Berita

Diskusi Politik KBPII: Berebut Pemilih Muslim Modernis di Pilpres 2019

Kanigoro.com – Diskusi yang berlangsung di Rumah KBPII Kebayoran baru Jakarta , Kamis (07 Feb/09)berlangsung dinamis dan menambah nuansa berpikir politis atas situasi politik di tanah negeri abu abu ini.

“Politik kita itu cair, abu-abu,” kata Adi Prayitno membuka diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan. Baik dari pendukung paslon 01 maupun 02 tampak mengikuti diskusi dengan seksama.

Lebih jauh Adi menyimpulkan bahwa tingkat keberagaman berpolitik masyarakat Indonesia sangat berdampak pada pilihan politik.

“Tradisional, moderat, radikal, tidak lagi menjadi rujukan pilihan pada pilpres nanti, karena politik kita sudah sangat cair. Hari ini masih memilih 02, besuk pada saat pencoblosan memilih 01. Keadaan seperti sudah menjadi hal yang lumrah, di era ketika ideologi bukan satu satunya basis pada pilihan,” lanjut Adi.

Sebelumnya dalam sambutan pembukaan, Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) menyebutkan hati nurani sebagai dasar pilihan seseorang.

“Benturan antara desa-kota, kampung-perkotaan, ndeso dan tidak ndeso, di era milenial saat ini sudah tidak ada batasan lagi,” ujarnya.

Nara sumber lain, mantan aktivis mahasiswa ITB Syahganda Nainggolan mengambil contoh reuni 212 tahun 2018 untuk menjelaskan fenomena politik sekarang.

“Pengelompokan modernis dan non modernis di era seperti ini sudah cair. Contohnya dalan kasus ‘reuni 212’ tahun lalu. Dalam arena reuni 212 itu ternyata bisa berkumpul mereka yang selama ini dipisahkan menjadi kelompok tradisional, modernis dan radikal dalam satu reuni damai,”kata Syahganda.

Sehingga menurut Syahganda, kelompok Islam modernis sudah dengan sendirinya menunjukkan bukan lagi kelompok modernis, dan kelompok Islam tradisional bukan lagi tradisional.

“Mereka sudah menjadi satu umat yang utuh,” jelas Direktur Sabang-Merauke Circle ini.

Diskusi yang dipandu Sekjen Koordinasi Untuk Relawan Ma’ruf Amin (KURMA) Aris Munandar, selesai tepat pukul 16.00 wib, menghasilkan beberapa kesimpulan.

“Bahwa politik itu adalah bagian dari kartel. Politik juga sebagai industri kekuasaan, karena itu yang berjalan hukum industri, mekanismenya mekanisme industri, polanya pola industri, strukturnya struktur industri, komunikasinya komunikasi industri,” ucap Aris.

Sebagaimana lazimnya dalam industri lainnya, Aris juga menyimpulkan baha dalam industri politik kuga ada bahan baku, proses produksi, pasar, modal, teknologi komunikasi maupun iklan dengan tujuan tunggal, yaitu profit kekuasaan.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up