Berita

Curhat Pengrajin Kayu di Desa Sumita Gianyar pada Sandiaga Uno

Kanigoro.com – Para pengrajin kayu ukir di Desa Sumita, Gianyar Bali, berkeluh kesah soal ekonomi Indonesia yang terpuruk dan memberikan dampak pada pendapatan para pengrajin, bukan hanya di Desa setempat tapi juga di sentra kerajinan ukir lainnya di Gianyar. Wayan Arsana, salah satu pengrajin, meminta calon wakil presiden ini, membenahi ekonomi dan mengembalikan kejayaan kembali industri pengrajin kayu ukir.

“Tiang (saya) asal Sukowati ingin mengeluarkan unek- unek sebagai masyarakat dan pengrajin. Tiang berharap, Pak Sandi memberikan solusi yang lebih baik dari sekarang. Perjalanan selama empat tahun ini kondisi ekonomi terpuruk,” jelas Wayan Sukarya.

Menurut Wayan, harga ukiran yang jatuh dan serapan pasar yang makin sedikit, membuat generasi sesudah mereka tidak ingin lagi terjun dan terlibat dalam usaha ukiran ini. Karena tidak mendukung secara finansial.

“Jadi tiang harap ada solusi, karena tiang selalu melihat bapak di televisi peduli pada petani, usaha kecil menengah dan rakyat kecil. Semoga kita bisa bisa makmur,” ucap Wayan.

Hal senada diungkapkan Wayan War. “Tiang berharap, perhatikan pengrajin kecil ini bisa sejahtera, juga diperhatikan permodalan dan pemasaran. Bukan cuma di Desa Sumita, tapi juga diseluruh Indonesia,” kata Wayan War.

Sandi menampung aspirasi yang disampaikan para pengrajin desa Sumita. Dia juga berterimakasih atas sambutan yang luar biasa.

“Sumita itu artinya kawan. Saya berterimakasih disambut sebagai kawan. Saya juga sudah mendengar apa yang disampaikan Bapak- bapak pengrajin di sini. Saya dan Pak Prabowo memang berkomitmen untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Kebijakan ekonomi yang berpihak kepada pengusaha kecil dan menengah,” jelas Sandi.

Sandi juga menjanjikan One Kecamatan/Kota/Kabupaten for One Center Entrepreneurship. “Kebetulan di sini akan kami bentuk untuk membantu pendampingan, pemasaran, hingga permodalan. Sehingga seni ukir ini bisa lebih mengglobal dengan membawa kearifan lokal yang kita sebut dengan Glokal,” jelas Sandi.

Sandi juga sempat memahat kayu. Tangannya berputar ke kiri ke kanan mengikuti motif pahatan.

(T/rls)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up