Berita

M. Najib Azca: Konteks Sosial Memahami Aksi Terorisme Tahun 2018 dan 2002 Sudah Berbeda

Terorisme netral dari agama

Kanigoro.com – Konteks sosial dalam memahami aksi terorisme pada tahun 2018 dan tahun 2002 sudah berbeda. Demikian dijelaskan dosen Fisipol UGM M. Najib Azca ketika menjadi nara sumber Perspektif Kanigoro dengan topik “Terorisme dan Politisasi Isu”, Kamis (31/5) malam di Rumah KBPII, Jakarta.

“Pada kasus bom Bali I, Oktober 2002, hampir semua pihak menolak pelakunya umat Islam, termasuk Kepala BAKIN (sekarang BIN) saat itu ZA Maulani. Pasti ada keterlibatan asing,” jelas Najib.

Kekuatan bom Bali I untuk ukuran aksi teror di Indonesia memang luar biasa, terbukti dengan korban ledakannya sampai 204 yang meninggal dunia. Karena itu menurut Najib, teori konspirasi paling bisa menjelaskan peristiwa tersebut, ketika belum ditemukan data spesifik.

“Situasi berubah ketika data spesifik berhasil ditemukan, yakni nomor sasis mobil yang digunakan untuk mengebom, walaupun sebenarnya sudah digergaji Amrozi untuk menghilangkan jejak, namun bisa dimunculkan. Sehingga akhirnya Amrozi berhasil ditangkap menyusul kemudian para pelaku lainnya,” ungkap Najib.

Menurut Najib, situasi berbeda terjadi pada saat aksi teror tahun 2018 ini. Sejak peristiwa kerusuhan di Rutan Mako Brimob sampai bom Surabaya.

“Rutan Mako Brimob tidak didesign untuk penjara dengan security maksimum. Tidak cocok untuk napi teroris. Sementara kasus bom Surabaya, dramatisnya dari sisi pelaku bukan dari sisi korban,” jelasnya.

Terkait istilah terorisme, Najib menegaskan bahwa mereka adalah kelompok yang menggunakan kekerasan/teror untuk mewujudkan tujuannya.

“Terorisme netral dari agama,” tegasnya.

Memang, lanjut Najib, ada kelompok Islam garis keras yang menyebut dirinya Jihadis, dengan pemahamann jihad menurut mereka sendiri. Namun dalam segala hal selalu ada yang berpandangan radikal, apa pun agamanya. Mereka yang kemudian berpotensi melakukan tindakan teror.

Diskusi Perspektif Kanigoro selain dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PB KBPII) Nasrullah Larada juga dihadiri beberapa tokoh KBPII dan politisi. Tampak antara lain A. Hakam Naja dan Totok Daryanto, keduanya anggota Fraksi PAN DPR RI, Wakil Ketua MPR RI yang juga Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani dan Direktur Eksekutid SRMC Djayadi Hanan.

Sementara terkait dengan politisasi isu, Najib menyebut adanya distorsi pemahaman tentang radikalisme.

“Radikalisme itu netral, radikalisme demokratik juga ada. Tidak ada negatifnya. Kata ini yang kemudian digunakan untuk menyebut kelompok-kelompok yang menggunakan cara kekerasan. Saya kira terjadinya distorsi di situ, penyebutan kelompok dengan istilah yang tidak lengkap, semestinya radikal teroris atau radikal ekstrimis,” pungkasnya.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up