Berita

Evaluasi 20 Tahun Reformasi, Kesejahteraan Rakyat Makin Jauh

Kanigoro.com – Mantan aktivis mahasiswa Syahganda Nainggolan menyatakan setelah 20 tahun reformasi, arah perjalanan bangsa Indonesia semakin mengarah ke demokrasi liberal.

“Demokrasi saat ini, politiknya berkembang terus secara liberal,” kata Syahganda dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan Forum Alumni Perguruan Tinggi seluruh Indonesia berjudul “Evaluasi Kritis: Menggugat 20 Tahun Reformasi-Daulat Rakyat Dapat Apa?”,  di Jalan Guntur No 49, Jakarta Selatan, Minggu (20/5/2018).

Ia menjelaskan ciri-ciri dari demokrasi liberal, salah satunya adalah politik transaksional yang kian marak di Tanah Air Indonesia.
Syahganda juga melihat, saat ini para pemimpin cenderung bekerja dengan pencitraan.

“Ciri-ciri demokrasi liberal yaitu pemimpin yang selalu melakukan pencitraan. Dan juga politik uang semakin terjadi,” ujarnya.

Oleh karena itu, demokrasi yang susah payah dicita-citakan oleh para founding fathers, semakin jauh bahkan tidak tercapai pada pemerintahan saat ini. “Demokrasi yang dulu dicita-citakan sudah hilang,” ujarnya.

20 tahun reformasi
Suasana Diskusi Evaluasi 20 Tahun Reformasi di Jalan Guntur 49, Minggu (20 /5/2018)

Sementara itu, mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menyoroti masalah HAM saat ini semakin diabaikan oleh pemerintah.

Menurut Pigai, meski HAM menjadi salah satu program Nawa Cita, tapi persoalan HAM tidak pernah disebut dalam laporan pemerintah di depan parlemen setiap tanggal 16 Agustus.

“Kasus kekerasan paling tinggi terjadi di Papua, kasus Semanggi dan berbagai pembiaran terhadap kekerasan tidak menjadi perhatian pemerintah”, ujar Pigai.

Ia juga mengkritik program redistribusi tanah yang tidak berjalan. “Yang ada sekarang hanya legalisasi tanah rakyat. Tanah-tanah dikuasai korporasi tapi program redistribusi tanah tidak berjalan. Petani dari Jambi berjalan kaki menuntut tanah yang diserobot korporasi tidak pernah mendapat perhatian. Demikian juga petani dari Tulungagung dan daerah lainnya”, kata Pigai.

Sementara itu Aktivis Sri Bintang Pamungkas mengingatkan dari seluruh Presiden yang berkuasa, tidak ada satupun yang bicara kesejahteraan rakyat.

“Presiden-presiden kita gombal semua, tidak ada yang memperhatikan rakyat”, ujar Bintang Pamungkas.

Akibatnya menurut Bintang Pamungkas, meski sudah 70 tahun merdeka, ibarat sebuah pesawat, bangsa Indonesia masih belum aman dan sewaktu waktu bisa jatuh akibat beban sosial ekonomi yang belum terselesaikan.

Diskusi memperingati 20 Tahun Reformasi dihadiri ratusan aktivis dan berbagai kalangan ini berlangsung semarak. Hadir sebagai pembicara  mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier,  aktivis lintas etnis Lius Sungkharisma, pengamat politik Hendrajit, dan aktivis perempuan Ratna Sarumpaet.(t)

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0