ArtikelBerita

Paguyuban Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta Besar Adakan Silaturahmi dan Pengajian di Jakarta

Kanigoro.com – Paguyuban Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Yogyakarta Besar (Yogbes) mengadakan silaturahmi dan pengajian KB PII Yogyakarta Besar bertema memaknai Ramadhan dalam kerangka Penyucian Diri, di Rumah KB PII, Jalan Cibitung, Jakarta Selatan, Rabu (01/05).

Hadir sebagai pembicara Ketua paguyuban KBPII Yogbes yang juga mantan Ketum PB PII 1995-1998 Drs. Abdul Hakam Naja, salah satu penggagas awal berdirinya Perhimpunan KBPII, Hidayat Kusdiman dan Ketua Umum PB KB PII Nasrullah Larada.

Sebagai pembicara pertama, Abdul Hakam Naja memberikan pandangannya tentang bagaimana menyatukan umat yang terfragmentasi setelah dalam pilihan politik Pilpres. Ia mengatakan “umat ini telah terpecah-pecah selama musim politik, kita harus menyatukan semuanya. Ada empat agenda besar kita kedepan untuk memperkuat persatuan umat ini.”

“Agenda pertama kita adalah konsolidasi umat menjadi sangat penting agar kita tidak menjadi korban proses pembelahan. Devide et impera, kita dulu pernah dipecah belah, menjadi barang yang dipecah terus. ” Sebutnya.

“Kedua, kita perlu mempunyai satu kekuatan yang lebih real dan konkret. Dari segi presentasi politik, tren parpol Islam semakin menurun. Kita lemah di bidang ekonomi, dalam percaturan politik besar saat ini adalah para ekonom. Maka kita harus membangun kekuatan ekonomi. Konteks bagaimana umat harus mandiri, tidak bisa dibeli, tidak teriming-iming. Maka kita perlu mengadakan pelatihan kewirausahaan,” tambah dia.

“Ketiga, perkuat jaringan. Kita sangat lemah dalam membuat jaringan, kita kurang saling mendukung sesama umat. Kalau kita sudah sukses cobalah ajak temannya. Kita kurang kolaborasi. Jangan karena perbedaan politik menjadi tidak mau membantu temannya yang kesusahan.”

“Keempat, Leardership. Hal ini harus dikembangkan ada secara individual atau kolektif. Membangun leadership tidak mesti dikaitkan dengan khilafah. Sebab setiap orang memang harus punya jiwa leadership.” Imbuhnya.

Kemudian dilanjutkan pembicara kedua, Hidaya Kusdiman. Dia mengutip kalimat Abdul Hakam Naja “Agenda kita kedepan” dan meneruskan pemaparannya.

“Saya kira tujuan kumpul disini untuk urun rembug, membicarakan masalah-masalah yang kita hadapi. Lalu ayo kita sebarkan ke lembaga yang sudah ada (parpol). Tujuan kita untuk kumpul di paguyuban PII tidak sekedar kangen-kangenan. Seperti yang dikatakan Hakam tadi, jangan bermusuhan, perbedaan itu harusnya membuat kita terus melakukannya dengan bersama-sama,” ucapnya.

“Jadi, saya ingatkan kepada Mas Nasrul, KB PII lebih aktif dan menyuarakan hal-hal di sehari-hari hidup kita. Kenapa saya prihatin dengan tujuan atau misi KB PII ini? Karena saya orang pertama yang mendirikan KB PII secara nasional ini. Jadi saya ingin titip lagi banyak hal yang perlu kita tanggapi, kita lakukan, banyak manfaatnya bagi umat,” pesannya.

Ia melanjutkan “Kantor ini sangat representatif untuk dijadikan kegiatan yang sifatnya lebih besar daripada rutinitas kegiatan KB PII. Kalau memang bisa panggil parpol sebagai pemateri dan sama-sama merancang kegiatan keumatan di daerah-daerah itu sangat bagus. Ada juga misi kita yang bisa dilakukan bersama, yaitu melestarikan pemikiran budayawan kita di Yogyakarta, Pak Kuntowijoyo. Ayo kita sama-sama bangun perpustakaaan Pak Kunto. Buku-buku beliau, warisan-warisan beliau akan sangat bermanfaat besar bagi semua orang. Saya pikir itu bisa dilaksanakan.”

Sebelum mengakhiri pembicaraannya, ia memberikan saran “Di Jalan Mangkuyudan 34, Kota Yogyakarta itu cukup luas gedungnya. Tapi kalau untuk perpustakaan beliau (Perpustakaan Pak Kunto -red) mungkin kurang luas, bisa misi ini di kerjakan di tempat lain. Saya berharap, kalau ada pengurus yang akan datang seringlah ada kumpul-kumpul seperti ini.”

Sementara itu, Nasrullah Larada selaku Ketua Umum PB KB PII mendapat giliran menyampaikan pemaparannya. “Pada musim politik ini kita di grup WA ada perdebatan antara kedua paslon capres, siapa mendukung siapa. Meski kadang itu membuat hubungan agak renggang di media sosial. Tapi pada kenyataannya di rumah KB PII ini mereka yang berdebat biasa-biasa saja, makan bareng dan ngobrol juga lancar.”

Nasrul mengingatkan kembali pada gerakan konsolidasi umat yang digagas dalam Mukernas KB PII, yakni menjadikan KBPII sebagai gerakan Dakwah, Ekonomi dan Pendidikan. “Banyak rintisan pendidikan, ekonomi dan Dakwah yang sudah dirintis KB PII di daerah. Mari kita kembangkan bersama”, pungkasnya.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up