Berita

Simposium Keumatan: Menuju Rekonsiliasi HMI DIPO dan HMI MPO

Kanigoro.com –  Hari kedua Simposium Keumatan yang diselenggarakan oleh KAHMI Yogyakarta lebih banyak menyoroti sejarah perpecahan HMI DIPO dan HMI MPO. Simposium Keumatan dengan tema “Menatap Masa Depan Keumatan” bertempat di Auditorium Badan Wakaf UII Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Selasa (23/1).

Simposium Keumatan KAHMI DIY ini berlangsung dua hari, pembicara simposum antara lain Lukman Hakiem (Mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta), Eggy Sudjana (Mantan Ketua Umum HMI MPO Pertama), Harry Azhar Aziz (Mantan Ketua BPK), Mulyadi P Tamsir (Ketua Umum PB HMI saat ini), Abdullah Hehamahua, S.H., M.M (Ketua Komite Etik KPK), Akbar Tanjung (Mantan Ketua Umum HMI), dan Puji Hartoyo (Mantan Ketua Umum HMI MPO)

Simposium Keumatan ini membicarakan tema besar persatuan dan kesatuan umat menjadi sebagai agenda prioritas dalam menata masa depan keumatan. “Simposium ini harus mempunyai peran untuk meneruskan gerakan dakwah, menata jenjang, dan dinamika keumatan. Serta bagaimana mengatur langkah kita bukan hanya dalam lingkup organisasi namun juga nasional”, ujar Muhammad Natsir Sahib,  ketua panitia penyelenggara.

Ketum HMI Mulyadi Tamsier bersama tokoh tokoh KAHMI

Para pembicara banyak menyoroti bagaimana menyatukan kembali HMI DIPO dan HMI MPO yang terbelah akibat kebijakan Azas Tunggal Pancasila. Menurut mantan Ketua HMI Cabang Yogyakarta,  Lukman Hakiem,  KAHMI memiliki andil dalam perpecahan HMI, “Yang paling berdosa adalah KAHMI, pada Februari 1984, KAHMI mendatangi Mensesneg – Soedarmono, KAHMI menyatakan “menerima azas tunggal Pancasila”. Pak Soedarmono menepuk-nepuk pundak Cak Nur. Selanjutnya penerimaan azas tunggal dilakukan oleh Jatim, Sulsel dan sebagainya”.

Menurut Mulyadi P Tamsir,  setelah pencabutan azas tunggal, rekonsiliasi adalah suatu keharusan. “Rekonsiliasi struktural melalui kongres bersama, diawali rekonsiliasi kultural, diawali kegiatan bersama, seperti pelatihan kepemimpinan nasional. Upaya rekonsiliasi berlandaskan prinsip kesetaraan, tidak ada hegemoni (lebih Islami, lebih besar) dengan membentuk tim bersama – kesetaraan dengan langkah-langkah: sosialisasi rekonsiliasi sampai level cabang dan komisariat; melakukan rekonsiliasi kultural melalui kegiatan bersama; dan menyusun langkah-langkah rekonsiliasi”.

Sementara Mantan Ketua Umum HMI MPO Puji Hartoyo, langkah rekonsiliasi HMI mesti segera dimulai. “Perlu segera mengadakan sosialisasi ke cabang-cabang dan diselenggarakan dialog kultural di tiap cabang”. Proses kultural lebih dikedepankan, melalui dialog, kegiatan bersama, perkaderan bersama. Langkah-langkah rekonsiliasi yang perlu dilakukan antara lain: ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling membantu) dan (saling menjaga).

Semua pembicara berharap HMI segera bersatu kembali, “Saya kalau meninggal belum tenang, bila HMI belum bersatu”. Demikian kerinduan tokoh senior HMI Abdullah Hehamahua. (laporan: R Irawan/Sunano)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up