Berita

Pemerintah Akan Mengawal Pemulangan Jenazah TKI Adelina Lisao

Kanigoro.com – Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid, menyatakan kepada pers bahwa kejadian yang menimpa almarhumah Adelina Lisao, Pekerja Migran Indonesia asal NTT, di Malaysia, sangat disesalkan terjadi di tengah upaya perlindungan hukum yang semakin konstruktif antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia.

Kepada pers di sela-sela agenda Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR RI di kawasan Senayan, Rabu (13/2), Nusron mengungkapkan perasaan duka citanya yang mendalam kepada korban dan keluarganya, dan berjanji akan terus berkoordinasi dengan Perwakilan RI di Malaysia untuk memastikan penegakan hukum bagi pelaku dan perolehan hak-hak industrial dari almarhumah.

“Kami memastikan pengawalan proses hukum dari perlakuaan majikan kepada Pekerja Migran Indonesia Adelina Lisao asal NTT yang menyebabkan korban meninggal dunia. Kejadian ini melampaui akal sehat dan nilai-nilai kemanusiaan. Kami akan terus berkoordinasi dengan Perwakilan RI di Malaysia guna memastikan penanganan kasus tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku di Malaysia. Kami juga sudah memerintahkan BP3TKI Kupang untuk berkomunikasi dengan keluarga dan pemerintah daerah setempat di NTT dalam hal pemulangan jenazah almarhumah,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui melalui pemberitaan di berbagai media pada pertengahan Februari 2018 ini, diketahui bahwa seorang pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur, Adelina Lisao, meninggal secara tidak wajar yang diduga karena tindakan-tindakan tidak manusiawi dari majikan yang melampaui nilai-nilai kemanusiaan.

Berdasarkan informasi hasil penelusuran BNP2TKI, diketahui bahwa almarhumah, Adelina Lisao, adalah pekerja migran Indonesia sebagai pemegang paspor A4725964 yang lahir 27 April 1992 dan beralamat tinggal di Kupang, NTT. Sebelumnya ramai dibicarakan Almarhumah berasal dari Medan, Sumatera Utara.

Diketahui pula bahwa almarhumah Adelina adalah pekerja migran yang pernah bekerja secara prosedural di Malaysia yang sudah kembali ke Indonesia pada September 2014. Namun demikian, pada periode kedua almarhum bekerja di Malaysia, yang bersangkutan diketahui masuk secara ilegal pada Desember 2014 yang diduga keras disalurkan melalui kerjasama antar agensi tidak resmi di Malaysia hingga almarhumah meninggal dunia.

Berdasarkan catatan sementara yang diperoleh BNP2TKI, diduga bahwa almarhumah meninggal karena manultrisi dan anemia, akibat pembiaran yang dilakukan majikan dalam jangka lama. Diketahui pula bahwa terdapat bekas luka yang tidak diobati yg berakibat menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh. Sekalipun tidak ditemui bekas penganiayaan atau pemukulan dan tidak ada luka dalam, akan tetapi diduga keras bahwa penyebab bekas luka di tangan kanan adalah bekas gigitan binatang, dan tangan kiri akibat tersiram air keras. Sebab sebab luka tersebut sampai saat ini masih dalam penyelidikan.

Aktifis LSM memprotes keras kasus meninggalnya Adelina dan meminta pemerintah untuk menuntut majikan dengan hukuman setimpal. (rls/t)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up