Berita

Giliran IAIN Bukittingi Menjadi Sorotan Gara-gara Masalah Larangan Cadar

Hayati Memakai Cadar Karena Memenuhi Nazar

Kanigoro.com – IAIN Sjech M Djamil Djambek Bukittingi, Sumatera Barat, belakangan menjadi sorotan berbagai pihak gara-gara larangan bercadar. Salah seorang dosennya, Hayati Syafri, diliburkan mengajar gara-gara mengenakan cadar.

“Alasan saya dinonaktifkan pihak kampus, karena saya memutuskan untuk ber-niqab atau memakai cadar,” jelas Hayati kepada wartawan.

Keputusan untuk memakai cadar itu sendiri baru dilakukan Hayati sejak November 2017, usai dia lulus S3. Menurut para mahasiswinya, Hayati memakai cadar karena memenuhi nazarnya kalau lulus program doktoral.

Namun pihak IAIN Bukittinggi melalui Wakil Rektor I, Asyari, memberikan bantahan bila Hayati diberi sangsi semata-mata karena mengenakan cadar.

“Penonaktifan ibu Hayati itu tidak saja soal cadar yang dipakainya saat mengajar, tapi juga terkait lainnya. Dalam rapat Dewan Kehormatan Dosen, ibu Hayati sudah banyak melakukan pelanggaran, diantaranya sering telat dalam mengajar. Kemudian, dia tidak mengajar sesuai mata pelajaran yang diajarnya,” ungkapnya.

Kebijakan kampus terkait larangan mengenakan cadar awalnya disampaikan melalui surat edaran tertanggal 20 Februari 2018. Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar, yang juga mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Bukittinggi, secara pribadi sempat menyampaikan masukan kepada pimpinan kampus agar larangan ini dicabut. Sayangnya, masukkan itu tidak menjadi pertimbangan oleh pihak kampus.

“Sudah saya Ingatkan. Saya melihat tidak ada alasan. Semuanya mengatakan ini peraturan, ini kewenangan, ini adalah kode etik kampus tetapi saya tidak melihat kemana rujukan,” tegasnya sebagaimana dilansir Kiblat.net.

“Karena tidak bisa diingatkan dengan begitu ya sudah saya bikin statement atas nama Majelis Ulama. Nah semoga mereka bisa sadar. Kalau tidak, itu bisa memperburuk citra IAIN sendiri di mata masyarakat dan umat di Sumatera Barat,” jelas Buya Gusrizal.

Pihak kampus tetap kukuh dengan pendiriannya. Bahkan kunjungan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ke IAIN Bukittinggi, Jumat (23/3) lalu juga belum memberikan perubahan.

Akhirnya Ahad (25/3), lalu sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan elemen masyarakat adat menggelar musyawarah akbar di Bukittinggi untuk merespon masalah ini. Dalam kesempatan tersebut, Hayati yang juga hadir mengharapkan adanya mediasi terhadap masalah yang menimpa dirinya.

“Saya tak ingin menjadi korek api dan minyak tanah. Saya ingin ada mediasi yang mewakili saya sebagai korban sekaligus masyarakat yang menaruh harapan besar kepada kampus,” harapnya

Pekan depan, Gerakan Nasional Penyelamat Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) Bukittinggi dan Agam akan mencoba kembali berdialog dengan pimpinan IAIN Bukittinggi. Selain itu ormas Islam juga masih menanti hasil pemeriksaan Ombudsman RI yang sudah mendatangi kampus pekan lalu. (kj)

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait