Artikel

Tuan Guru Bajang dan Proses Divestasi Newmont

Oleh Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Penilaian saya, Tuan Guru Bajang Muhammad Zaenul Majdi yang menjabat Gubernur NTB sekarang ini “Clear and Clean” dalam kasus penjualan saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).

Sembari berdoa semoga seluruh tokoh NTB agar dijaga, diberkahi, dan diridhoi oleh Allah SWT. Tokoh NTB seperti Fahri Hamzah, Farouk Muhammad, Tuan Guru Bajang, Nanang Samudera, Kurtubi, H. Wilgo Zainar, Salamuddin Daeng dan M. Hatta Taliwang kita berharap tampil sebagai pemimpin masa depan Indonesia.

Kalau ada yang membantah tulisan ini, dipersilahkan. Karena kita manusia merdeka, bebas menyampaikan pendapat. Tidak ada maksud menhakimi diri sendiri maupun orang lain. Mohon dimaknai secara positif. Sampai sekarang belum ada kesimpulan final, maka kita wajib saling mengoreksi dan mengevaluasi analisa kita masing-masing. Tentu juga, orang lain punya hak yang sama secara akademik dan ilmiah dalam membantah atau menerima suatu kebenaran. tulisan ini juga bagian dari tabayyun terhadap para analis.

Banyak tulisan analis yang mengetahui persis dinamika penjualan saham NNT. Maka, baiknya saya sebut nama saja supaya terbuka, karena tulisan ini bagian dari counter secara intelektual dan sangat terbuka untuk didebat, seperti Bung Poetra Adi Soerjo, Imam S, Salamuddin Daeng dan banyak lagi tokoh-tokoh yang lain.

Tulisan ini untuk membaca dan memaknai Tuan Guru Bajang dan membaca klausul berbagai tulisan dari nama-nama para analis yang disebutkan di atas itu. Bayangkan, sejak Januari hingga Juni 2018 ini, saya terus membaca ulang tulisan para analis, terutama tiga buah tulisan terakhir Bung Imam S, tentang saham PT. NNT dan eksistensi PT. DMB.

Kalau ada yang mengatakan saya bukan ahli dalam pertambangan, saya mengakui. Namun, semua orang punya hak intelektual untuk merespon gejala sosial yang bereskalasi tinggi. Karena persoalan saham ini, bukanlah persoalan pribadi Tuan Guru Bajang, karena kepemilikan saham Pemprov NTB di PT. DMB hanya 40 persen, sedang 40 persen yang lain dimiliki oleh Kabupaten Sumbawa Barat, dan 20 persen sisanya dimiliki oleh Kabupaten Sumbawa, maka Provinsi NTB bukanlah pemegang saham pengendali.

Sebagaimana dimaklumi bahwa keputusan-keputusan perseroan sesuai Undang-Undang PT ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), karenanya konteks kerja sama antara PT. DMB dengan PT. Multi Capital dalam konteks “Bisnis to Bisnis”.

Begitu juga, saya tak perlu bertanya kepada para analis, karena saya kira dari membaca tulisan analis sudah mewakili argumentasi dan cara pandang untuk menilai sesuatu, karena pendapat itu kebenaran relatif, tergantung sudut pandang menilai fakta di lapangan. Menurutku, kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Pendapat analis juga ada benarnya.

Apakah PT. DMB mengalami kerugian ?

Membaca beberapa media dan tulisan para analis, seperti karya tulis Poetra Adi Soerjo, Imam S, Salamuddin Daeng, M. Hatta Taliwang, dan banyak yang lainnya, yang dilansir oleh berbagai pemberitaan media tentang divestasi saham PT. NNT, perlu dijelaskan bahwa pasca divestasi penjualan saham milik Pemprov NTB di PT. NNT melalui entitas anak usahanya PT. DMB, sesungguhnya daerah sangat diuntungkan, karena belum ada perusahaan daerah yang maju dan mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya untuk menjaga divestasi PT. NNT dan sahamnya.

Lebih detail, bahwa penjualan 24 persen saham di PT. NNT dilakukan oleh PT. Multi Daerah Bersaing (anak perusahaan DMB dan Multi Capital dimana DMB memiliki 25 persen saham dan MC memiliki 75 persen saham di PT. MDB. Berdasarkan data dan tulisan yang ada bahwa dalam pembelian 24 persen Saham NNT seluruhnya menjadi tanggung jawab MC sebagai mitra DMB dan DMB sama sekali tidak mengeluarkan dana untuk pembelian saham ini.

Secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut: MDB membeli 24 persen Saham divestasi PT. NNT seharga $867 Juta USD. Seluruh biaya Pembelian saham tersebut ditanggung oleh MC sementara DMB tidak pernah mengeluarkan dana sama sekali. DMB hanya menerima.

Selama kerja sama MC dan DMB membentuk MDB dalam kurun waktu 2009 sampai 2016, perusahaan MDB hanya pernah memperoleh deviden dari NNT sebesar $187 Juta USD.

Sejak tahun 2011, PT. NNT tidak pernah lagi membagi deviden dan kinerja perusahaan makin memburuk. Hal ini disebabkan : 1). Harga tembaga merosot: 2). Perlu tambahan modal untuk melalui beberapa fase: 3). Adanya batasan eksport karena tidak membangun smelter: 4). Kebutuhan dana untuk pembangunan smelter.

Atas persetujuan pemegang saham DMB (Provinsi NTB 40 persen, KSB 40 persen, dan Kab. Sumbawa 20 persen) dan DPRD ketiga Pemda tersebut. Maka untuk menghindari kerugian yang makin besar, 24 persen saham NNT yang dimiliki MDB dijual. Harga penjualan 24 persen Saham NNT $400 Juta USD.

Terkait penjualan tersebut DMB mendapat pengganti investasi sebesar $54 Juta USD. Mengapa DMB hanya mendapat $54 Juta USD. Harus dipahami bahwa MDB membeli 24 persen saham divestasi PT. NNT seharga $867 Juta USD. Seluruh biaya pembelian saham tersebut ditanggung oleh MC sementara DMB tidak mengeluarkan dana sama sekali.

Selama kerja sama MC dan DMB membentuk MDB dalam kurun waktu 2009 sampai 2016 bahwa MDB hanya pernah memperoleh deviden dari NNT sebesar $187 Juta USD. Sedangkan nilai penjualan 24 persen saham NNT hanya $400 Juta USD dengan demikian MDB masih menanggung kerugian besar.

Perhitungan detailnya seperti ini, Harga pembelian $ 867 Juta USD sedangkan Deviden yang pernah diterima $ 187 Juta USD, berarti hasilnya sebesar: $680 Juta USD. Sementara, harga penjualan saham itu sebesar $400 Juta USD. Sehingga menyebabkan kerugian sebesar $ 280 Juta USD.

Secara bisnis, DMB malah harus menanggung kerugian sebesar 25% x USD 280 juta. Namun justru, selama kerja sama dengan MC, DMB telah diuntungkan, berupa: 1). $38 juta (berupa CSR PT. NNT kepada Pemda), 2). $ 35.6 juta (Deviden/Dan Advance Deviden dari MC/MDB) dan 3). $54 juta (pengganti ivestasi). Sehingga bisa dihitung bahwa keuntungan daerah/PT. DMB, capai $127 juta (keuntungan daerah/DMB).

Dengan demikian tidak ada kerugian yang di alami DMB, justru DMB sangat diuntungkan karena DMB -yang didirikan dengan penyertaan modal Rp 500 juta oleh Pemerintah Provinsi NTB Rp 200 juta, Kab. Sumbawa Barat Rp 200 juta dan Kab. Sumbawa Rp 100 juta- sama sekali tidak mengeluarkan dana dan telah mendapat manfaat sebesar $127 Juta.

Dengan demikian saya berkesimpulan bahwa kerjasama antar DMB dan MC dalam konteks bisnis to bisnis serta Tuan Guru Bajang clear and Clean, bersih dari tindak pidana korupsi. Jadi sebenarnya, tak ada yang perlu dipersoalkan. Yang diperlukan oleh PT. DMB saat ini adalah dukungan dan masukan seluruh stakeholders  apa yang akan dilakukan berkaitan dengan dana pengganti investasi yang ada di DMB agar memiliki manfaat jangka panjang.

PT. DMB sudah sangat berhasil dalam proses pengembalian dana penjualan saham PT. NNT itu, bayangkan keberhasilannya dari 0 rupiah hingga bisa mengambil keuntungan ke angka triliyunan. Ini bisa dikatakan menakjubkan dan luar biasa. Oleh karena itu, mari kita wujudkan kesejahteraan rakyat NTB dengan mendukung sepenuhnya PT. DMB sebagai perusahaan mandiri ke depan. ()

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya