ArtikelFeatured

Trade War dan Cyber War: Bentuk Perang Wilayah Ekonomi Digital

Oleh Jusman Syafii Djamal 

Banyak ahli kini sedang berdiskusi untuk memahami mengapa Amerika melakukan perang dagang dengan Tiongkok. Ada ahli strategi yang berpendapat ini karena Amerika tidak ingin disaingi. Tidak mau ada dua super power. Matahari kembar harus hilang. Teori Thucydides Trap Foreign Policy berkembang. Ada ahli yang mengambil perspektif tentang ancaman hegemoni Tiongkok yang ingin menguasai South China Sea dengan program One Belt One Road nya.

Dan banyak teori lainnya. Meski puzzle atau teka teki silang persoalan masih banyak kotak kosongnya. Sebab perang dagang ini sendiri pada akhirnya tidak melahirkan pemenang. Peristiwa ini seperti koboi yang menembak kakinya sendiri.

Semua terkejut kok ada koboi “free trade” dan “globalism” seolah menembak kakinya sendiri?

Salah satu skenario penyebab yang membuat saya menulis adalah rasa ingin tahu sebagai seorang insinyur atau teknolog yang mengamati kecenderungan tentang besarnya pengaruh Tiongkok dalam mata rantai pasokan global. Terutama sebagai pemasok komponen Industri berbasis Information Communication atau ICT.

Jangan jangan kue bisnis dalam ICT ini yang jadi soal ? Trade War ini hanya merupakan perjalanan langkah kuda Donald Trump untuk membentengi Industri Amerika dari ketergantungan pasokan supply chain Tiongkok ?

Evolusi teknologi ponsel mengklasifikasikan berbagai teknologi ke dalam “generasi yang berbeda”. Generasi pertama dari ponsel terfokus murni pada layanan suara dan merupakan layanan analog bukan digital; 2G masih fokus pada suara, tetapi beralih ke standar digital; 3G memperkenalkan layanan data, memperluas fungsi di luar suara dan termasuk multimedia, SMS, dan beberapa akses internet terbatas.

Tidak sampai generasi 4G berfungsi penuh, kita menyaksikan bagaimana spesifikasi berbasis Internet Protocol (IP) secara terintegrasi muncul. Gelombang teknologi generasi baru telah datang dalam siklus sekitar satu dasawarsa. Suara seluler 1G pada 1980-an, 2G pada 1990-an, data dasar 3G pada tahun 2000-an, dan data 4G LTE pada tahun 2010an.

Teknologi 5G tidak hanya membawa kemampuan unggahan dan unduhan yang lebih cepat, tetapi menghadirkan jaringan yang jauh lebih fleksibel yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan berbagai integrasi vertikal di seluruh sektor perekonomian. Teknologi 5 G akan membawa arsitektur perekonomian baru.

Sebuah laporan oleh Accenture memperkirakan 5G akan memerlukan investasi infrastruktur dari operator telekomunikasi AS sekitar $ 275 miliar, menyumbangkan 3 juta lapangan pekerjaan dan $ 500 miliar dalam pertumbuhan PDB ke ekonomi AS.

Manfaat lain yang mengalir karena bisnis berikutnya datang dari aplikasi “kota pintar”. Konektivitas 5G, dikombinasikan dengan analisis data, dapat diterapkan pada “manajemen lalu lintas kendaraan dan jaringan listrik yang mampu menghasilkan $ 160 miliar dalam manfaat dan penghematan penggunaan energi, kemacetan lalu lintas dan biaya bahan bakar.”

Teknologi 5G dirancang untuk memenuhi tiga jenis kasus penggunaan umum: peningkatan broadband seluler, koneksi Internet of Things (IoT) yang masif, dengan layanan “high-reliability dan low-latency” untuk menghubungkan semua gawai yang dimiliki tiap orang di pojok kota. Tujuannya adalah membangun jaringan komunikasi yang fleksibel yang dapat beradaptasi dengan berbagai macam kasus penggunaan di sejumlah industri berbeda. Peningkatan broadband seluler diukur dari kecepatan multi-gigabit per detik informasi yang ditransfer, latensi serendah 1 milisecond, dan pengalaman pengguna yang konsisten, aman dan nyaman.

Semua negara yang ingin memanfaatkan kemajuan revolusi industri ke 4 memerlukan alat peralatan utama dayanan IoT yang masif dalam 5G. Tak terkecuali Indonesia.

Internet of Things diharapkan dapat memberikan kontribusi hingga $ 11 triliun dalam nilai per tahun secara global pada tahun 2025. Prediksi para ahli memperkirakan koneksi IoT seluler global akan meningkat dari 520 juta pada tahun 2016, menjadi 2,5 miliar pada 2025.

Perusahaan dapat menggunakan Internet of Things untuk menjadi lebih efisien, misalnya dengan mengurangi downtime di pabrik. Selain itu teknologi 5G juga akan mempercepat munculnya entrepreneur muda yang memiliki mimpi berbasis Konsepsi Sharing Economy dan Digital Economy. Mereka dengan kecanggihan algoritma, processor dalam setiap gawai, sensor, dan fleksibilitas untuk membangun “peer to peer relationship”.

Semua trend ini akan meruntuhkan arsitektur dan lanskap bisnis masa lalu yang berbasis pada hubungan institusi dengan personal. Akan terjadi perubahan signifikan ke jaringan inti setiap sektor perekonomian dan berpotensi munculnya penyebaran ratusan ribu sel ekonomi kecil, yang tidak mudah diditeksi dan diregulate.

Contoh awal sudah mulai terasa bagaimana semua pejabat negara pusing tujuh keliling untuk mengatur menjamurnya bisnis online seperti Amazon, Google dan facebook serta bisnis aplikasi yang memanfaatkan investasi dan asset orang lain seperti Arnbnb dan Uber. Ninja bergentayangan.

Kini Ninja yang merupakan akronim dari Kaum “non income”, “non job”, dan “non asset” atau yang tak punya pendapatan tetap, tak punya jabatan dan pekerjaan tetap serta tak punya asset dapat memanfaatkan pekerjaan dan tupoksi serta asset orang lain untuk melakukan bisnis online. Bebas Aturan, Bebas lintas batas Negara, Bebas pajak.

Jika lanskap itu yang terjadi bukan tidak mungkin Amerika Serikat akan jatuh ke pangkuan “mata rantai” pasokan teknologi dan komponen dari Tiongkok dan negara di Asia lainnya seperti Indonesia, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Pergeseran pusat gravitasi inovasi dan kemajuan teknologi ICT untuk mewujudkan Revolusi Industri 4.0, ini akan terjadi lebih dahsyat di masa depan. Amerika tidak ingin kecolongan dan melakukan “premptive strike”. Mumpung masih dapat dikelola resiko, masa depan industri Amerika harus diproteksi. Intinya adalah doktrin Donald Trump: ” American First”. Yang lain nomor dua.

 

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up