Berita

Antara “Jalan Sunyi” dan Inkuisisi, Refleksi atas 3 peristiwa: Widjo Kongko, Terawan & Rocky Gerung 

Oleh Bambang W. Nugroho

Adakah kita dapat melihat benang merah antara kasus Widjo Kongko (WK) peneliti BPPT yang memodelkan resiko tsunami setinggi 57 meter di pantai dekat Pandeglang, Dokter Terawan (TR), penyembuh stroke dengan temuan terapi khas kreasinya, dan Rocky Gerung (RG) dengan ujaran “kitab suci itu fiksi” di acara Indonesia Lawyer’s Club (ILC) beberapa hari belakangan?

Ketiganya melemparkan ingatan saya pada sejarah ambruknya Alexandria di pergantian abad ke-4 memasuki abad ke-5 Masehi. Agora, sebuah film berlatar sejarah yang tidak diputar di bioskop-bioskop Indonesia, mencoba dengan apik menggambarkan bagaimana ilmuwan berhadapan dengan amukan para pengikut agama yang berujung pada pembunuhan atas tuduhan penyesatan, penghinaan agama, pelecehan terhadap keyakinan orang banyak, dan penistaan terhadap tradisi.

3 peristiwa di atas juga mengingatkan kita pada banyak hal serupa yang semuanya adalah inkuisisi. Pengejaran, perburuan, dan penyiksaan terhadap para ilmuwan sejati yang kebiasaan dan kebisaannya adalah mengungkap serta menjelaskan gejala alam, gejala kemanusiaan, dan gejala sosial menggunakan perangkat metodologi dan serangkaian metode dan teknik dalam koridor keilmuannya. WK mewakili gejala alam, TR mewakili gejala manusia, dan RG mewakili gejala sosial.

Lantas, kepolosan ilmiah mereka dihadapkan pada “kepolosan” lain dari masyarakat yang berteguh pada tradisi, apa pun sumber tradisi tersebut. Maka, pertarungan atas nama menimbulkan keresahan, atas nama prosedur, dan atas nama prasangka pemihakan politik pun dijadikan sarana inkuisisi terhadap ketiganya. Pelajaran pahit bagi semua ilmuwan di Indonesia.

Inkuisisi ilmuwan
Salah satu adegan Film Agora (istimewa)

Oh ya. Masih ingat BJ Habibie? Ilmuwan aeronautika yang sempat jadi wapres dan presiden negeri ini? Kepakarannya yang diakui dunia, dan ketokohan serta kepeloporannya di bidang strategis aeronautika, perkapalan, dan keretaapi, tidak ada nilainya sama sekali di hadapan publik menginkuisisinya dengan penuh prasangka.

Peristiwa – psristiwa di atas membuat para ilmuwan condong memilih jalan sunyi dengan temuan- temuan hebat di laboratorium, lantas dijual saja ke luar negeri sebab kalau yang bicara Tsunami itu orang Jepang, dianggap temuan valid dan reliabel. Et cetera. Atau, apa pun temuannya, simpan rapat-rapat, atau terbitkan dalam sebuah novel, narasi, tembang, lagu, lukisan abstrak yang semuanya dalam balutan fiksi agar terhindar dari inkuisisi. Atau, temukan sesuatu, tulis di lorong-lorong sunyi laboratorium, perpustakaan, simpan di lemari besi, dan jadilah saksi saat itu semua itu menjadi nyata.

Jangan sampai maunya ilmuwan berbagi temuan strategis, eh, dipelintir oleh media “klikbait” dan ditelan mentah oleh warga yang sudah minum berliter-liter ASI tetapi tidak melek literasi, apalagi dikapitalisasi oleh politisi bengis dan kerdil. Hasilnya: Inkuisisi.

Waspadalah! Waspadalah!

Penulis adalah staf pengajar UMY dan Sekretaris Umum KB PII Bantul

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait