Berita

Nasrullah Larada: Perlu Pendekatan Akhlak untuk Mendidik Pelajar Milenial

Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Bekasi menggelar seminar Pendidikan bertajuk ‘Pendidikan Milenial Menjawab Tantangan Zaman’ di Islamic Center Bekasi, Jumat (1/6/2018).

Seminar pendidikan itu merupakan rangkaian pembukaan acara Leadership Basic Training (LBT) PII.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Keluarga Besar (KB) PII, Nasrullah Larada yang didapuk sebagai keynote speaker menjelaskan bahwa karakter pelajar milenial berbeda dengan generasi sebelumnya.

Bila pelajar dahulu atau disebut Generasi X fokus pada perjuangan ideologi, generasi pasca milenial justru cara pandangnya dalam melihat persoalan, tidak mempertimbangkan kembali landasan Islam sebagai ideologi.

“Ketika bicara pemimpin, mereka tidak memandang persoalan pemimpin berdasarkan agama, hanya berdasarkan kemampuan kompetensi,” kata Nasrullah.

Selain itu, lanjut Nasrullah, perbedaan mencolok pelajar milenial dibandingkan pelajar masa sebelumnya adalah mereka tidak bisa meninggalkan gawai dalam kesehariannya. Sehingga, mereka memiliki akses berbagai informasi tanpa bisa dicegah dan tanpa pendampingan.

“Pelajar hari ini suka atau tidak suka, mereka tidak bisa meninggalkan Sistem Informasi atau gadget,”tuturnya.

Kemampuan menyerap informasi secara luas dan tanpa filter tersebut berimbas pada cara pandang pelajar yang tidak lagi menjadikan Islam sebagai alat timbang.

Nasrullah berpendapat membina pelajar milenial dalama kondisi karakter-karakter yang disebutkan tadi, perlu dilakukan dengan pendekatan budi pekerti atau akhlakul karimah.

Nasrullah percaya, pendekatan akhlak bisa membimbing pelajar milenial dalam mengakses perkembangan informasi.

“Untuk pendidikan SD-SMA ditekankan lebih pada karakter, dalam istilah kita pendidikan akhlakul karimah. Maka, apapun perkembangan di sekitar kita harus diamati dengan kaidah akhlakul karimah,”katanya.

Sementara itu, pembicara selanjutnya Staf Wakil President, Tuty Mariani mengulas lebih dalam karakter generasi milenial. Menurut Tuty, generasi saat ini cenderung hidup dalam hiburan.

Karakter lainnya, kebebasan informasi dan sistem demokrasi mudah mereka dapatkan tanpa filter.

Tuty mengajak PII untuk memikirkan peran apa yang harus diambil di tengah perkembangan generasi milenial. “lalu dimana posisi PII akan menggarap? Karena pelajar sudah mampu meraih informasi dengan bebas,” tegasnya.

Tuty menyarankan PII mengambil peran yang disosialisaikan oleh Kementerian Pendidikan yaitu mendorong pendidikan karakter.

“Ketika suasana semua nilai dianggap sama oleh pelajar, peran PII adalah menguatkan karakter penguatan aqidah dan ideologi Islam,”jelasnya.

Solichah Ketua SDIT Az-Zahra mengatakan bahwa sejatinya pendidikan karakter sudah dilakukan sejak lama oleh beberapa lembaga pendidikan Islam.

“Pendidikan karakter sudah dari dulu dijalankan konsepnya oleh SDIT berdasarkan nilai yang diajarkan Rasulullah saw,” ucapnya.

Solichah sendiri menyarankan bahwa pendidikan karakter pelajar harus bertumpu pada pendidikan di lingkungan keluarga. Sebab, keluarga menghadapi langsung masa golden age pada anak.

Fase saat anak sedang cerdas menyerap semua informasi yang didapatkan anak. “Menangani generasi milenial dan generasi Z melalui pondasi keluarga mengelola masa golden age,” ujarnya. []

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait