BeritaFeatured

Kampanye Hologram

Oleh : Joko Santoso HP (Pencipta lambang PAN, Anggota DPR-RI 2004 – 2009)

Paslon 01 meluncurkan penggunaan teknologi hologram dalam kampanye mereka. Benarkah itu akan mampu mengubah peta elektabilitas?

Holografi bekerja dengan cara merekam sebaran cahaya dari sebuah obyek dan direkonstruksi ulang dalam bentuk mikroskopik. Teknologi ini akan membuat seseorang seakan hadir di tempat lain. Padahal itu hanya citra tiga dimensi yang dibentuk oleh laser digital. Apa dampaknya bagi pemilih?

Pertama, yang pasti publik dikondisikan agar merasa seakan-akan paslon ada bersama mereka. Waktu dan tenaga paslon tidak tersita untuk secara fisik hadir di lokasi. Efisien. Sesuatu banget, khususnya bagi sosok kandidat yang sepuh. Hologram membuat paslon bisa “menjangkau” pemilih tanpa harus pergi ke manapun.

Yang kedua, paslon pengguna tak akan dipusingkan dengan jumlah kerumunan di lokasi. Meski massa yang hadir hanya puluhan orang seperti ketika kampanye di Deli Serdang misalnya, tetap bisa “tampil” (dalam tanda petik) berorasi. Bisa dengan gaya apapun: sejuk, berapi-api atau bahkan berteriak lantang “Lawan!”.

Publik, akan penasaran ingin melihat hologram. Itu pasti. Namun apakah pengalaman bertemu dengan hologram akan lantas membuat orang memilih? Apa bedanya dengan puluhan ribu orang yang berdesak-desakan berebut salaman dengan Prabowo sehingga tangannya lecet-lecet dan dokter menyarankan menggunakan sarung tangan? Poin ini yang saya duga, tidak dijelaskan secara tuntas dan clear oleh pemrakarsa hologram kepada pengguna.

Keunggulan Paslon 02

Jika keunggulan paslon 01 adalah kemampuan menggunakan teknologi hologram. Sebaliknya, keunggulan paslon 02 justru karena mereka tidak menggunakan teknologi hologram. Lagi-lagi 02 jadi antitesanya 01.

Jiwa dan raga 02 hadir langsung bersama puluhan ribu manusia di lapangan. Itu konsekuensi ketiadaan dana yang cukup untuk membeli hologram. Tapi justru itu mereka bisa disentuh. Dirasakan. Mereka nyata dan sungguh-sungguh hadir. Klop dengan harapan rakyat akan kekuasaan yang tidak artifisial. Hukum yang nyata dan sungguh-sungguh. Pembatasan impor yang sungguh-sungguh. Pengaturan TKA yang sungguh-sungguh. Penyediaan lapangan kerja yang sungguh-sungguh. Pemberantasan korupsi yang sungguh-sungguh. Peduli guru dengan sungguh-sungguh. Menjalankan UUD dengan sungguh-sungguh.

Rakyat rindu pemimpin yang, ruhnya hadir bersama mereka. Itu yang membuat ribuan saudara kita di Papua ikhlas menempuh gunung dan hutan ratusan kilometer untuk menjumpai pemimpinnya. Juga di daerah-daerah lain.

Kecanggihan teknologi membuat orang akan berdecak kagum. Namun setelah itu, hanya dalam hitungan detik. Selanjutnya orang akan berpikir: apa maslahatnya bagi saya. Benefit adalah esensi dari setiap kampanye. Kampanye apapun. Percayalah. 28 tahun saya menangani strategi kampanye.

Kampanye itu bukan hanya harus memudahkan bagi yang ingin dipilih. Tapi yang lebih penting: pemilih merasa dijadikan sebagai apa. Dimuliakan atau sekadar obyek. Awas! Jika pemilih sadar bahwa mereka hanya dijadikan obyek, sudah pasti mereka akan membalas di bilik suara.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up