharto. Jauh sebelum Joko Widodo berkuasa. Kemudian harus diapresiasi bahwa Presiden SBY memberikan fundamen dan policy yang siginifikan sejak tahun 2005 untuk menyelesaikan 24 ruas tol Trans Jawa. Riwayat ini tidak bisa dihapus, karena terekam dalam dokumentasi-dokumentasi dan jejak digital,” imbuhnya.

Menurut Suhendra, tol Trans Jawa dirancang dan dilaksanakan sejak Kementerian PUPR, masih disebut Departemen PU. Dalam era SBY dibentuk badan regulasi, yakni Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), disiapkan peraturan perundangannya dan mulai dilaksanakan kegiatan konstruksi Tol Trans Jawa.

“Saya dapat menyampaikan ini karena saya ikut dalam proses tersebut. Saat itu penanggung jawab langsung proses pembangunan tol Trans Jawa adalah Ditjen Bina Marga Departemen PU dan BPJT, yang dikoordinasikan langsung oleh Sekjen Departemen PU, almarhum Roestam Sjarief,” terang Suhendra.

Dalam proses tersebut, Suhendra bertanggung jawab langsung kepada Menteri PU (saat itu Joko Kirmanto). Ketika itu Basuki Hadimuljono menjabat sebagai Badan Litbang PU, yang menurutnya tidak in charge dalam proses pengambil kebijakan dan prosesnya.

“Publik juga harus mengetahui, bahwa ruas-ruas jalan tol yang dibangun dalam era Joko Widodo, yang dikomandoi oleh Basuki Hadimuljono sebagai Menteri PUPR hanya ruas tol Trans Sumatera dan Jakarta-Cikampek elevated. Kedua jalan tol tersebut merupakan ruas jalan tol yang dilaksanakan sejak proses awal di era pemerintahan Joko Widodo. Yang melaksanakan proses perencanan, pembebasan lahan, pendanaan dan konstruksi,” papar Suhendra.

Suhendra juga berpendapat perlunya mengecek, apakah target pelaksanaan pembangunan kedua jalan tol tersebut sudah tercapai dan sesuai dengan target?

“Seperti kita ketahui ruas tol Pekanbaru- Dumai, proses pembebasan lahannya belum beres dan jauh dari target. Lalu Cikampek Elevated, apakah juga sudah sesuai target dan perencanaan? Karena masih banyak ditemukan kendala-kendala teknis di lapangan. Juga pembangunan jalan tol Cikampek ini terkesan dipaksakan dan terburu-buru. Jangan malahan nantinya menimbulkan persoalan baru bagi pengguna tol Cikampek elevated, misalnya dari sisi safety, keselamatan pengguna jalan tol menjadi taruhan. Hal ini penting diingatkan dan menjadi concern kita bersama,” pungkas Suhendra.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up