Berita

Agus Khanif: Petani Seolah Menjadi Tumbal

“Pangan adalah hidup matinya suatu bangsa.” Kalimat yang diucapkan Bung Karno saat meresmikan Institut Pertanian Bogor (IPB), 1 September 1963, dikutip Agus Khanif dalam Forum Diskusi Bulanan KBPII Kebumen, Ahad (25/8) siang.

Diskusi yang mengangkat tema “Memaknai Kemerdekaan pada Kedaulatan Pangan Daerah” selain menampilkan Agus Khanif dari Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Kebumen, juga Arif Yuswandono, Ketua Asosiasi Petani dan Peternak Kebumen (APPIK).

Menurut Agus, hakikat kemerdekaan bukan hanya bebas dari peperangan, tapi juga dari kekerasan. “Perang itu kekerasan yang bersifat fisik. Akibatnya menghambat aktualisasi diri. Dalam konteks ini kemiskinan juga merupakan kekerasan, karena bisa menghambat aktualisasi diri,” papar Agus.

Agus juga melihat, fenomena kemiskinan yang masih terjadi pada masyarakat petani dari dulu sampai sekarang, karena kebijakan pemerintah yang belum pro petani, sehingga petani belum berdaulat. “Ketahanan pangan tak identik dengan kedaulatan pangan, karena diatasi dengan impor,” tambahnya.

Bahkan menurut Agus, petani seolah menjadi tumbal dalam proses pembangunan bangsa Indonesia. “Pangan hanya dibicarakan saat kampanye namun kurang diimplementasikan pada kebijakan riil di tengah masyarakat. Kalau kondisinya seperti ini terus, seolah-olah petani menjadi tumbal dalam proses pembangunan bangsa,” ujar Agus prihatin.

Dalam pandangan Arif Yuswandono saat ini tidak ada negara yang benar-benar berdaulat. “Perdagangan internasional bukan lagi karena pertimbangan supply-demand, melainkan karena kesepakatan politik,” kata Arif.

Sehingga menurut Arif, kebijakan pemerintah tentang impor juga bagian dari kesepakatan politik. “Kalau kita tidak mau impor, nanti produk kita juga tak bisa masuk negara lain,” tambahnya.

Karena itu terkait kedaulatan pangan, yang terpenting adalah di antara bahan pangan yang dikonsumsi ada yang merupakan hasil tanaman sendiri. “Ayo kita mulai gerakan tanam, untuk memulai habit dan mengubah mindset,” ajak Arif.

Selain dihadiri KBPII Kebumen, diskusi juga diikuti kalangan eksternal seperti Akhmad Khoirul Fahmi (KAHMI), Untung Karnanto (fasilitator petani hutan rakyat), Eko Wahyudi (Aliansi Masyarakat Anti Muwur), Yogi Permana (blogger Kebumen) dan mantan anggota DPRD Kebumen, Heru Budiyanto.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up