Berita

Pentingnya Mempertahankan Nilai Kejujuran dalam Kehidupan Berkeluarga, Berbangsa dan Bernegara

Oleh: Drs. H. Muh. Adil Mastjik, M.Pd. (Wakil Ketua KBPII Jawa Timur)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X

Walillahilhamdu

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Pemilu 2019 telah kita lewati dengan segala catatan yang masih harus diselesaikan dan meminta kesabaran kita semua bangsa Indonesia. Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini 1440 H. kita masuki semakin semaraknya kaum muslimin meningkatkan ibadahnya, dengan melaksanakan sholat tarawih, witir, i’tikaf, membaca Al Qur’an, ber-infaq dan ber-sodaqoh.

Semoga semua yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan karena Allah semata, akan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu.” (HR.Sunan Nasa’i no. 2175)

Kaum muslimin yang berbahagia. Rokhimakumullah.

Bulan Ramadhan kemarin sudah meninggalkan kita, disatu sisi Allah SWT. telah melaparkan, mengontrol dan mengistirahatkan jasmani kita, tetapi di sisi lain sebetulnya Allah SWT. telah mengenyangkan, menguatkan dan membahagiakan Ruh kita, dan kita akan memasuki babak baru dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara dengan modal yang sudah diperoleh selama Ramadhan.

Mudah-mudahan dalam bulan Ramadlan yang baru kita lewati kita telah berhasil melaksanakan amalan-amalanyang dituntunkan di bulan Ramadlan, seperti shalat tarawih, memperbanyak sedekah, membaca dan mempelajari isi Al-Qur’an, i’tikaf, membayar zakat fitrah dengan baik, sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah Saw. Sehingga kita dapat memperoleh derajat muttaqin yang menjadi dambaan setiap orang yang berpuasa.

Hadirin Rahimakumullah.

Selain memperoleh derajat muttaqin, mudah-mudahan kita juga dapat memetik hikmah selama bulan Ramadlan. Rasulullah bersabda :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Nabi Shallallu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Orang yang bertransaksi jual beli berhak khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.” (HR. Muslim 2825)

Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang, masa yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disampaikan Rasulullah Saw.

Ada dua peristiwa. Pertama : Rasulullah yang bergelar al-amin karena terkenal akan kejujurannya menjadi daya tarik tersendiri dari Siti Khadijah untuk melibatkan Rasul dalam bisnis lantaran gelar tersebut. Orang yang jujur dalam berbisnis biasanya akan menambah berkah dan kebaikan, ujar Khadijah.

Saat berdagang, Rasulullah selalu jujur dalam menjelaskan kualitas barang. Misalkan (merujuk pada saat sekarang), jika barangnya original maka disebut original. Jika barangnya premium maka disebut premium, KW1, dan seterusnya. Sehingga, pembeli tidak merasa dirugikan.

Kedua: Diriwayatkan bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut berlaku jujur dan tidak bohong.

Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.
Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak. Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan. Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi, penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.

Puasa Melatih Kejujuran

Tidak adil rasanya jika kita terus mengkritisi hingga memprotes terhadap kondisi. Mengubah masyarakat agar menjadikan nilai-nilai kejujuran dalam jujur berkata dan bertindak memang bukan perkara mudah.
Namun jika terus mengkritisi dan memprotes keadaan juga bukan suatu tindakan yang bijak.

Bulan Ramadan bisa menjadi momen penting untuk mengasah kejujuran perkataan dan tindakan. Lantaran puasa menjadi ibadah istimewa, maka puasa bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan rasa kejujuran.

Kita dapat saja makan dan minum seenak kita di tempat tempat yang tertutup dan sunyi yang tidak terlihat oleh siapapun. Akan tetapi karena kita sedang berpuasa maka dalam kondisi apapun dan dalam cuaca apapun tidak akan mau melakukan perbuatan makan dan minum tersebut, walaupun tidak ada orang lain yang melihat.

Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain.

Kejujuran hati kitalah yang akan mengatakan “Pasti Allah SWT melihat apa apa yang kita kerjakan”.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran. Namun kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh.

Ada sebuah kata mutiara;

“Jadikanlah kebenaran (al Haq) sebagai tempat kembalimu (rujukanmu), kejujuran sebagai tempat pemberangkatanmu, sebab kebenaran adalah penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping utama”.

Pada saat awal reformasi beredar joke yang mengatakan bahwa orang Indonesia itu mempunyai tiga karateristik, yaitu cerdas, jujur dan loyal. Sayangnya ketiga ciri itu seringkali muncul secara tidak lengkap. Orang yang cerdas dan jujur, seringkali tidak loyal. Orang yang cerdas dan loyal, seringkali tidak jujur. Orang yang loyal dan jujur, seringkali tidak cerdas. Itu tentu hanyalah joke dan tentu sebagai bangsa Indonesia kita berharap tidak benar-benar terjadi. Si pembuat joke juga orang Indonesia yang tentunya tidak bermaksud kurang baik, yaitu menjelek-jelekan bangsa sendiri, tetapi bermaksud baik, yaitu mengingatkan pentingnya ketiga ciri itu harus dikembangkan secara lengkap.

Akhir-akhir ini juga berkembang ungkapan bernada kecewa, yaitu ”mencari orang pandai itu mudah, tetapi mencari orang jujur sangat
sulit”. Ungkapan itu merupakan indikator bahwa kejujuran menjadi ”barang langka” sehingga sulit diperoleh dalam karateristik bangsa ini. Bahkan ada yang lebih lugas menyampaikan, yaitu

”carut marut bangsa ini berpangkal pada rusaknya moral bangsa, sehingga sebelum moral itu dapat diperbaiki sulit diharapkan dapat teratasi dengan tuntas”.

Penggalan lagu Indonesia Raya mengatakan ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Ada beberapa orang yang mengatakan, penyusun syair lagu itu bukan kebetulan, tetapi dengan kesadaran menempatkan ”membangun jiwa” lebih dahulu dan baru setelah itu ”membangun badan”. Membangun jiwa dapat ditafsirkan membangun moral, sedangkan membangun badan dapat ditafsirkan membangun kemampuan fisik dan keahlian. Jika tafsiran itu benar, berarti WR Soepratman telah menyadari dan berpesan bahwa dalam membangun bangsa, pembangunan moral harus dikedepankan. Paling tidak pembangunan moral tidak boleh diremehkan.

Rasulullah Saw bersabda;

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya pada diri manusia itu ada potensi, bila potensi itu baik, baiklah jasadnya; dan bila rusak rusaklah jasadnya, itulah HATI”. (HR.Bukhari no. 52 dan Muslim no.1599).

Al Gazali menganalogkan hati (qolbu) itu sebagai raja, pikiran/akal sebagai perdana menteri/panglima perang, sedangkan tangan/kaki sebagai tentara/pegawai. Yang menentukan apa yang harus dikerjakan, kemana pekerjaan itu diarahkan adalah raja (hati), sedangkan fungsi akal/pikiran adalah memikirkan bagaimana pekerjaan tersebut dapat dikerjakan dengan efektif dan efisien (perdana menteri/pengatur strategi), akhirnya tangan dan kaki yang melaksanakan tugas-tugas tersebut (pegawai/tentara).

Tentunya analogi tersebut dibuat, karena Al-Gazali meyakini bahwa hati nurani tidak pernah bohong dan jahat, sehingga ”dialah” yang seharusnya menentukan arah pekerjaan. Walaupun cerdas, akal/pikiran dapat tergelincir dalam ketidak jujuran, apalagi tangan/kaki. Kalau kita jujur, saat kita akan berbuat ”jahat” selalu ada ”bisikan” bahwa itu ”tidak baik”.

Tetapi seringkali, muncul pikiran untuk mencari dalih pembenar. Orang bijak mengatakan yang memberi peringatan itu adalah ”hati nurani”, sedangkan yang memberikan dalih pembenaran itu ”akal/pikiran”. ”Peperangan” antara hati nurani dan akal itulah yang akhirnya menentukan kemana langkah diayunkan. Jika hati-nurani yang menang, niat jahat tidak jadi dilaksanakan, sedangkan jika dalih pembenar yang menang, perbuatan jahat akan menjadi kenyataan.

Semakin terdidik, pikiran seseorang tentu semakin baik, semakin pandai dan semakin mampu memecahkan berbagai persoalan kehidupan, dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang dipelajari. Dan tentunya semakin pandai untuk mencari dalih pembenar. Namun demikian belum tentu yang bersangkutan semakin jujur.

Kejujuran tidak selalu paralel dengan kepandaian. Kejujuran memerlukan pola pengembangan yang tidak tepat sama dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu sangat tidak bijak mengembangkan kepandaian tanpa dibarengi dengan pengembangan moral, karena akan membuat yang bersangkutan semakin mampu untuk curang. Orang jahat yang pandai lebih berbahaya dengan orang jahat tetapi bodoh. Sebaliknya mengembangkan akhlak/moral tanpa diimbangi dengan pengembangan akal/pikiran/kepandaian juga kurang baik.

Orang yang jujur/ bijak, tetapi tidak memiliki keahlian tentu tidak mampu menerapkan kejujuran/ kebijakan tersebut dengan efektif. Ibarat raja yang bijak, tetapi tidak memiliki perdana menteri yang cerdas, tentu tidak mampu melaksanakan programnya dengan efektif. Sangat tepat, pepatah yang mengatakan ”ilmu tanpa agama/akhlak, bagaikan orang buta”, yang tidak tahu kemana harus pergi, sedangkan ”agama/akhlak tanpa ilmu” bagaikan orang lumpuh, yang tahu kemana harus pergi, tetapi tidak mampu mencapai tujuan itu dengan efektif. Oleh karena itu keduanya perlu mendapat perhatian seimbang.

Kita hanya bisa mengatakan bahwa kita telah menang dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan kalau kita mampu mengubah perilaku di dalam kehidupan keseharian kita selama sebelas bulan ke depan. Dari yang tidak jujur menjadi jujur, dari yang serakah menjadi suka berbagi, dan dari yang sombong menjadi rendah hati.

Rasulullah Saw. dalam sabdanya yang populer:

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”)

Jika ayah, ibu dan anak saling jujur maka keluarga akan sejahtera.
Jika majikan dan karyawan, pimpinan dan bawahan saling jujur maka perusahaan akan maju.

Jika penjual dan pembeli saling jujur maka keberkahan akan didapatnya.
Jika pemerintah, Presiden, menteri, pejabat dan rakyat saling jujur maka tentulah negeri ini akan makmur dan sejahtera ”BALDATUN TOYYIBATUN WAROBBUN GHOFUR

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan bimbingan dalam hidup kita, kepada para pemimpin kita dan seluruh bangsa Indonesia sehingga dapat segera terbebas dari berbagai ujian dan penderitaan.

Di antara Ahli hikmah mengatakan:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدْيدَ وَلَكِنَّ الْعِيْدَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

“Hari Raya itu bukanlah pada pakaian baru, melainkan Hari Raya itu bagi orang yang bertambah ketaatannya”.

Wallahu A’lam Bishawab.
Taqobbalallahu minna wa minkum.

Marilah kita akhiri ibadah ied ini dengan berdo’a dengan penuh kekhusyu’an dan ke-tawadhu’an.

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمدلله رب العمين. حمدايوافى نهمه ويكـاف مزيده ياربناولك الحدكما ينبغى لجلالك الكريم وعظيم سلطانك.الهم صل على محمدوعلى اله واصحابه اجمعين. والحمدلله رب العالمين.

Ya Allah Ya ilaahi, di pagi hari yang suci ini kami bersujud ke haribaan-Mu dan mengagungkan Asma-Mu, bertahmid, bertahlil dan bertakbir.

Ya Allah Yang Maha Pengampun: ampunilah dosa-dosa kami, karena kebodohan dan kelemahan hati kami, serta jauhkanlah kami dari malapetaka di dunia ini serta selamatkan kami dari siksa di akhirat nanti.

Ya Allah Yang Maha Pengasih; curahkan kekuatan pada diri kami dalam menghadapi gejolak kehidupan dunia ini dan berilah ketentraman batin kami serta satukanlah hati hambamu yang lemah ini.

Ya Allah Yang Maha Kuasa jadikanlah negeri ini aman sentosa, dan jauhkanlah aku dan anakku dari menyembah berhala, berhala harta, kekakayaan, jabatan, kekuasaan, keangkuhan, kesombongan dan berhala lain.

Tuhanku, sesungguhnya berhala itulah yang telah menyesatkan kebanyakan manusia.

Ya Allah Yang Maha Tunggal, satukanlah hati nurani kami dan hati nurani seluruh umat islam, serta bimbinglah untuk selalu berbuat kebaikan dan jauhkanlah dari berbuat kerusakan.

Ya Allah Yang Maha Penolong; limpahkanlah pertolongan kepada hamba-Mu yang berjuang menegakkan agama-Mu, dan runtuhkanlah orang-orang yang akan merusak agama-Mu.

Ya Allah, isilah hidup kami ini dengan segala kebaikan dan jauhkan hidup kami ini dari segala keburukan dan kerusakan.

Ya Allah Yang Maha Kuasa; anugerahilah kebahagiaan hidup kami di dunia dan di akherat nanti, serta selamatkanlah kami dari siksa api neraka yang pedih.

نصرمن الله وفتح قرب وصل الله على محمدوعلى اله واصحابه اجمعين
والحمدلله رب العالمين

Surabaya, 1 Syawal 1440 H

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up