Artikel

TKI dan Permasalahannya di Luar Negeri (Bagian 1)

Oleh Eko S Dananjaya

Bicara TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau sekarang diperkenalkan dengan istilah Pekerja Migran Indonesia (PMI) seakan tidak ada habisnya. Yang disorot oleh khalayak adalah karena TKI di luar negeri “seakan banyak permasalahannya”. Bahkan di era SBY TKI khususnya di Saudi dan Malaysia dibekukan pengirimannya.

Saya ingin membagi pengalaman tentang dunia per-TKI-an, karena sedikit banyak pernah menangani dan memahami bagaimana proses pemberangkatan TKI, penempatan TKI sampai kepulangannya hingga akhir tujuan di kampung halaman. Pengalaman ini banyak diceritakan langsung oleh para TKI dari seluruh penjuru dunia yang baru menyelesaikan tugas sucinya sebagai pembantu rumah tangga atau penjaga orang lanjut usia.

Tidak heran saya mendengar pemerintah Saudi mengeksekusi TKI bernama Tuti Tursilawati (29-10-18). Tuti meninggal dunia karena dieksekusi oleh pihak pemerintah Saudi, Tuti dituduh membunuh secara berencana kepada majikannya. Kasus-kasus seperti seperti Tuti banyak sekali terjadi, tapi walhasil Kedubes atau Konjen kita di Saudi banyak tak berdaya. Padahal secara diplomatik, Kedubes merupakan wakil pemerintah dan rakyat Indonesia di luar negeri. Kedubes adalah ujung tombak pertama dalam perlindungan warga negaranya. Sulit memang untuk tidak mempersalahkan Kedubes Indonesia di Saudi dan juga kepada TKI yang berada di sana.

Menurut data di Kemnaker atau juga informasi yang penulis dapat langsung dari TKI senior yang lebih dari 30 tahun bermukim di Saudi, di era 80-an, kasus TKI hampir bisa dikatakan 0,1 persen. Tingkat keberhasilan dan kesuksesan TKI mendekati sempurna. Meski terdapat keterbatasan alat komunikasi, informasi, tapi justru tahun-tahun itu tidak mendatangkan problem yang terlalu serius.

Meski hanya berbekal niat untuk berangkat ke Saudi tanpa bekal bahasa yang baik tetapi para TKI dapat menyesuaikan keadaan dan tak ada timbul atau konflik dengan majikan. Bahkan, TKI yang pada waktu berangkat dari tanah air tidak bisa berbahasa Arab setelah hidup 3 tahun di tanah suci biasanya bisa berbahasa Arab. Ini artinya ada semacam simbiose mutualisme antara majikan dan pembantunya. Majikan dapat memperlakukan pembantu tidak sebagai budak. Bahkan jarang kita dengar majikan tidak memberi gaji atau makan kepada TKI. Suasana itu dapat kita lihat di era Soedomo saat menjabat Menaker .

Era 90 an kesini, persoalan TKI khususnya di Saudi seakan tidak pernah berhenti. Ini disebabkan bukan saja karena ulah majikan di Saudi, tapi karena dari para TKI itu sendiri. Misal, TKI punya masalah karena cuaca dan sakit, TKI melakukan kesalahan kerja karena dianggap kurang profesional. Sebagai contoh, TKI diminta membersihkan ruangan kerja tapi malah membersihkan kendaraan. Miskomunikasi yang berulang-ulang mengakibatkan kemarahan pada majikan.

Akumulasi ketidakpercayaan itu berakibat tidak pada hubungan baik antara kedua belah pihak. Hal ini berakibat pada ketidakstabilan hubungan kerja antara majikan dengan TKI. Jika TKI terancam akan keadilannya tak ada yang bisa membela, sebab tidak ada saksi yang menguatkan pada TKI, dan posisi TKI sangat lemah. Majikan bisa membabi buta apa saja dengan perbuatan tercela. Bahkan kita mendengar banyak cerita majikan yang kurang ajar ingin mengajak perbuatan zina tapi ditolak oleh TKI, lantas sang TKI difitnah majikan dan diadukan ke polisi dengan alasan mencuri. Disinilah letak kelemahan hukum oleh TKI. Tentu saja pihak keamanan Saudi akan lebih berpihak kepada warga negaranya ketimbang TKI. Maka tak sedikit bahkan ribuan TKI kita yang mendekam di tarhil atau rumah tahanan.

Jika sudah begini siapa yang disalahkan?
Menurut saya tak ada yang disalahkan. Karena pemerintah Saudi juga sudah lelah dan pegel menghadapi para TKI ini. Peristiwa lain, khusunya para perempuan dari Madura yang pernah menjadi TKI di Saudi, banyak yang tidak mau pulang ke Indonesia. Karena orang-orang Madura di sana sudah banyak jumlahnya dan ada penampungan bagi para pekerja dari Madura. Orang Madura di Saudi banyak yang sukses, mereka mempunyai komunitas yang kuat. Dari pemilik toko, penginapan, hingga penampungan bagi TKI kaburan atau buron.

TKI lebih suka part time karena gajinya lebih besar dibanding kerja di rumahan. Hanya saja resiko yang harus dihadapi cukup besar. TKI yang tidak memiliki paspor dan dukumen kerja jumlahnya banyak. Hitungannya bisa ribuan. Mereka lebih senang bekerja dengan kucing-kucingan, meski demikian ada yang lebih lima tahun TKI hidup seperti itu. Jika memang sudah bosan jadi TKI maka ia akan menyerahkan diri atau sampai ketangkap petugas dan dipulangkan secara gratis ke Indonesia.

Ada juga modus TKI berangkat ke Saudi dengan visa umrah, selepas umrah di Saudi, mereka tidak ikut rombongan pulang ke tanah air tapi malah bekerja di sana. Inilah yang kemudian merepotkan pemerintah Indonesia maupun pemerintah Saudi. Seratus TKI adalah seratus akal yang harus disikapi, begitu juga seratus TKI adalah seratus masalah yang harus kita tangani secara dewasa dan bijak.

(Bersambung)

*Penulis Pemerhati Nasib TKI,

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait