Berita

Deputi Pemuda Kemenpora Ajak Pemuda Stop Hoax di Tahun Politik

Kanigoro.com – Jakarta. Deputi Pemuda Kemenpora Asrorun Niam Sholeh mengajak pimpinan organisasi kepemudaan untuk menjadi pelopor perang melawan hoax di media sosial yang bisa mengancam peraatuan dan kesatuan bangsa. “Penyebaran hoax di media siber sudah sedemikian mengkhawatirkan,  terlebih saat masuk tahun politik. Kaum muda harus jadi pelopor perubahan dan perbaikan”, tegas Niam dalam diskusi Pemuda Mengkaji: Hoax dan Masa Depan Pemuda di Media Center Kemenpora, Senin (8/10/2018) sore. 

Lebih lanjut Niam menjelaskan data dari Mafindo tentang meningkatnya berita hoax di media sosial tiga bulan terakhir, yang melonjak hingga 35 persen.

“Riset terhadap konten media sosial dalam rentang Juli hingga September 2018, ada peningkatan berita hoax sebesar 35 persen. Berita hoax yang paling tinggi adalah soal politik,  dan disusul soal agama. Harus ada langkah bersama untuk mencegahnya,” terang dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini.

Niam mengajak kaum muda untuk aktif mengkhabarkan berita baik ke media sosial secara aktif.

“Produksi konten positif sebanyak mungkin agar konten negatif terjepit dan tidak mendapat ruang. Di samping itu perlu ada keberanian untuk mengingatkan terhadap penyebar hoax agar mengoreksi dan tidak mengulangi,” tambahnya.

Narasumber lain dalam kegiatan ini adalah Ketua Siber Kremasi Dedi Permadi dan artis yang juga pegiat media sosial Olivia Zalianti. Dalam diskusi ini, tampak hadir 50-an peserta yang berasal dari organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan juga beberapa penggiat media sosial.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menggerakkan para pemuda, agar tidak mudah termakan informasi bohong yang sesungguhnya tidak benar. Terlebih, di era millenial seperti saat ini yang masyarakatnya sangat bergantung kepada gadget dan banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi di media sosial, harusnya bisa lebih bijak menyaring informasi.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap mereka yang menjadi lini depan di organisasi masing-masing, bisa turut menghambat info hoax. Minimal, tidak turut menyebarkan, apabila tidak bisa mencari bukti kebenaran dari informasi ini,”tuturnya.

Sementara itu, Olivia dalam penjelasannya berharap langkah cek dan ricek terhadap informasi yang didapatkan bisa dilakukan terlebih dulu.

“Kembali ke diri kita masing-masing juga. Jangan mudah terprovokasi info, kalau ragu, jangan turut menyebarkannya karena khawatir itu adalah hoax,” tegasnya.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait