BeritaFeatured

Dari Yogyakarta, Soetrisno Bachir Kampanyekan Nasionalisme Baru

Kanigoro.com  –  Era digital yang ditandai dengan berkembangnya fenomena kekuatan bisnis data seperti unicorn menandai kebangkitan bisnis kaum milineal Indonesia. Bisnis yang bertumpu pada Big data seperti Bukalapak.com, Tokopedia.com, Shoppe kini menjadi platform baru dalam geliat ekonomi di Indonesia.

Berbicara pada acara “Mentoring Bisnis Usaha”, Enterpreneur Merdeka” yang dihadiri 100 lebih peserta dari seluruh Indonesia pada kegiatan Rangkaian Muktamar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) di Yogjakarta, Kamis (14/1/2019), Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) Soetrisno Bachir, mengatakan kegembiraannya berbicara di kalangan pengusaha pemula. Selain itu, hadir juga Sandiaga Uno, dan Andi Arsian Djunaid.

Memulai pembicaraan dalam tataran global, Mas Tris sapaan akrab mantan Ketua KB PII  ini mengatakan sejak Trump terpilih sebagai Presiden Amerika, negeri Paman Sam ini dipimpin Trump layaknya seperti memimpin perusahaan. Terbukti ekonomi  Amerika tumbuh dengan baik. Kenapa? Persis seperti memimpin bisis, Trump tidak mau rugi, maka ia juga tidak mau rugi mimpin AS. Akibatnya ia tidak mau ikuti model perdagangan bebas karena ia yakin akan kalah dengan China. Padahal rejim perdagangan bebas (free trade) itu adalah ciptaan Amerika sendiri.

Akibatnya, lanjut Mas Tris, barang-barang China yang mau masuk ke AS dikenakan pajak yang tinggi. China pun menolak dan melawan hingga terjadi Trade War (perang dagang) hingga kini.

Mas Tris menuturkan, banyak negara yang mengambil untung akibat perang dagang super power ini, contohnya Taiwan. Produk Taiwan banyak masuk ke AS ketimbang China.  Indonesia, sayangnya tidak berhasil memanfaatkan Trade War ini karena pola dagangnya masih ikuti mazhab Free Trade. Padahal seharusnya ada special envoy yang melobi pasar AS seperti halnya Taiwan.

Kembali ke soal Unicorn, Mas Tris melihat kaum milineal Indonesia dengan iming-iming hadiah jalan-jalan ke luar negeri, banyak membeli barang impor.  Kebiasaan membeli barang-barang impor ini jelas akan merusak ekonomi kita.  Karena, devisa jelas keluar negeri (capital flight).

Hadiah jalan-jalan ke luar negeri telah menyebabkan pariwisata kita kalah dengan Singapura dan Malaysia. Singapura negeri yang hanya “seupil” wilayah dibandingkan dengan kita, pemasukan dari sektor pariwisata luar bisa. Kita kalah juga dengan Malaysia yang  wisatanya 30 juta per tahun sementara kita cuma 16 juta.

Mas Tris menganalisa, salah satu kekalahan kita dibandingkan dengan negara tetangga pesaing kita yang tumbuh pesat seperti Vietnam dan Kamboja adalah karena mereka tumbuh pesat karena berpikir out of the box.

“Kalau kita berfikir linear terus maka ekonomi kita akan nyungsep. Kita harus berpikir out of the box, peranan APBN cuma 20 persen di negara maju. Selebihnya peranan para pengusahanya,” tambahnya.

Dalam konteks membangun kelompok pengusaha inilah, Mas Tris memandang penting ormas-ormas Islam seperti KBPII, Muhammadiyah dan NU agar terus melakukan mentoring untuk mengubah mindset para pengusaha muda.

“Nasionalisme ekonomi ini yang kita harus bangkitkan. Kita dijajah dengan produk Impor seperti buah, pacul, peniti dan mobil,” paparnya.

Agar bisa berhasil, lanjut Mas Tris, maka harus ada sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, dan perguruan tinggi.  Thailand maju karena industri buahnya banyak melakukan riset di samping kemasannya juga sangat menarik.

“Jadi, kualitas produk itu harus memiliki value added utamnaya di bidang inovasi dan kemasan agar kita tidak kalah bersaing dengan produk impor  di dalam negeri,” pungkasnya. (T)

Selanjutnya

Artikel Terkait