BeritaFeatured

Refleksi Harba PII ke 72: Kolaborasi Generasi Muda Islam, Mengeratkan Persatuan Bangsa

Kanigoro.com – “Organisasi PII didirikan pada Tahun 1947 oleh Kanda Joesdi Ghazali, Amien Syahri, Anton Timur Djaelani, Ibrahim Zarkasji, Noesyaf dan lain-lain yang mencoba mensintesakan lahirnya intelek ulama dan ulama yang intelek di antara HMI, GPII dan Kepanduan,” demikian sambutan dari kanda HM Halimi Ibnu Jazim, SE,MM selaku ketua umum PW KBPII Yogyakarta Besar pada Refleksi Hari Bangkit (HARBA) Pelajar Islam Indonesia (Pll) ke-72, Sabtu (4/5) pukul 19.30 dihadapan ratusan anggota dan pengurus PW KBPII YOGBES, delegasi dan pengurus PD PII se Yogyakarta Besar, di Gedung KBPII YKU Jalan Mangkuyudan 34 Yogyakarta.

Selanjutnya Refleksi Harba PII ke-72 disampaikan oleh Kanda Ir. Muslich Zainal Asikin, M.T. mantan Ketum PW KBPII pertama.

Beliau menegaskan, pertama, PII yang pelajar ini dalam fakta sejarah 1960 menjadi tulang punggung perjuangan umat Islam dalam menghadapi agresi Belanda pasca kemerdekaan 1945 dan Nasakom. Fakta sejarah Itulah yang diakui Bapak Jenderal Sudirman, bahwa organ pelajar PII lah yang berhadapan langsung dengan kekuatan Nasakom.

Kedua, sekali lagi PII pada Tahun 1965 menjadi tulang punggung Gerakan Pemuda Nasional lebih dari ormas muda lain. Isu-isu dan kegiatan umat Islam, terlepas dari lahan Bhakti dan Amal organisasi, meskipun tujuan PII tetap kesempurnaan pendidikan yang berdasarkan Islam.

“Sekali lagi paska reformasi era keemasan itu lewat, anak-anak PII kehilangan lahan dakwah, brand pendidikan dan pelajar dilepas/terlepas dari meja kegiatan organisasi, digantikan PKS dan sebagainya. Akhirnya PII kian ditinggalkan murid sekolah dan kampus, inilah tantangan Anda,” tandas kanda Muslih yang juga sedabagai Direktur Abhisheka College Yogyakarta.

Berkaitan dengan perkembangan IT yang pesat sekarang ini serta perubahan sosial politik dan perilaku remaja, kanda Muslih yang juga sebagai Ketum Masyarakat Transportasi lndonesia (MTI) Yogyakarta ini menegaskan, Aktivis PII jaman now harus segera menemukan fokus kerjanya; merumuskan ulang visi dan realitas lahan garap, mulailah dari DIY kemudian Yogyakarta Besar. mengidentifikasi struktur organisasi, soalan pendidikan, dana BOS, Kartu Indonesia Sehat, mengelola portal IT pendidikan yang terbuka lebar di era G.05. (Sdn/Ad)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up