Berita

Aksi Kubur Diri, Simbol Matinya Keadilan Di Tanah Komering

Kanigoro.com – Ratusan Petani Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) berdemo di depan Kantor Gubernur Sumatera Selatan (KanGubSumsel), untuk menyatakan keadilan yang dirampas PT. Laju Perdana Indah (LPI) atau Indofood di tanah komering, dua petani akhirnya melakukan aksi kubur diri.

“Aksi kubur diri adalah simbolisasi matinya keadilan di tanah komering,” kata Edi Susilo atau Edi kepada kanigoro.com, di depan Kantor Gubernur Sumsel, Palembang, Senin (04/03).

Edi melanjutkan, kalau aksi seperti ini sudah dilakukan berkali-kali, misalnya di depan Kantor Pemerintah Kabupaten OKU Timur, tetapi tuntutan yang dijelaskan kepada pemerintah tidak dilaksanakan.

Sebetulnya, petani sudah bosan mendengar janji pemerintah terkait penyelesaian masalah tanah dengan PT. LPI. Walau begitu, apapun yang terjadi petani OKU Timur akan terus memperjuangkan tanah mereka.

“Mudah-mudahan masalah ini selesai. Walau kami sudah bosan mendengar janji itu, tapi prinsipnya, apapun yang kami lakukan, kami akan tetap memperjuangkan tanah kami,” tegasnya.

Ia menambahkan, selama melakukan aksi, akhirnya lima perwakilan petani diizinkan berdialog dengan Pemprov Sumsel di dalam kantor.

Hasilnya, pemerintah akan memanggil pengelola PT. LPI di OKU Timur untuk bertemu Gubernur Sumsel di Palembang.

“Pokoknnya, LPI akan dipanggil Gubernur Sumsel, janji ini akan kami kawal. Kalau misalnya LPI tidak dipanggil juga, kami akan tetap menduduki tempat ini,” ujar Sekretaris Sarikat Tani Nasional (STN) Sumsel ini.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Posko Pemenangan Pancasila Sumsel, Jay Marta, S.IP atau Jay mengatakan, kalau kubur diri ini adalah salah satu metode aksi yang petani lakukan.

“Aksi kubur diri adalah gambar pembumi hangusan desa-desa di komering. Maka aksi penguburan diri adalah simbolisasi penguburan desa oleh PT. LPI,” kata Jay kepada kanigoro.com.

Dia mengatakan, kalau aksi yang dilakukan hari ini, untuk mendesak Presiden Jokowi agar menyelesaikan persoalan konflik agraria di OKU Timur, khususnya di Desa Campang Tiga. Saat ini, ada 20 desa di OKU Timur yang terancam di bumi hanguskan PT. LPI, tapi terkait problem yang terjadi, Pemprov. Sumsel belum bisa menyelesaikan masalah ini.

“Problem agraria di Sumsel sangat serius. Kami juga melihat Herman Deru (Gubernur Sumsel) tidak bisa menyelesaikan konflik agraria di Sumsel. Karena ini masalahnya sudah sangat besar,” tambah Jay.

Ia menambahkan, kalau konflik agraria di OKU Timur terjadi sejak 1997, beberapa desa sudah digusur habis, diantaranya Burnai Mulia, Polom Jambi, SP 3 dan SP 4.
Harapan kami, agar pembumi hangusan ini tidak terjadi lagi di tanah komering. Petani juga sudah mengadukan masalah ini kepada Bupati OKU Timur, tapi malah Bupati dilecehkan pihak PT. LPI.

“Menurut keterangan Bupati saat kami rapat, kalau Bupati sudah datang ke kantor LPI dan menunggu seharian disana, tetapi tidak ditemui pihak LPI. Hal ini dianggap bentuk pelecehan kepada Bupati OKU Timur,” ujarnya.

Aksi ini dilakukan dari Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) Palembang, kemudian melanjutkan aksi menuju KanGubSumsel kata Muhammad Asri atau Asri.

“Demo ini dimulai dari jam 8 pagi sampai siang ini jam 12. Jumlah petani yang berdemo berjumlah 500 orang,” kata Asri selaku Koordinator Tani Sumsel.

Selama ini, tanah petani dirampas dan dikuasai PT. LPI. Persoalan inilah yang membuat petani melakukan aksi kubur diri. Para petani memiliki surat-surat yang lengkap terkait tanah mereka, tetapi PT. LPI terus merambah tanah di pemukiman petani.
“Karena hal ini, petani jadi khawatir, selama ini lahan petani sebagian besar sudah digarap PT. LPI, tapi belum ada ganti rugi,” tambahnya.

Ia menegaskan, aksi protes petani sudah lama dilakukan, sekitar 20 tahun, tetapi prosesnya terus diulur PT. LPI. Padahal, pemerintah melalui tim 9 sudah menyelesaikan tugas pembuktian sidang lapangan, dan membuktikan kalau tanah ini milik petani.

“Tapi penyelesaiannya hanya sampai disitu. Tidak ada lagi tindak lanjut Pemkab OKU Timur setelah itu, padahal pemerintah sudah memfasilitasi saat itu” lanjut Asri.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up