Berita

Pengamat Sebut Kinerja Investasi BPJS Ketenagakerjaan di Lima Bulan Pertama 2018 Dinilai Belum maksimal

Kanigoro.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan baru saja merilis berita di berbagai media cetak maupun online tentang kinerja investasi selama 5 (Lima) bulan pertama di tahun 2018 ini. Dengan jumlah dana yang dikelola sebesar Rp327.66 Triliun hingga akhir Mei 2018 ini, Yield on Investment (YoI) yang diraih sebesar 9,86% dengan nilai nominal sebesar Rp13.24 Triliun.

Adapun perincian pengelolaan dana pada instrumen investasi saat ini adalah Surat Utang 61%, Saham 19%, Deposito 9%, Reksadana 10% dan 1 % pada instrumen investasi langsung. Hasil investasi ini didukung oleh jumlah tenaga kerja yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 47.49 juta orang dan dan tenaga kerja aktif sebanyak 27.69 juta pekerja.

Adapun hasil investasi selama tahun 2018 ditargetkan Rp32 triliun dengan dana kelolaan sebesar Rp367.88 Triliun. Dengan hasil selama lima bulan ini, Manajemen mengklaim pencapaian kinerja tersebut sudah apik karena BPJS Ketenagakerjaan tepat membaca kondisi perekonomian dan kebutuhan liabilitas perusahaan.
Tentunya kinerja investasi BPJS Ketenagakerjaan sudah baik, namun diharapkan kinerja investasi harus terus digenjot lagi hingga diharapkan bisa mencapai hasil dua digit, sehingga imbal hasil JHT di tahun ini bisa mencapai minimal 10% seperti capaian di tahun-tahun sebelumnya yaitu sebesar 10.55%, kata Timboel Siregar, Pengamat Ketenagakerjaan yang juga Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) di Jakarta Minggu (1/7/2018).

Timboel mengkritisi, kalau pun dinyatakan dalam rilis BPJS Ketenagakerjaan, ditargetkan hasil investasi bisa mencapai Rp32 triliun di tahun ini, namun dalam 5 bulan awal ini BPJS Ketenagakerjaan mendapatkan hasil Rp13.24 triliun.

“Ini artinya target hasil investasi tidak tercapai sebesar Rp 90 milyar selama 5 bulan ini karena seharusnya target sampai dengan Mei 2018 adalah Rp13.3 Triliun. Dengan target Rp 32 Triliun seharusnya rata-rata sebulan harus tercapai Rp2.66 Triliun, namun dalam lima ini bulan rata rata sebulan hanya tercapai Rp2.64 triliun (= 13.24 T : 5 bulan),” tuturnya.

Dengan adanya peningkatan 7 Days repo rate BI menjadi 5.25%, Timboel mengharapkan agar Manajemen BPJS Ketenagakerjaan khususnya Direktorat Pengembangan Investasi dapat mengambil momentum tersebut dan melakukan perubahan kajian-kajian alokasi aset investasi yang dapat meningkatkan imbal hasil untuk diberikan kepada peserta, sehingga momentum penurunan IHSG yang pada saat ini berada pada kisaran 5600-5800 tidak bisa dijadikan alasan utk menurunkan imbal hasil kepada peserta.

“Dengan adanya nomenklatur yang berbunyi pengembangan investasi, mohon kiranya manajemen BPJS Ketenagakerjaan benar-benar mengembangkan investasi dana peserta yang dapat langsung di nikmati oleh tenaga kerja (tidak hanya berkutat pada capital market) misalnya pengembangan rumah pekerja yang sampai sekarang belum optimal atau belum dirasakan oleh tenaga kerja,” ujarnya.

Timboel mengingatkan bahwa masih ada 7 bulan ke depan untuk menciptakan gain investasi yang lebih baik lagi. “Diharapkan kerja cerdas dan cermat dari Direktorat Pengembangan Investasi sehingga harapan mendapat hasil investasi dua digit bisa tercapai,” pungkas Timboel Siregar (Azr)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up