Berita

Mubaligh Pancasila

Oleh: Ikhsan Kurnia

Jika pancasila dianggap sebagai sebuah “ajaran”, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai ia diyakini dan diamalkan oleh segenap masyarakat Indonesia? Jika Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) merupakan lembaga ad-hoc, berapa tahun ia dibutuhkan sampai tujuannya tuntas?

Saya mencoba berpikir dengan cara awam. Mari bandingkan dengan ajaran agama (Islam), misalnya. Sebagai sebuah ajaran, Islam sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 Masehi. Selama hampir 14 abad, Islam sudah banyak diajarkan dan didakwahkan di berbagai daerah, lintas suku, ras, bahasa, multi segmen.

Di zaman digital seperti saat ini, dakwah Islam juga terjadi dimana-mana, bahkan dilakukan tidak hanya segelintir orang dengan satu-dua media. Kalau dalam term marketing, penyebaran Islam sudah menggunakan strategi IMC (Integrated Marketing Communication). Semua metode dan channel yang tersedia dimanfaatkan.

Tidak hanya oleh da’i, ustadz, kyai, mubaligh, guru, namun juga disupport oleh Kementerian Agama, dan juga ratusan ribu institusi lainnya (pendidikan, sosial, ekonomi dsb). Toh, faktanya, masih banyak orang beragama Islam yang dinilai kurang Islami, masih banyak yang tidak sholat, tidak bisa baca-tulis Alqur’an, tidak sedikit yang hanya ber-Islam KTP. Padahal, ajaran Islam sudah mulai disosialisasikan selama 14 abad.

Bagaimana dengan Pancasila, yang usianya belum genap 1 abad? Sekali lagi, jika ia dianggap atau dipersamakan dengan sebuah “ajaran”, apakah program (proyek) penyebarannya dipastikan akan lebih efektif dibandingkan penyebaran ajaran agama? Coba bandingkan jumlah “mubaligh agama” dan “mubaligh pancasila”. Butuh berapa lama pancasila dapat dijiwai dan diamalkan dengan baik oleh segenap masyarakat Indonesia?

Mari Berpikir

Mari kita berandai-andai. Seandainya Pancasila benar-benar sebuah ideologi atau ajaran baru (new doctrine), apakah Pancasila dapat diterima secara luas hanya dalam waktu kurang dari seabad? Bahkan sejak kemunculannya, meski terdapat beberapa perbedaan pendapat di awal-awal kelahirannya, ajaran Pancasila sudah mulai dapat difahami dan dihayati oleh masyarakat. Bahkan hingga hari ini, Pancasila dapat diterima dengan baik. Persoalan bagaimana pengamalannya itu lain soal. Namun sebagai sebuah ajaran, ada awareness dan recognition dari masyarakat.

Fakta ini hanya bisa dijelaskan dengan pendekatan sosio-religi. Harus dieksplanasi dengan sosiologi agama. Bahwa dalam perspektif orang Islam, pancasila itu tidak hanya semata-mata sebuah nama, brand, atau konsep, melainkan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama (Qur’an). Nilai-nilai ketuhanan, humanity, keadilan, keadaban, persatuan dan musyawarah memiliki referensinya dalam ajaran Islam. Oleh karena itu nilai-nilai tersebut dapat diterima.

Namun, banyak yang seolah (pura-pura) lupa, bahwa ajaran Islam jauh lebih luas dari itu. Kandungan Qur’an tidak hanya berisi nilai-nilai yang terdapat dalam konten Pancasila, melainkan mencakup seluruh panduan hidup dan pandangan terhadap dunia (weltanschauung). Pancasila values are just part of them.

Untuk itu, di tingkat internal beragama, orang Islam memandang Pancasila pada dimensi yang lebih mikro dari agama. Dan tentu, meski demikian, sebagai bagian dari nilai-nilai ajaran Islam, maka orang Islam wajib menaatinya. Secara substantif, tidak ada nilai yang bertentangan dengan nilai agama secara makro.

Karena itulah, selama ini Pancasila dapat dengan sangat mudah diterima oleh masyarakat yang sekitar 90% nya beragama Islam. Jika pancasila merupakan ajaran yang tidak memiliki irisan atau titik persinggungan dengan ajaran Islam, sudah barang tentu ia akan tertolak, sebagaimana misalnya ajaran komunisme-atheisme.

Revisi Pendekatan

Para mubaligh Pancasila, terutama yang tergabung dalam BPIP, harus memiliki pemahaman dan kepekaan sosio-religi. Syarat idealnya, mereka (seharusnya termasuk semua dewan pengawasnya) memiliki pemahaman keagamaan yang baik dan akurat. Dengan begitu mereka dapat berkomunikasi dengan bahasa kaumnya secara efektif.

Bahkan, menurut saya, “dakwah Pancasila” justru sangat membutuhkan narasi-narasi dalam agama. Sebagai contoh sederhana, jika perbuatan mencuri adalah perilaku yang sama-sama dikutuk oleh ajaran Islam maupun ajaran pancasila, narasi mana yang lebih efektif? Pertama, “mencuri itu tidak baik karena tidak pancasilais”. Kedua, “mencuri itu berdosa, bisa masuk neraka karena dilarang agama”. Hayo, narasi mana yang lebih powerful?

Yang jadi persoalan selama ini, ada semacam stigmatisasi bahwa sebagian dari narasi agama itu berkonotasi buruk. Terminologi dosa, neraka, dan semacamnya seolah tidak patut dibawa ke dalam bahasa publik. Narasi yang bersifat seolah “ancaman” dalam teks-teks agama terdengar menakutkan.

Padahal, justru itu yang lebih efektif, tentu untuk sebagian kalangan (meski faktanya kalangan mayoritas). Nah, hal-hal semacam ini, hanya bisa difahami dengan pendekatan sosiologi agama. Bahwa memang ada teks-teks dalam kitab suci yang mengandung unsur teguran, ancaman, bahkan hukuman. Bahwa memang, ada teks-teks yang melarang memilih pemimpin kafir, yang mengutuk orang munafik dan pengkhianat, dan semacamnya. Tidak mungkin isi kitab suci itu dihapus.

Kitab suci itu diturunkan untuk semua manusia dengan berbagai level kemampuan dan kondisi psiko-sosialnya. Tidak bisa semua jenis manusia disuruh beribadah atas dasar cinta (mahabbah), meski itu tentu jauh lebih baik. Namun ada pula typical manusia yang mau beribadah dengan hadiah surga dan ancaman neraka. Kitab suci mengandung term-term penjenjangan.

Jika ajaran agama tidak mampu difahami dan tidak diposisikan sebagaimana konteks karakternya, maka akan selalu ada tema yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip pancasila. Akan terus muncul tuduhan-tuduhan dan hujatan-hujatan yang sesunggunya berbasis ketidaktahuan.

Jika tuduhan-tuduhan semacam itu masih terus dibudidayakan, maka agaknya usia BPIP masih cukup lama. Dan mungkin kita akan terus dibikin iri dengan gaji mereka. Bahkan mungkin kelak anak-anak kecil saat ditanya apa cita-citanya, mereka tidak lagi menjawab ingin jadi dokter atau insinyur, tapi jadi mubaligh pancasila.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait