Berita

Peringatan Kanigoro Affair: Kapan Saja, Di Mana Saja, Komunisme akan Menganggap Agama Sebagai Candu

Prof Zainuddin: Mereka juga membenci ulama, agamawan dan siapa saja aktivis Islam

Kanigoro.com – Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Cabang Kediri, menggelar peringatan 53 Tahun Peristiwa Teror Kanigoro, yang kemudian dikenal sebagai Kanigoro Affair, Ahad 11 Maret 2018 malam. Awalnya, peringatan akan dilaksanakan pada 13-15 Januari bertepatan dengan peristiwa Kanigoro, tapi baru bisa dilaksanakan pada Ahad malam kemarin.

Dari undangan yang beredar, yang tersebar luas melalui jejaring media sosial sejak Senin – Selasa (26-27 Februari) menyebutkan; peringatan yang digelar Ahad, 11 Maret 2018 mulai pukul 19.00 di Gedung Multiguna Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro, Kediri, peringatan Kanigoro Affair mengajak masyarakat menghadiri diskusi panel dengan pembicara utama Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen dan Prof. Dr. H. Zainuddin Maliki (Ketua Pengurus Wilayah KB-PII Jawa Timur).

Kanigoro Affair, merupakan peristiwa teror yang dilancarkan kader-kader Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terdiri dari Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) terhadap kader Pelajar Islam Indonesia (PII) yang tengah mengikuti pelatihan kader yaitu Mental Training (MT) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren di Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

Peringatan 53 tahun Kanigoro Affair
KB PII dan Masyarakat hadiri acara 53 Tahun Kanigoro Affair di MTSN Kanigoro

Peringatan ini dihadiri perwakilan anggota KB PII seluruh Jatim. PC KB PII Kabupaten Kediri, Ponorogo, Madiun, Nganjuk dan lain lain. Sementara itu PC KB PII Kabupaten Lamongan, setelah mengadakan Pelantikan Pengurus Cabang KB PII di Pendopo Kabupaten Lamongan, 11 Maret 2018 jam 10.00, pengurus dan anggota KB PII meluncur ke Kediri menghadiri Peringatan Kanigoro Affair ini. Ada sejumlah 4 mobil, sekitar 40 orang anggota KB PII.

Dalam orasinya, Mayjen (Pur) Kivlan Zein menyatakan bahwa situasi sekarang ini sudah mengarah pada kondisi seperti saat-saat menjelang peristiwa G 30 S PKI 1965. “Umat Islam perlu waspada dan siap siaga dalam menghadapi apa pun yang terjadi. Jangan sampai kejadian 1965 terulang lagi. Komunis telah melakukan pemberontakan tahun 1926, 1948, dan 1965. Alhamdulillah semua gagal berkat kekompakan umat Islam”.

Mantan Pangkostrad ini menyatakan bahwa para penerus ideologi komunis selalu mencari celah kelengahan umat Islam dengan melakukan aksi dan membangun opini dengan segala cara. Berbagi kaos bersimbol palu arit di beberapa daerah merupakan salah satu indikasi. Mereka juga kini sibuk menebar hoax di mana-mana seolah-olah semua itu bikinan umat Islam.

Ketua KB PII Jatim Prof Zainuddin Maliki: Komunis anggap agama sebagai candu

“Mereka juga aktif mengadu domba umat Islam dan pemerintah, antara umat dan polisi dan antara umat dan TNI. Antara lain dengan hoax-hoax itu. Sayangnya, ada yang percaya hoax-hoax itu. Mereka ingin melumpuhkan semua kekuatan lembaga-lembaga negara. Dengan begitu penerus ideologi akan mudah menyusup ke semua lembaga”, tambahnya

Kivlan Zein menutup orasinya dengan memberi catatan: “Penerus komunisme yang dipelopori Bedjo Untung juga dengan berani dan terbuka menekan penguasa sekarang agar meminta maaf dan sekaligus memberi kompensasi kepada mereka yang dinilainya sebagai keluarga korban 1965”.

Senada dengan Kivlan Zein, Prof. Dr. Zainuddin Maliki menyatakan, “Di mana saja dan kapan pun komunisme itu menganggap agama sebagai candu (opium). Itu doktrin asli dari Karl Marx yang kemudian dikenal dengan Marxisme. Ideologi ini sudah pasti membenci semua yang berbau agama. Mereka juga membenci ulama, agamawan dan siapa saja aktivis Islam”.

Lebih lanjut Prof. Zainuddin, yang dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah Jawa Timur ini menyatakan bahwa mereka juga mudah saja membangun opini dengan memutarbalikkan fakta. Dalam tragedi 1965 sudah jelas-jelas PKI menjadi pelaku kekerasan dan pembunuhan, tapi diciptakan opini dan fakta baru mereka adalah korban. Korban kekerasan oleh negara. Sebab itu negara wajib meminta maaf dan beri kompensasi.

Zainuddin berharap generasi muda mau belajar dari sejarah masa lalu. Sehingga bisa mengambil hikmah dari peristiwa itu. Jangan sampai sejarah berulang hanya karena kebodohan kita. Diingatkan meski negara-negara komunis telah runtuh tidak berarti ideologi ini sudah mati. Ideologi bisa berubah bentuk dengan kemasan baru yang lebih sesuai karakter zamannya. Dan mereka disupport oleh kekuatan jaringan global dengan pendanaan yang luar biasa besar.

(Laporan Sudono Syueb dan Muhammad Halwan)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait