Berita

Muhadjir: Muhammadiyah Jangan Sampai Menjadi Subordinat Salah Satu Partai

Kanigoro.com – Muhammadiyah berdiri dan menjadi satu-satunya ormas Islam berkemajuan yang lebih awal berdirinya daripada republik ini, yaitu pada  tahun 1912. Dengan kata lain Muhammadiyah menjadi rujukan atas keberlangsungan bangsa ini, di samping ormas lain seperti NU dan Persis. Ormas-ormas Islam itu ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan republik ini. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi saat memberikan sambutan penutup pada acara buka puasa bersama Relawan Muhammadiyah untuk Jokowi-Makruf dari unsur mana pun, Kamis (9/5).

Hadir dalam acara itu, Sunanto yang akrab dipanggil Cak Nanto, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, unsur relawan lainnya seperti: Samawi, Kamu, Jaringan Matahari dan Kurma ( Koordinator Untuk Relawan Makruf Amin) yang diwakili langsung Sekjen Kurma Aris Munandar.

“Muhammadiyah jangan sampai menjadi subordinat dari partai apa pun. Dan Muhammadiyah juga sebenarnya ormas Islam yang kooperatif dengan pihak mana pun termasuk dengan pemerintah. Jadi watak oposisi itu sebenarnya warisan dari trauma sejarah pada masa Masyumi dulu,” lanjut Muhadjir.

Karena itu, Muhdjir mengharapkan kepada generasi muda Muhammadiyah yang hadir dalam pada acara tersebut, agar mampu dan bisa mengembalikan trauma politik masa lalu Muhammadiyah.

Sekjen Kurma, Aris Munandar dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa meskipun dirinya sekarang dalam posisi sebagai relawan KH. Makruf Amin, tetap mengakui kalau dilahirkan dari rahim NU dan Muhammadiyah. Karena itu dalam pola berpikirnya, Aris Munandar sangat kooperatif dalam menyikapi dinamika keberagamaan di nusantara ini.

“Butuh energi tersendiri untuk menyatukan visi dan misi kebangsaan dalam wadah NKRI ini, agar jurang pemisah perbedaan bukan halangan demi demi bangsa negara,” ujar Aris.

Diceritakan Aris, bahwa Mendikbud Muhajir yang berlatar belakang Muhammadiyah, setiap melakukan perjalanan dinas bersama Presiden Jokowi mengunjungi keluarga NU, selalu ditunjuk untuk memimpin tahlilan dan imam sholat. Jadi menurut Aris, perbedaan itu hanya dalam soal keyakinan masing-masing individu. Sementara keutuhan berbangsa dan membangun NKRI menjadi tujuan bersama untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.

Aris mengingatkan agar umat Islam khususnya di Indonesia jangan sampai selalu dirugikan dan dijadikan kambing hitam dalam setiap persoalan yang timbul, misalnya dengan cap atau label radikal. “Karena tidak saja di Indonesia, di timur tengah umat Islam juga sering menjadi pihak yang dirugikan oleh kekuasaan,” pungkasnya.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait